Oct 10, 2026
entertainment

Ketika Jirayut Mengenakan Merah dan Menang Bersama Indonesia

Di sebuah kamar di kawasan Jakarta Selatan, larut malam itu, seorang pemuda asal Thailand berdiri di depan lemari pakaiannya dengan tangan sedikit gemetar. Ia meraih sehelai jersey berwarna merah, buk...

Ketika Jirayut Mengenakan Merah dan Menang Bersama Indonesia

Di sebuah kamar di kawasan Jakarta Selatan, larut malam itu, seorang pemuda asal Thailand berdiri di depan lemari pakaiannya dengan tangan sedikit gemetar. Ia meraih sehelai jersey berwarna merah, bukan merah kebangsaannya, melainkan merah milik negeri yang telah menerimanya sebagai bagian dari keluarga. Di layar televisi, sorak penonton memenuhi stadion, dan peluit panjang wasit menandai berakhirnya perjalanan panjang FIFA ASEAN Cup 2026. Indonesia menang. Dan Jirayut, penyanyi yang namanya dikenal luas di tanah air, buru-buru mengenakan jersey Timnas itu, seolah ingin memastikan bahwa malam bersejarah ini juga miliknya.

"Saya deg-degan banget, jujur," ujarnya sambil tertawa kecil, mengingat momen-momen terakhir pertandingan. "Sepanjang laga saya nggak bisa duduk diam. Tiap serangan, tiap penyelamatan, rasanya seperti jantung mau copot. Saya tuh cuma bisa berdoa, 'tolong menang, tolong menang, saya nggak mau diusir.'"

Kalimat terakhir itu diucapkannya dengan nada bercanda khas dirinya. Namun di balik candaan itu, tersimpan perjalanan panjang seorang anak rantau yang jatuh cinta pada negeri yang bukan tempat kelahirannya.

Jatuh Cinta pada Negeri yang Bukan Kampung Halaman

Jirayut tiba di Indonesia beberapa tahun lalu sebagai peserta ajang pencarian bakat. Sejak awal, ia bukan sekadar pesaing yang ingin menang. Ia adalah pendatang yang mencoba memahami bahasa, budaya, dan kebiasaan baru yang jauh berbeda dari kampung halamannya di Thailand. Malam-malam awal, ia mengaku sering merasa kesepian. Di sudut kamar kecilnya, ia menuliskan kata-kata baru dalam buku catatan, membaca ulang berkali-kali, lalu tidur dengan kamus di samping bantal. Kota Jakarta saat itu terasa seperti lautan luas yang tak bertepi.

"Waktu awal datang, saya tuh cuma bisa bilang 'terima kasih' dan 'apa kabar'. Selebihnya saya cuma senyum. Saya takut banget salah ngomong," kenangnya, matanya menerawang. "Tapi orang Indonesia itu sabar banget ngajarin saya. Mereka ketawa waktu saya salah, tapi ketawanya ketawa yang hangat. Bukan ketawa yang ngejek. Dari situ saya mulai merasa ini rumah."

Perlahan-lahan, ia bukan hanya belajar bahasa. Ia belajar bangun pagi untuk kerja bakti, belajar menyantap makanan pedas sampai berkeringat, dan belajar mendukung Timnas Merah Putih seperti warga lokal. Malam-malam menonton bola bersama tetangga kompleks menjadi ritual yang ia rindukan. Di sinilah, menurutnya, kecintaan pada Indonesia tumbuh bukan karena panggung hiburan, melainkan karena pergaulan sederhana yang menghangatkan hati.

Malam Penuh Air Mata dan Jersey Merah

Ketika wasit meniup peluit akhir, Jirayut mengaku langsung terdiam. Sekitar dua detik ia membeku, lalu melompat dari sofa, berlari kecil ke lemari, dan mengenakan jersey merah yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari. Ia bahkan sempat merekam sebuah video pendek untuk membagikan kebahagiaan itu kepada pengikutnya. Di dalam video tersebut, suaranya serak. Bukan karena teriakan, melainkan karena air mata yang tak bisa ia bendung.

"Saya nangis, ya. Nangis bahagia. Saya ingat dulu waktu saya belum siapa-siapa, banyak orang yang bilang 'ah, dia orang Thailand, buat apa sok mendukung Indonesia.' Sekarang, saya nggak perlu jawab apa-apa. Kemenangan ini yang jawab," ucapnya dengan mata berkaca-kaca. "Saya pengin satu hari nanti lihat langsung tim ini juara dari tribun, nyanyi Indonesia Raya bareng-bareng."

Ia bercerita bahwa sebelum pertandingan, ia menyiapkan kopi hitam, mematikan ponsel, dan mengunci kamar agar tak ada yang mengganggu. Ini bukan pertandingan biasa. Ini tentang identitas yang ia pilih sendiri, tentang rasa memiliki yang tumbuh dari perjalanan panjang mencari tempat berpijak.

Bangkit dari Keraguan, Menyentuh Banyak Hati

Bagi penggemarnya, momen Jirayut mengenakan jersey merah bukan sekadar hiburan. Banyak yang mengaku tersentuh karena melihat sosok yang dulu tertatih-tatih berbahasa Indonesia kini mampu menyuarakan kebanggaan secara tulus. Seorang penggemar yang menonton siaran langsungnya mengaku ikut menangis. "Saya lihat dia lebih Indonesia dari saya yang asli sini," tulis salah satu warganet.

Kisah Jirayut memang sederhana. Seorang pendatang yang jatuh cinta pada negeri tempat ia mencari mimpi. Namun di dalam kesederhanaan itu, ada pesan yang menyentuh tentang bagaimana rasa kebangsaan tidak melulu soal tempat kelahiran. Ia bisa tumbuh dari rasa diterima, dari hal-hal kecil seperti sapaan hangat tetangga, tawa bersama di warung kopi, dan malam-malam panjang menonton bola sambil berteriak bersama.

"Kalau ditanya apa arti Indonesia buat saya, saya cuma bisa bilang ini rumah kedua saya. Dan malam ini, rumah saya menang. Saya cuma bisa bangga, sangat bangga," tutupnya dengan senyum yang lebar.

Kemenangan di lapangan boleh dirayakan dengan trofi dan pesta kembang api. Namun di kamar kecil seorang pemuda Thailand yang kini dikenal sebagai Jirayut, kemenangan itu menjelma dalam wujud paling sederhana: sehelai jersey merah yang ia kenakan dengan bangga, dan air mata bahagia yang jatuh tanpa ia tahan. Malam itu, ia tidak perlu diusir. Malam itu, ia menang bersama Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User