Aug 25, 2026
entertainment

Ketika Jejak BTS Menghilang dari Grammy, Kenangan Itu Tetap Tinggal

Di kamar kos berukuran tiga kali empat meter di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Nayla membuka laptopnya seperti malam-malam sebelumnya. Sudah tiga tahun ia menyimpan satu tautan di perambannya: penamp...

Ketika Jejak BTS Menghilang dari Grammy, Kenangan Itu Tetap Tinggal

Di kamar kos berukuran tiga kali empat meter di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Nayla membuka laptopnya seperti malam-malam sebelumnya. Sudah tiga tahun ia menyimpan satu tautan di perambannya: penampilan BTS membawakan “Dynamite” di Grammy Awards 2021. Namun malam itu, layar yang menyapa bukan lagi tujuh pemuda berjas rapi yang bernyanyi di bawah langit Seoul. Yang tersisa hanya halaman kosong. Sunyi.

“Saya kira sinyalnya yang jelek. Saya muat ulang berkali-kali, tetap tidak ada,” ujarnya lirih. Bagi Nayla, video itu bukan sekadar rekaman. Itu adalah pengingat bahwa mimpi anak-anak Asia pernah berdiri tegak di panggung musik paling bergengsi di dunia.

Panggung yang Pernah Menyimpan Mimpi

Tahun 2021, dunia masih berjuang keluar dari pandemi. Dari sebuah atap gedung di Seoul, dengan lampu kota berkelip di kejauhan, BTS mengisahkan harapan lewat “Dynamite”. Tidak ada penonton yang bertepuk tangan langsung, tetapi jutaan pasang mata di seluruh dunia menahan napas di depan layar masing-masing. Banyak yang menangis malam itu — bukan karena sedih, melainkan karena bangga.

Setahun berselang, perjalanan itu berlanjut ke Las Vegas. Di hadapan para musisi legendaris, tujuh pria asal Korea Selatan menampilkan “Butter” dengan koreografi ala agen rahasia: jas gelap, langkah presisi, dan senyum penuh percaya diri. Tepuk tangan panjang menggema di ruangan. Momen mengharukan itu menjadi bukti bahwa bahasa tidak pernah menjadi batas bagi musik.

Bagi banyak penggemar, dua penampilan itu lebih dari sekadar pertunjukan. Keduanya adalah babak dalam kisah panjang sekelompok anak muda dari agensi kecil yang berjuang menembus industri yang selama puluhan tahun nyaris mustahil dimasuki musisi Asia.

Hilang Tanpa Sepatah Kata

Kini, kedua rekaman bersejarah tersebut mendadak tak lagi bisa diakses di portal resmi Recording Academy. Video “Dynamite” dari Grammy 2021 dan “Butter” dari Grammy 2022 menghilang nyaris bersamaan, tanpa pengumuman, tanpa penjelasan resmi yang memadai.

Kabar itu menyebar cepat di kalangan ARMY, sebutan bagi penggemar BTS. Linimasa dipenuhi tangkapan layar halaman kosong dan pertanyaan yang sama: ke mana perginya jejak itu? Sebagian marah, sebagian lain hanya bisa terdiam.

“Rasanya seperti ada bagian dari masa muda saya yang ikut terhapus,” tulis seorang penggemar. Kalimat sederhana itu disukai ribuan orang, seolah mewakili perasaan yang sulit diucapkan banyak orang.

Kabar dari Balik Layar

Di balik hilangnya kedua video itu, beredar kabar yang mengaitkan peristiwa ini dengan keputusan pihak BTS yang disebut menolak kategori baru yang ditawarkan. Hingga kini belum ada pernyataan resmi yang membenarkan atau membantahnya, tetapi dugaan tersebut cukup untuk memicu perdebatan panjang tentang bagaimana sebuah institusi besar memperlakukan seniman yang pernah mengisi panggungnya.

Bagi yang mengikuti perjalanan BTS sejak awal, situasi ini terasa seperti deja vu. Bertahun-tahun mereka berjuang di pinggiran, dipandang sebelah mata, sebelum akhirnya berdiri di panggung yang sama dengan para idolanya. Mereka tidak pernah meminta dikasihani; mereka hanya meminta dihargai sebagaimana mestinya.

“Mereka bisa menghapus videonya, tapi tidak dengan air mata kami saat menontonnya dulu,” kata Nayla, kali ini dengan suara lebih tegas. Ada kebanggaan di sana, jenis kebanggaan yang tidak bergantung pada situs mana pun.

Kenangan yang Tak Bisa Dihapus Siapa Pun

Internet boleh kehilangan dua tautan, tetapi ingatan kolektif jutaan orang tidak bekerja seperti itu. Rekaman-rekaman lama masih tersimpan di galeri ponsel, di arsip penggemar, di kepala mereka yang dulu begadang demi menyaksikan siaran langsung dari belahan dunia yang jauh.

Kisah BTS di Grammy — dari nominasi, penampilan, hingga malam-malam penuh penantian — sudah terlanjur menjadi bagian dari sejarah musik populer. Ia menjadi inspirasi bagi anak-anak muda di Manila, Jakarta, hingga Lagos, bahwa panggung terbesar di dunia tidak lagi hanya milik segelintir orang.

Malam itu, Nayla akhirnya menutup laptopnya. Ia bersenandung pelan, bait demi bait lagu yang dulu membuatnya menangis bahagia. Videonya mungkin telah pergi, tetapi lagunya tidak. Dan selama masih ada yang menyanyikannya, perjalanan itu belum benar-benar berakhir.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User