Oct 12, 2026
entertainment

Ketika Diplo Terpukau oleh Denyut Koplo dari Kendari

Di sudut panggung yang berpendar lampu warna-warni itu, seorang pria bertubuh tegap berdiri di balik meja putar. Keringat menetes di pelipisnya, tetapi jemarinya tetap lincah mengolah setiap knob dan ...

Ketika Diplo Terpukau oleh Denyut Koplo dari Kendari

Di sudut panggung yang berpendar lampu warna-warni itu, seorang pria bertubuh tegap berdiri di balik meja putar. Keringat menetes di pelipisnya, tetapi jemarinya tetap lincah mengolah setiap knob dan fader. Penonton yang memadati sebuah klub malam di Bali malam itu tidak menyangka akan menyaksikan sesuatu yang jarang terjadi: seorang DJ koplo asal Kendari, Sulawesi Tenggara, beradu energi dengan salah satu nama terbesar dalam industri musik elektronik dunia, Diplo.

Habib Gunjat, demikian ia dikenal, bukanlah nama yang muncul di daftar lineup festival internasional. Ia tumbuh dari panggung-panggung kecil di Kendari, mengiringi hajatan warga, pesta pernikahan, hingga acara kampung. Namun malam itu, di hadapan Diplo, ia membuktikan bahwa dentuman koplo bukan sekadar musik pinggiran. Ia adalah bahasa universal yang mampu membuat siapa pun bergoyang, termasuk produser Grammy Award asal Amerika Serikat itu.

Dari Panggung Kampung ke Sorotan Dunia

Perjalanan Habib Gunjat tidak dibangun dalam semalam. Ia mengisahkan bagaimana ia mulai belajar mengolah lagu dari laptop pinjaman, mengulik beat koplo yang ia dengar dari warung kopi dan radio lokal. "Saya tidak pernah membayangkan bisa berdiri sedekat ini dengan orang yang saya dengar di YouTube," ujarnya dengan mata berkaca-kaca, dikutip dari perbincangan seusai acara. "Yang saya tahu dulu cuma bagaimana membuat orang di kampung saya menari sampai subuh."

Di balik gemerlap lampu dan sorotan kamera, ada cerita sederhana tentang kegigihan. Habib sempat ditertawakan ketika menyebut koplo sebagai musik yang bisa mendunia. Baginya, koplo adalah denyut nadi rakyat kecil โ€” musik yang lahir dari kegembiraan sederhana, dari sound system yang disusun di atas bak truk, dari tawa anak-anak yang menari tanpa beban.

"Saya tidak sedang membawa koplo ke dunia. Saya sedang membawa dunia ke rumah saya," tutur Habib, sebuah kalimat yang sontak disambut tepuk tangan panjang.

Momen Ketika Dua Dunia Bertemu

Momen mengharukan terjadi ketika Diplo, yang dikenal lewat proyek Major Lazer dan kolaborasinya dengan berbagai bintang global, mengangkat tangan dan memberi isyarat agar penonton memberi ruang lebih bagi Habib. Sang DJ internasional itu terlihat terkesima, sesekali menganggukkan kepala mengikuti transisi drop yang dimainkan Habib. Keduanya kemudian berkolaborasi, memadukan bass elektronik dengan kendang koplo yang menghentak.

"Ini gila. Energi ini nyata," kata Diplo singkat sambil tersenyum lebar, sebuah pengakuan yang bagi banyak orang di ruangan itu terasa seperti validasi atas musik yang selama ini dipandang sebelah mata.

Bagi Habib, kolaborasi itu bukan sekadar pencapaian pribadi. Ia berharap momen tersebut menjadi pintu bagi musisi koplo lain di daerah untuk bermimpi lebih besar. "Kalau saya bisa, teman-teman di Kendari juga bisa. Jangan takut musik kita dianggap kampungan. Justru dari situ kita punya warna yang tidak dimiliki orang lain," pesannya.

Inspirasi yang Menyala dari Timur

Di balik layar, tim produksi mengaku awalnya ragu mempertemukan dua dunia musik yang berbeda. Namun keraguan itu sirna ketika latihan pertama berlangsung. Alih-alih terasa janggal, perpaduan koplo dan elektronik justru melahirkan tekstur baru yang segar. Penonton yang semula datang untuk melihat bintang internasional justru pulang membawa nama Habib Gunjat di lidah mereka.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa musik tidak mengenal sekat geografis. Dari kota kecil di ujung timur Sulawesi, seorang anak muda berjuang mengangkat warisan bunyi kampungnya ke panggung yang jauh dari rumah. Air mata, kerja keras, dan mimpi yang tak pernah padam menjadi bahan bakar perjalanannya.

Malam itu, ketika lampu mulai diredupkan dan penonton perlahan meninggalkan ruangan, Habib masih berdiri di balik mejanya. Ia menatap layar laptop, tersenyum tipis, lalu berbisik pada dirinya sendiri, "Ini baru awal." Sebuah kalimat sederhana, tetapi menyimpan harapan besar bagi masa depan musik koplo Indonesia di panggung dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User