Oct 13, 2026
entertainment

Ketika Diplo Terpukau DJ Koplo dari Kendari

Di sebuah panggung di Bali, dentum bass bertemu dengan tabuhan kendang. Diplo, DJ kelas dunia asal Amerika Serikat, berdiri di balik meja konsolnya. Matanya tertuju pada seorang pemuda asal Kendari ya...

Ketika Diplo Terpukau DJ Koplo dari Kendari

Di sebuah panggung di Bali, dentum bass bertemu dengan tabuhan kendang. Diplo, DJ kelas dunia asal Amerika Serikat, berdiri di balik meja konsolnya. Matanya tertuju pada seorang pemuda asal Kendari yang tengah asyik mengolah lagu-lagu koplo menjadi gebrakan baru. Malam itu, dua dunia yang jauh berbeda bertemu dalam satu momen yang menggetarkan.

Habib Gunjat, nama yang mungkin belum banyak dikenal di panggung internasional, justru membuat Diplo terkesima. Seorang DJ yang tumbuh dari kota kecil di Sulawesi Tenggara itu membawa warna musik yang jarang terdengar di festival elektronik global. Koplo, yang bagi sebagian orang dianggap musik pinggiran, di tangannya menjelma menjadi sesuatu yang liar, jujur, dan penuh energi.

Dari Kendari ke Panggung Dunia

Habib mengisahkan perjalanannya bukan dengan bangga berlebihan, melainkan dengan kesederhanaan yang menyentuh. Ia bercerita tentang masa-masa awal ketika hanya bermodal laptop bekas dan speaker sederhana. Di sudut kamar berukuran kecil, ia mulai mengulik remix lagu-lagu koplo kesukaannya. Tidak ada studio megah, tidak ada mentor terkenal. Semua berawal dari kegemaran dan keberanian untuk mencoba.

"Saya tidak pernah membayangkan bisa berdiri di dekat Diplo," ujarnya lirih, seperti dikutip dari suasana penampilan tersebut. "Yang saya tahu, saya hanya ingin orang-orang mendengar musik dari kampung saya."

Kata-kata itu sederhana, tetapi menyimpan luka dan perjuangan panjang. Bertahun-tahun ia dianggap remeh karena memilih genre yang tidak dianggap prestise. Namun, ia tidak berhenti. Setiap penolakan justru menjadi bahan bakar untuk terus berlatih dan menciptakan identitas bunyinya sendiri.

Momen Ketika Dua Dunia Bertemu

Malam di Bali itu menjadi titik balik yang mengharukan. Ketika Habib mulai memutar transisi lagu, Diplo yang awalnya hanya mengangguk-angguk tiba-tiba menoleh. Ada ekspresi kaget bercampur kagum di wajahnya. Ia mendekat, memperhatikan setiap gerakan tangan Habib yang lincah mengatur tempo dan efek suara.

Tak butuh waktu lama, Diplo ikut mengangkat tangan. Ia menambahkan lapisan beat elektronik di atas tabuhan koplo yang sedang mengalun. Apa yang terjadi kemudian adalah kolaborasi spontan yang jarang tercipta di atas panggung. Penonton yang semula hanya bergoyang kecil berubah menjadi lautan manusia yang melompat serempak. Teriakan dan tepuk tangan memenuhi udara Bali yang hangat.

"Ini gila. Saya suka energinya," kata Diplo singkat, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Pujian itu bukan basa-basi. Seorang produser yang telah bekerja dengan nama-nama besar dunia tentu tidak mudah terkesan. Namun, koplo dari Kendari berhasil menembus dinding ekspektasinya.

Air Mata di Balik Selebrasi

Di balik sorotan lampu dan tepuk tangan, ada kisah yang lebih dalam. Rekan-rekan Habib mengaku melihat matanya berkaca-kaca setelah penampilan usai. Ia langsung memeluk keluarganya yang hadir di antara penonton. "Ini untuk orang tua saya," bisiknya sambil menahan haru. "Mereka yang selalu percaya meski banyak yang meragukan."

Bagi banyak orang, keberhasilan Habib bukan sekadar panggung besar atau pengakuan musisi internasional. Ia menjadi simbol bahwa musik daerah tidak perlu malu bersanding dengan genre apa pun. Koplo yang lahir dari panggung rakyat kini memiliki tempat di percakapan musik global. Perjalanan Habib membuktikan bahwa bunyi yang tumbuh dari akar lokal bisa berbicara dalam bahasa yang universal.

Di akhir malam itu, Diplo sempat menyempatkan diri berbincang singkat dengan Habib. Tidak banyak yang tahu isi percakapan mereka, tetapi senyum lebar di wajah pemuda Kendari itu menjadi petunjuk. Ada mimpi yang telah ia raih, tetapi juga mimpi-mimpi baru yang mulai tumbuh. Ia tahu perjalanan masih panjang. Namun, malam di Bali menjadi bukti bahwa mimpi yang sederhana, jika diteguhkan dengan kerja keras, bisa mengguncang panggung dunia.

Kisah Habib Gunjat bukan hanya cerita tentang musik. Ia adalah cermin dari ribuan anak daerah yang berjuang tanpa sorotan. Mereka bekerja dalam sunyi, menyimpan rasa, dan suatu hari nanti, ketika dunia menoleh, mereka hanya bisa berkata, "Akhirnya, suara kami didengar."

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User