Di sebuah teras rumah berukuran tak lebih luas dari garasi mobil, seorang perempuan tua duduk di kursi rotan yang sudah memudar warnanya. Namanya Nurhayati, tetapi tetangga di kampung itu lebih akrab menyapanya Nin Enuy. Tanggal lahir yang tercatat di kartu identitasnya adalah 21 Oktober 1945 — hari-hari paling bergolak dalam sejarah bangsa ini. Kini tubuhnya masih tegak, langkahnya belum sepenuhnya kaku, dan matanya masih menyimpan kilau yang sulit dijelaskan. Di balik keriput halus di wajahnya, tersimpan perjalanan panjang yang tak pernah ia ceritakan kepada sembarang orang.
Pagi itu, Nin Enuy tersenyum tipis ketika seorang pria sepuh menghampirinya membawa dua bungkus nasi bungkus. Pria itu bukan siapa-siapa — hanya kawan lama yang kini menjadi teman berbagi hari-hari sepi. Mereka tertawa pelan, kadang saling meledek soal lutut yang mulai nyeri atau telinga yang mulai kurang tajam. Pemandangan sederhana itu justru menyentuh: ada cinta yang tidak pernah benar-benar pudar, hanya berubah bentuk menjadi perhatian kecil setiap hari.
Kesepian yang Tak Pernah Diceritakan
Bertahun-tahun Nin Enuy hidup sendiri. Anak-anaknya merantau ke kota besar, sibuk dengan pekerjaan dan keluarga baru mereka. Telepon memang datang, tetapi suara di ujung kabel tak bisa menggantikan kehadiran seseorang di ruang makan. "Kalau malam panjang, saya suka mendengar radio sampai ketiduran," ujar Nin Enuy dengan suara pelan. "Bukan karena saya suka lagunya, tapi karena saya tidak mau rumah ini terlalu sunyi."
Kalimat itu keluar tanpa dramatisasi, tetapi membuat dada sesak. Banyak lansia di kampung itu mengalami hal serupa. Mereka bukan kekurangan materi, bukan pula sakit parah. Yang mereka keluhkan adalah sunyi — satu kata yang mungkin jarang disebut dalam daftar kebutuhan hidup. Para ahli kesehatan jiwa bahkan menyebut kesepian kronis pada lansia sama berbahayanya dengan penyakit fisik yang tidak diobati.
Teman yang Datang di Saat Tepat
Perkenalan Nin Enuy dengan pria yang kini menemaninya berjalan ke pasar berawal dari sebuah pertemuan tak sengaja di posyandu lansia. Waktu itu, keduanya sama-sama datang untuk mengecek tekanan darah. Duduk bersebelahan, menunggu antrean panjang, mereka mulai berbincang soal beras yang semakin mahal dan cucu yang jarang pulang. Percakapan ringan itu ternyata menjadi pintu masuk bagi sebuah persahabatan yang menghangatkan hati.
"Saya tidak pernah membayangkan punya teman dekat di usia begini," kata Nin Enuy, matanya menerawang. "Ternyata menyenangkan juga, punya orang yang menunggu kabar kita." Ada getar kecil di ujung kalimatnya, seperti air mata yang sudah menunggu terlalu lama untuk jatuh. Bagi banyak orang, cinta di usia senja terdengar seperti dongeng. Namun bagi Nin Enuy, itu nyata — sederhana, hangat, dan tidak menuntut apa pun selain kebersamaan.
"Orang tua juga ingin dicintai dan diperhatikan. Kami bukan hanya kakek-nenek yang duduk diam di kursi. Kami masih bisa merasakan sayang, dan itu sangat berarti."
Pelukan yang Tak Terlihat
Kisah Nin Enuy hanya satu dari sekian banyak cerita serupa yang jarang terangkat ke permukaan. Di berbagai pelosok, para lansia berjuang melawan sepi dengan cara mereka sendiri: mengurus taman kecil, memberi makan burung, atau menunggu tetangga lewat untuk sekadar menyapa. Mereka tidak meminta banyak. Kadang satu kunjungan singkat sudah cukup untuk membuat minggu mereka terasa penuh.
Program-program lansia di tingkat kampung sebenarnya mulai tumbuh. Posyandu, senam bersama, sampai arisan bulanan menjadi ruang temu yang menyelamatkan banyak orang dari kesunyian. Namun pelaksanaannya masih bergantung pada semangat warga. Ketika satu orang berhenti hadir, seluruh rantai perhatian ikut terputus. Di sinilah sisi manusiawi itu diuji: seberapa besar kita mau meluangkan waktu untuk mereka yang sudah lebih dulu merawat kita.
Malam itu, sebelum berpisah, pria tua tadi mengulurkan tangan, membantu Nin Enuy berdiri. Gerakannya hati-hati, seperti menjaga sesuatu yang sangat berharga. Nin Enuy tertawa kecil, menepuk lengan temannya sambil berkata, "Besok kita ke pasar lagi, ya." Kalimat sederhana itu terdengar seperti janji yang mengikat dua hati yang sama-sama tahu betapa cepatnya waktu berjalan.
Cinta di antara lansia bukan cerita tentang gairah yang membara, melainkan tentang dua orang yang memilih tinggal dan saling menjaga hingga ajal memisahkan. Dan di teras kecil itu, ketika senja mulai turun dan lampu rumah dinyalakan, tampak jelas bahwa kasih sayang tak pernah mengenal usia — ia hanya menunggu seseorang untuk memberikannya ruang. Nin Enuy menemukannya, meski datang terlambat. Barangkali, itu sudah cukup.
Comments (0)