Oct 13, 2026
entertainment

Jerome Kurnia dan Teror Batin dalam Kuasa Gelap

Di sebuah ruangan kedap suara yang hanya diterangi lampu temaram, seorang aktor duduk bersimpuh dengan tangan terikat. Keringat mengucur deras membasahi pelipisnya. Tubuhnya bergetar, bukan karena din...

Jerome Kurnia dan Teror Batin dalam Kuasa Gelap

Di sebuah ruangan kedap suara yang hanya diterangi lampu temaram, seorang aktor duduk bersimpuh dengan tangan terikat. Keringat mengucur deras membasahi pelipisnya. Tubuhnya bergetar, bukan karena dingin, melainkan karena beban peran yang ia emban. Di luar kamera, kru film menahan napas. Beberapa di antara mereka tanpa sadar menggenggam tangan rekan di sebelahnya. Momen itu bukan sekadar syuting biasa — ia adalah perjalanan panjang menuju batas terjauh seorang manusia.

Jerome Kurnia, nama yang belakangan lekat dengan beragam peran penuh tekanan, kembali menantang dirinya dalam film Kuasa Gelap. Namun kali ini, tantangannya berbeda. Ia tidak hanya dituntut menampilkan ketakutan, tetapi juga menggambarkan kehancuran jiwa yang perlahan terkikis oleh kekuatan tak terlihat. Dalam salah satu adegan puncak, ia harus berlutut, memohon, lalu tumbang hingga tak sadarkan diri. Bukan akting. Ia benar-benar pingsan.

Ketika Tubuh Menyerah pada Tuntutan Peran

Mengisahkan proses di balik layar, tim produksi menyebut bahwa adegan eksorsisme dalam film ini dirancang untuk mengguncang penonton hingga ke dasar kursi. Namun, dampaknya pada para pemain ternyata jauh lebih dalam. Jerome mengaku bahwa ia mempersiapkan peran ini selama berbulan-bulan, mulai dari mempelajari literatur tentang kerasukan hingga berdialog dengan orang-orang yang pernah mengalami pengalaman serupa. Semua ia lakukan demi satu tujuan: membuat penonton percaya.

"Ada titik di mana saya tidak lagi tahu apakah yang saya rasakan itu akting atau benar-benar nyata," ujarnya suatu ketika, suaranya pelan namun mantap. "Saya hanya ingin pulang dan memeluk keluarga saya."

Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan beban emosional yang berat. Dalam dunia akting, batas antara diri dan karakter kadang menjadi kabur. Bagi Jerome, Kuasa Gelap adalah ujian terbesar sejauh ini. Ia harus mengeksplorasi sisi gelap manusia, sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Pertarungan Sunyi di Ruang Editing

Di balik gemerlap poster dan trailer yang menegangkan, ada kerja keras panjang yang jarang terekspos. Para editor menghabiskan berjam-jam memilah footage, mencari momen paling mencekam, lalu merangkainya menjadi narasi yang utuh. Salah satu tantangan terbesar adalah menjaga agar ketegangan tidak berubah menjadi sensasi belaka. Film ini, menurut keterangan tim, ingin menyampaikan pesan tentang rapuhnya iman dan kekuatan doa, bukan sekadar menakut-nakuti.

Seorang kru yang enggan disebutkan namanya mengisahkan bahwa suasana di lokasi syuting kerap berubah menjadi sunyi setelah adegan-adegan berat. "Kami butuh waktu untuk kembali ke diri masing-masing," tuturnya. "Ada rasa lelah yang bukan fisik."

Momen mengharukan terjadi pada hari terakhir pengambilan gambar. Jerome, yang biasanya tampak tegar, tiba-tiba memeluk sutradara dan menangis. Ia mengaku lega karena telah melewati perjalanan yang menguras tenaga dan batin. Bagi banyak orang, itu adalah bukti bahwa film ini bukan proyek biasa. Ia adalah ruang perjuangan.

Pesan yang Tersisa Setelah Lampu Kembali Menyala

Ketika kredit penutup bergulir dan lampu bioskop menyala, penonton dibiarkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggantung. Kuasa Gelap tidak berusaha memberi jawaban mudah. Ia justru mengajak kita merenung: seberapa jauh seseorang mampu bertahan ketika kegelapan mencoba menguasai jiwanya? Di tengah derasnya film horor yang mengandalkan jumpscare, karya ini memilih jalur berbeda — menyentuh sisi manusiawi yang paling rentan.

Jerome sendiri berharap penonton tidak hanya keluar dengan rasa takut, tetapi juga rasa syukur. "Saya ingin orang pulang dan memeluk keluarganya," katanya. "Kalau itu terjadi, berarti semua air mata dan kelelahan ini tidak sia-sia."

Pada akhirnya, Kuasa Gelap adalah kisah tentang ketakutan, tetapi juga tentang keberanian. Tentang mimpi yang harus dibayar mahal. Tentang aktor yang rela jatuh pingsan demi sebuah cerita. Dan tentang kita semua, yang kadang perlu melihat kegelapan untuk benar-benar menghargai cahaya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User