Oct 10, 2026
entertainment

Ketika Anggun dan Prince Poetiray Menyanyi untuk Garuda di Final

Lampu sorot di Stadion Utama Gelora Bung Karno perlahan meredup. Puluhan ribu pasang mata yang tadinya riuh meneriakkan nama pemain Indonesia kini menahan napas. Di tengah lapangan, sesosok perempuan ...

Ketika Anggun dan Prince Poetiray Menyanyi untuk Garuda di Final

Lampu sorot di Stadion Utama Gelora Bung Karno perlahan meredup. Puluhan ribu pasang mata yang tadinya riuh meneriakkan nama pemain Indonesia kini menahan napas. Di tengah lapangan, sesosok perempuan berbalut busana bernuansa merah putih berdiri tegar. Ia menggenggam mikrofon, memandang ke arah tribun yang bergelombang bagai lautan manusia. Anggun Cipta Sasmi, penyanyi yang namanya telah mengharumkan Indonesia di panggung internasional, kembali pulang untuk satu momen yang tak akan terlupakan.

Di sampingnya, Prince Poetiray, penyanyi muda berbakat yang namanya mulai diperhitungkan di kancah musik tanah air, tampak tak kalah gugup. Keduanya berdiri di titik yang sama, di jantung sebuah peristiwa bersejarah: laga final FIFA ASEAN Cup 2026 antara Indonesia dan Thailand. Bukan sembarang pertandingan, ini adalah panggung yang diidamkan seluruh rakyat, pertarungan pamungkas yang menentukan siapa yang pantas mengangkat trofi di negeri sendiri.

Anggun membuka penampilannya dengan tembang yang menggetarkan. Suaranya yang khas, berpadu dengan heningnya stadion, seakan menjadi doa yang dilantunkan bersama-sama. Tidak ada yang menyangka malam ini akan menjadi momen mengharukan bagi banyak orang, gumamnya dalam hati, seperti yang kemudian ia kisahkan kepada pewarta setelah acara usai.

Sebuah Perjalanan Panjang Kembali ke Rumah

Bagi Anggun, berdiri di hadapan rakyat sendiri bukanlah hal yang asing. Ia telah mengarungi panggung dunia, menyanyikan lagu-lagu Indonesia di berbagai negara, menjadi duta budaya yang membanggakan. Namun, ia mengakui bahwa tidak ada panggung yang lebih membuatnya terharu selain panggung yang dibangun di atas tanah kelahirannya sendiri.

"Saya sudah menyanyi di banyak tempat, tapi menatap langsung mata orang-orang yang berjuang bersama-sama di sini, itu berbeda. Ada cinta, ada harapan, ada air mata yang tidak bisa saya jelaskan," ujar Anggun dengan suara bergetar.

Ia mengisahkan bagaimana persiapannya menuju malam final begitu sendiri, penuh kerinduan pada suasana kampung halaman. Ia berlatih jeda demi jeda, mencocokkan setiap nada dengan irama detak jantung yang ia bayangkan akan berdenyut di stadion. "Saya tidak ingin sekadar menyanyi, saya ingin menyatu dengan perasaan rakyat," lanjutnya.

Prince Poetiray dan Mimpi yang Tumbuh di Panggung Terbesar

Di sisi lain, momen ini adalah titik puncak perjalanan bagi Prince Poetiray. Penyanyi belia yang dikenal lewat sederet karya penuh emosi itu mengaku pernah bermimpi tampil untuk timnas, meski hanya dalam khayalan ketika ia kecil. "Saya dulu menonton pertandingan di rumah, ikut berteriak, ikut menangis kalau kalah. Sekarang saya di sini, di tengah-tengah mereka, di panggung yang sama dengan impian jutaan anak," ujarnya.

Prince mengaku sempat gugup luar biasa. Namun, ketika ia melihat pelatih dan para pemain Indonesia berjalan masuk ke lapangan, kegugupannya berubah menjadi energi. Ia menyanyikan lagu yang mengajak seluruh stadion bernyanyi bersama. Bahkan tangannya yang sempat gemetar berubah menjadi kepalan semangat. Sayup-sayup, suara penonton mengiringi setiap bait yang ia lantunkan, menciptakan simfoni kebangsaan yang menyentuh jiwa.

Antara Harapan dan Kenyataan di Lapangan Hijau

Penampilan kedua musisi ini bukan sekadar hiburan. Bagi banyak orang di tribun, kehadiran mereka adalah representasi dari mimpi besar yang lebih luas: bahwa sepak bola Indonesia, dan juga seni-budayanya, bisa berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Malam itu, Anggun dan Prince tidak hanya bernyanyi, mereka memastikan bahwa setiap orang di stadion merasakan hal yang sama.

Saat peluit panjang ditiup dan pertandingan dimulai, tugas mereka selesai. Namun, gaung suara mereka masih tersisa. Ada yang menitikkan air mata, ada yang berpelukan dengan orang di sebelahnya yang bahkan tak dikenal. Semua terlebur dalam satu identitas: pendukung Garuda.

"Kalau Indonesia menang, itu bukan hanya kemenangan pemain, tapi kemenangan semua orang yang pernah bermimpi," pungkas Anggun sambil tersenyum. Malam itu, di bawah sorot lampu dan ribuan suara yang menggelegar, sebuah cerita baru telah ditulis – tentang perjuangan, kebanggaan, dan cinta yang tak bertepi pada tanah air.

Bagi Prince, pengalaman ini akan selalu menjadi pengingat bahwa mimpi yang tumbuh dari hati tidak pernah salah tempat. "Saya akan ceritakan ini ke anak cucu saya nanti. Bahwa saya pernah menyanyi di final, berdampingan dengan salah satu musisi terbaik Indonesia, untuk negara yang kami cintai," tutupnya.

Di luar stadion, lampu kota Jakarta mulai berkedip menembus malam. Namun, di dalam sana, di hati mereka yang hadir, nyala semangat itu masih menyala-nyala, dibawa pulang sebagai kenangan yang akan senantiasa menghangatkan perjalanan panjang sepak bola Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User