Di sela-sela kesibukannya menghibur penonton dari panggung ke panggung, penyanyi dangdut asal Thailand, Jirayut, menyimpan sebuah keinginan sederhana yang jarang ia ungkapkan. Bukan tentang konser besar atau piala penghargaan, melainkan soal duduk tenang di depan layar atau tribun, menyaksikan pertandingan Indonesia melawan Thailand di final FIFA ASEAN Cup 2026. Sebuah momen yang, bagi banyak orang, mungkin hanya soal sepak bola, tetapi bagi Jirayut berarti jauh lebih dalam.
Sepak Bola Sebagai Jembatan Dua Rumah
Lahir dan besar di Thailand, namun meniti karier serta menemukan keluarga kedua di Indonesia, Jirayut merasakan posisi unik yang jarang dialami orang lain. Sepak bola, dalam momen seperti ini, bukan lagi sekadar olahraga. Ia menjadi arena di mana dua identitas bertemu, kadang beradu, kadang justru berpelukan.
"Kalau soal pertandingan itu, saya ingin banget nonton," ujarnya dengan nada yang khas, antara bercanda dan sungguh-sungguh. Ada getaran berbeda ketika ia menyebut nama kedua negara itu. Bagi Jirayut, ini bukan pertandingan biasa. Ini seperti melihat dua bagian dirinya saling berhadapan di lapangan hijau.
Final FIFA ASEAN Cup 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Senin, 5 Oktober itu memang tengah menjadi perbincangan hangat. Di Indonesia, euforia menyelimuti jalan-jalan, kafe, hingga ruang keluarga. Di Thailand, tak jauh berbeda. Dan di tengah dua gelombang dukungan itu, Jirayut berdiri dengan hati yang terbelah, namun penuh syukur.
Momen Kecil yang Menyentuh
Jirayut mengisahkan bagaimana sepak bola sering menjadi topik yang mencairkan suasana di antara teman-temannya di Indonesia. Tawa, ledekan ringan, hingga taruhan kecil soal skor menjadi bumbu persahabatan yang menghangatkan. Namun ia juga tak menampik bahwa pertandingan besar seperti ini bisa menghadirkan rasa haru tersendiri.
"Kalau Indonesia menang, saya ikut senang. Kalau Thailand menang, saya juga ikut senang. Tapi yang paling penting, saya ingin nonton bareng orang-orang yang saya sayang," tuturnya dengan mata yang tampak menerawang, seolah membayangkan momen itu sudah di depan mata.
Di balik canda dan senyum yang selama ini dikenal dari panggung, Jirayut menyimpan sisi manusiawi yang sederhana. Ia rindu duduk tanpa sorot lampu, tanpa mikrofon, sekadar menjadi penonton biasa yang bersorak bersama sahabat-sahabatnya. Momen-momen kecil seperti itu, katanya, yang membuat hidup terasa lebih berarti.
Perjalanan Panjang Seorang Perantau
Perjalanan Jirayut dari anak desa di Thailand hingga menjadi salah satu nama yang akrab di telinga masyarakat Indonesia bukanlah jalan yang mulus. Ada air mata, ada kerinduan, dan ada keberanian untuk memulai dari nol di negeri orang. Sepak bola, dalam banyak momen, menjadi pengingat akan tanah kelahirannya sekaligus pelepas rindu pada hal-hal yang sederhana.
Ketika pertandingan Indonesia versus Thailand digelar, ia tahu betul bagaimana perasaan para pendukung di kedua kubu. Ia pernah merasakan jadi bagian dari mayoritas yang bersorak di Thailand. Kini, ia juga menjadi bagian dari keluarga besar Indonesia yang ikut berdebar setiap kali tim Merah Putih bertanding. "Dua-duanya rumah buat saya," ucapnya pelan.
Kepergian ke stadion atau sekadar menonton dari layar ponsel, bagi Jirayut, adalah cara merayakan kedua identitasnya. Ia berharap pertandingan nanti berjalan seru, penuh sportivitas, dan menjadi perayaan persahabatan antara dua negara yang sama-sama ia cintai. Karena di atas lapangan, dua tim bertarung, tetapi di luar lapangan, kisah-kisah manusia seperti Jirayut terus terjalin.
Bagi banyak penggemar, keinginan Jirayut mungkin terdengar sederhana. Namun justru dari kesederhanaan itu, tersimpan pesan tentang cinta, kerinduan, dan bagaimana sepak bola mampu menyatukan hati yang terpisah oleh lautan. Di saat jutaan orang menantikan gol dan kemenangan, Jirayut menantikan satu hal yang lebih mengharukan: duduk bersama orang-orang tersayang, tertawa, dan mensyukuri bahwa ia punya dua rumah di dunia ini.
Comments (0)