Penelitian terbaru mengungkap bahwa kerangka karang di berbagai terumbu dunia menyimpan bukti sejarah mengenai semakin kuatnya fenomena El Niño akibat perubahan iklim. Temuan ini menunjukkan ancaman ganda yang belum pernah terjadi sebelumnya: pemanasan global buatan manusia dan El Niño yang diperkirakan akan mencapai rekor tertinggi.
Para ilmuwan dari sejumlah universitas internasional menganalisis sampel kerangka karang yang telah berusia puluhan hingga ratusan tahun. Lapisan pertumbuhan karang, mirip seperti lingkaran pohon, merekam kondisi suhu permukaan laut dan pola arus dari masa lalu. Melalui teknik penanggalan isotop dan analisis kimia, mereka menemukan bahwa intensitas El Niño dalam beberapa dekade terakhir jauh lebih kuat dibandingkan catatan abad sebelumnya.
"Kerangka karang adalah buku harian alami lautan. Setiap lapisan menceritakan kisah tentang suhu, salinitas, dan tekanan lingkungan. Yang kami lihat adalah lonjakan kekuatan El Niño yang tidak normal sejak pertengahan abad ke-20," jelas Dr. Maya Saraswati, peneliti utama dari Ocean Climate Institute.
Ancaman Ganda bagi Terumbu Karang
Penelitian ini menyoroti kondisi kritis terumbu karang global. Sejak awal 2023, pemutihan karang massal telah tercatat di lebih dari 60 negara. Proses pemutihan terjadi ketika karang stres akibat suhu air yang terlalu hangat, menyebabkan mereka mengeluarkan alga simbiotik yang memberi warna dan nutrisi. Jika suhu tidak segera turun, karang akan mati dan meninggalkan kerangka putih.
Gabungan antara perubahan iklim yang terus memanaskan lautan dan siklus El Niño yang semakin ekstrem menciptakan situasi yang oleh para ahli disebut sebagai "kematian spiral". Ekosistem terumbu karang yang menjadi rumah bagi seperempat spesies laut kini terancam punah dalam beberapa dekade mendatang jika emisi karbon tidak dikurangi secara drastis.
- Peningkatan suhu laut 0,5°C saja dapat memicu pemutihan karang secara luas.
- El Niño 2023-2024 diperkirakan menjadi salah satu yang terkuat dalam catatan, memperparah dampak pemanasan global.
- Lebih dari 500 juta orang bergantung pada terumbu karang untuk makanan, perlindungan pantai, dan pendapatan pariwisata.
Implikasi bagi Masa Depan Iklim
Temuan ini tidak hanya penting bagi biologi kelautan, tetapi juga bagi pemodelan iklim. Dengan memahami bagaimana El Niño masa lalu berevolusi, para ilmuwan dapat memperbaiki prediksi tentang cuaca ekstrem di masa depan. El Niño diketahui memicu kekeringan di Australia dan Asia Tenggara, serta banjir di sebagian Amerika Selatan.
"Karang adalah indikator sensitif. Mereka memberi kita peringatan dini bahwa sistem iklim bumi sedang melampaui batas," tambah Dr. Saraswati. "Jika kita tidak bertindak sekarang, generasi mendatang mungkin hanya melihat kerangka putih sebagai pengingat betapa kayanya lautan kita dulu."
Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Climate Change dan didukung oleh data dari 30 lokasi terumbu karang di Pasifik, Atlantik, dan Samudra Hindia. Tim peneliti berharap temuan ini dapat mendorong kebijakan perlindungan laut yang lebih kuat dan pengurangan emisi global.
Comments (0)