Wilayah selatan Lebanon telah berubah menjadi zona perang sejak eskalasi konflik antara kelompok militan Hezbollah dan pasukan Israel pada Oktober 2023. Pertukaran tembakan artileri, serangan udara, dan operasi militer darat telah mengubah desa-desa di sepanjang "garis biru"—sebutan untuk perbatasan yang dipantau PBB—menjadi medan tempur yang hampir tak bisa dihuni. Berbeda dengan warga Lebanon lainnya yang berhasil mengungsi ke Beirut atau wilayah utara, ribuan komunitas Kristen di wilayah tersebut terisolasi dan tidak dapat meninggalkan rumah mereka karena blokade jalan, risiko serangan, serta kurangnya infrastruktur evakuasi.
Harissa sendiri merupakan simbol kebangkitan dan identitas nasional Lebanon. Patung Bunda Maria yang menjulang setinggi 15 meter di atas bukit tersebut telah menjadi tempat peziarahan bagi umat Kristiani maupun Muslim selama lebih dari satu abad. Setiap tahun, terutama pada 15 Agustus, arus peziarah mencapai puncaknya, dengan lebih dari 50.000 pengunjung yang hadir untuk mengikuti Misa besar dan prosesi. Kehadiran mereka merupakan bukti nyata dari semangat hidup berdampingan (coexistence) yang selama ini menjadi ciri khas Lebanon. Namun, ketidakhadiran 10.000 saudara-saudara mereka dari selatan memberikan tanda tanya besar atas masa depan kerukunan tersebut.
Dua Realitas dalam Satu Negara: antara Perayaan dan Penderitaan
Realitas yang dihadapi Lebanon saat ini mencerminkan disparitas yang semakin lebar. Di utara dan di ibu kota, kehidupan keagamaan berjalan dengan hiruk-pikuknya persiapan liturgi, dekorasi bunga, dan konser-konser rohani. Sementara itu, di selatan, suara lonceng gereja tenggelam oleh dentuman artileri. Menurut data dari berbagai lembaga kemanusiaan, lebih dari 100.000 warga sipil telah mengungsi dari wilayah selatan sejak Oktober 2023, namun ribuan lainnya—termasuk kelompok minoritas Kristen—terpaksa bertahan di tengah bahaya karena keterbatasan akses dan sumber daya.
| Indikator | Wilayah Lebanon Utara & Beirut | Wilayah Lebanon Selatan (Garis Depan) |
|---|---|---|
| Akses ke tempat ibadah | Aman dan bebas | Terbatas atau terputus |
| Partisipasi hari raya 15 Agustus | Puluhan ribu peziarah | Sekitar 10.000 Kristen terjebak |
| Kondisi keamanan | Stabil | konflik aktif |
| Dukungan internasional | Tersedia | Minim |
Tabel di atas menggambarkan kesenjangan yang tidak hanya bersifat geografis, tetapi juga kemanusiaan. Bagi komunitas Kristen yang tersisa di selatan, Hari Raya Kenaikan Bunda Maria bukanlah momen sukacita, melainkan pengingat akan kerentanan mereka sebagai kelompok minoritas dalam konflik yang didominasi oleh aktor-aktor besar.
Eksodus Kristen dan Kepentingan Geopolitik Prancis
"Kita tidak boleh membiarkan komunitas Kristen Lebanon menjadi korban bisu dari konflik yang semakin memecah belah negara ini. Hari raya ini harus menjadi momen solidaritas, bukan pembelokan pandangan," demikian inti dari peringatan Aurélie Pirillo. Pernyataannya mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas mengenai eksodus massal umat Kristen dari Timur Tengah, sebuah fenomena yang telah mengubah peta demografis dan politik kawasan tersebut selama beberapa dekade terakhir.
Lebanon secara historis merupakan satu-satunya negara di Timur Tengah yang dipimpin oleh pemimpin Kristen (presiden), sekaligus menjadi pusat keuskupan Maronit yang berpengaruh. Namun, perang sipil (1975-1990), krisis ekonomi yang berkepanjangan, serta konflik regional telah mendorong gelombang besar emigrasi. Komunitas Kristen yang dulu mencakup sekitar setengah dari populasi Lebanon kini menyusut menjadi kurang dari 30 persen. Jika konflik di selatan terus berlanjut, para ahli memperkirakan akan ada peningkatan signifikan dalam jumlah pengungsi Kristen yang meninggalkan tanah air mereka secara permanen.
Isu ini juga menyentuh tali sejarah hubungan Prancis dengan komunitas Kristen Timur. Sejak abad ke-19, Prancis telah mengklaim peran sebagai "pelindung" umat Kristen di Kesyarikan Utsmaniyah, sebuah warisan yang hingga kini mempengaruhi kebijakan luar negeri Paris di kawasan Lebanon. Oleh karena itu, seruan Pirillo tidak hanya bersifat moral-teologis, tetapi juga membawa beban politik tersendiri, menantang pemerintah Prancis dan Uni Eropa untuk bertindak lebih tegas dalam diplomasi kemanusiaan mereka.
Di tengah dominasi berita mengenai Gaza dan Tepi Barat, nasib 10.000 Kristen di Lebanon Selatan seringkali terlupakan. Mereka bukan pihak yang berperang, namun mereka adalah warga sipil yang terperangkap antara dua kekuatan bersenjata. Saat dunia memusatkan perhatian pada upacara di Harissa, keheningan dari garis depan selatan seharusnya menjadi alarm bagi komunitas internasional. Keberadaan komunitas ini—seperti halnya keberadaan Lebanon sebagai negara majemuk—adalah aset peradaban yang harus dijaga, bukan dibiarkan memudar dalam asap pertempuran.
Menuju 15 Agustus, seruan Pirillo mengingatkan kita bahwa perayaan keagamaan tidak bisa dipisahkan dari tanggung jawab kemanusiaan. Doa dan peziarah harus diikuti oleh aksi konkret: tekanan diplomatik untuk gencatan senjata, koridor kemanusiaan yang aman, serta pengakuan bahwa di balik setiap angka statistik konflik, ada wajah-wajah manusia yang berhak merayakan hari besar mereka dalam damai.