Aug 25, 2026
entertainment

Katy Perry Murka: Gedung Putih Gunakan 'Firework' dalam Serangan Udara

Di sebuah malam yang seharusnya tenang di kediamannya, Katy Perry mendapati dirinya menatap layar ponsel dengan campuran emosi yang sulit dijabarkan—kemarahan, kekecewaan, dan rasa tidak percaya ber...

Katy Perry Murka: Gedung Putih Gunakan 'Firework' dalam Serangan Udara

Di sebuah malam yang seharusnya tenang di kediamannya, Katy Perry mendapati dirinya menatap layar ponsel dengan campuran emosi yang sulit dijabarkan—kemarahan, kekecewaan, dan rasa tidak percaya bercampur menjadi satu. Lagu yang ia tulis lebih dari satu dekade lalu sebagai himne kebangkitan dan harapan kini muncul dalam konteks yang sama sekali bertolak belakang dengan nilai-nilai yang ia yakini.

Ketika Nada Penuh Harapan Berubah Makna

Adalah keputusan Gedung Putih yang memicu reaksi keras dari sang bintang pop itu. Dalam sebuah unggahan resmi yang beredar di platform digital, lagu Firework—sebuah karya yang telah menjadi penyelamat bagi jutaan pendengarnya yang berjuang melawan keterpurukan—digunakan sebagai latar suara cuplikan operasi militer. Dentuman drum yang dimaksudkan untuk melambangkan percikan semangat manusia kini bertransformasi menjadi pengiring visual serangan udara, menciptakan disonansi yang begitu mengguncang.

Bagi Perry, ini bukan sekadar persoalan hak cipta atau penggunaan tanpa izin. Ini adalah pengkhianatan terhadap esensi dari apa yang ia bangun selama bertahun-tahun. Lagu itu lahir dari tempat yang sangat personal—sebuah obrolan panjang dengan dirinya sendiri tentang menemukan cahaya di tengah kegelapan. Kini, melodi yang sama diperdengarkan di atas gambar-gambar yang justru memadamkan cahaya kehidupan.

Perjalanan 'Firework': Dari Kamar Tidur ke Garis Depan yang Salah

Mengisahkan kembali asal-usul lagu ini, seorang penulis lagu yang dekat dengan proses kreatifnya pernah berkisah, “Katy menulisnya setelah membaca novel yang membuatnya berpikir tentang betapa setiap manusia punya potensi untuk bersinar, bahkan di saat-saat paling hancur sekalipun.” Tidak pernah terbayangkan olehnya bahwa komposisi yang begitu intim itu akan disandingkan dengan mesin perang. Perjalanan lagu ini dari kamar tidur seorang seniman ke pusat kekuasaan politik Amerika Serikat adalah sebuah ironi pahit yang mencerminkan betapa rentannya karya seni disalahgunakan ketika meninggalkan tangan penciptanya.

Momen mengharukan dalam konser-konsernya sering kali terjadi ketika Firework dimainkan. Penonton dari berbagai latar belakang—anak muda yang berjuang melawan depresi, korban perundungan, hingga mereka yang kehilangan arah—semua bersatu dalam paduan suara masif. Mereka menangis, mereka bangkit, mereka merayakan keberadaan mereka sendiri. Kehangatan kolektif inilah yang menjadi jiwa sejati dari lagu tersebut.

Sanggahan yang Menyentuh, Bukan Sekadar Tuntutan

Ketika akhirnya Perry menyuarakan kegeramannya, yang keluar bukanlah pernyataan hukum yang kaku dan penuh pasal. Ia menyembur dengan kata-kata yang lahir dari luka seorang seniman yang merasa karyanya dinodai. Pertanyaan besarnya bergema: bagaimana mungkin pemerintah yang seharusnya melindungi warga negaranya justru menggunakan simfoni penyembuhan sebagai latar pertunjukan agresi?

Reaksi publik pun terbelah, namun di balik layar perdebatan soal legalitas dan politik, ada sesuatu yang lebih mendasar yang dipertaruhkan yaitu hubungan emosional antara karya dan pendengarnya. Banyak penggemar yang mengaku bingung dan sakit hati ketika melihat video tersebut. Salah satu dari mereka menuliskan di forum diskusi,

“Lagu itu adalah alasan aku tidak menyerah pada hidup. Sekarang setiap kali aku mendengarnya, bayangan itu akan kembali.”
Kata-kata sederhana ini mewakili luka yang jauh lebih dalam dari sekadar persoalan lisensi penggunaan.

Di sudut ruang kerjanya yang penuh dengan catatan melodi dan potongan lirik setengah jadi, Perry mungkin merenungi sesuatu yang lebih besar: bahwa seni, begitu ia lahir ke dunia, memiliki takdirnya sendiri—kadang indah, kadang kejam, dan kali ini, sungguh tidak terduga. Perjuangannya sekarang bukan lagi tentang mendaki tangga lagu, melainkan tentang merebut kembali jiwa dari sebuah mahakarya yang nyaris, dengan sangat menyakitkan, kehilangan makna aslinya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User