Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Timur kian mengkhawatirkan. Hingga pekan kedua September 2026, luasan area yang terbakar dilaporkan telah menembus angka 4.000 hektare. Menyikapi situasi kritis tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) langsung turun tangan memperketat penanganan, dengan memfokuskan perlindungan pada kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).
Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, meninjau langsung garis depan pemadaman di kawasan Bukit Tengkorak, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Senin (14/9/2026). Peninjauan darat ini dilakukan guna memastikan bara api tidak merembet mendekati Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN yang lokasinya berdekatan dengan titik kebakaran paling aktif.
Kronologi Lonjakan Titik Api dan Kondisi Lapangan
Peningkatan eskalasi kebakaran di Kalimantan Timur terpantau meningkat drastis akibat hembusan angin kencang serta cuaca kering ekstrem selama dua pekan terakhir. Berikut adalah rangkaian eskalasi kejadian di lapangan:
- Awal September 2026: Satelit mendeteksi lonjakan titik panas (hotspot) di beberapa kabupaten sekitar IKN, termasuk Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara.
- 10 September 2026: Titik api mulai meluas di perbukitan Sepaku akibat vegetasi semak belukar yang mengering dan sulitnya akses air darat.
- 12-13 September 2026: Luas kebakaran terakumulasi melampaui 4.000 hektare di seluruh Kaltim, memicu kabut asap tipis di lintasan jalan logistik IKN.
- 14 September 2026: Kepala BNPB bersama jajaran Forkopimda Kaltim menetapkan status siaga penuh dan memimpin operasi penanganan langsung dari Bukit Tengkorak.
"Fokus utama kami saat ini adalah menyekat pergerakan api agar tidak mendekati infrastruktur vital IKN. Seluruh armada darat dan udara dikerahkan tanpa henti untuk memutus rantai api di titik-titik krusial seperti Sepaku," tegas Suharyanto saat memberikan arahan di posko darurat.
Operasi Terpadu: Water Bombing dan Modifikasi Cuaca
Menghadapi topografi perbukitan terjal yang menyulitkan regu darat, BNPB menggelar operasi terpadu lintas instansi yang melibatkan TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, serta relawan masyarakat peduli api. Strategi pemadaman difokuskan melalui kombinasi jalur udara dan darat.
- Pengerahan Helikopter Water Bombing: Sedikitnya empat unit helikopter pengebom air dikerahkan bolak-balik mengambil air dari waduk terdekat untuk menjatuhkan ribuan liter air di lereng Bukit Tengkorak.
- Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC): BNPB berkoordinasi dengan BMKG untuk menaburkan garam semai ke awan-awan potensial guna memicu hujan buatan di atas langit Kalimantan Timur.
- Penyekatan Jalur Basah (Wet Line): Pasukan darat membabat semak kering dan menyemprotkan air bertekanan tinggi untuk menciptakan zona aman pembatas agar api tidak merambat ke pemukiman warga.
Upaya masif ini diharapkan mampu memadamkan sisa bara di lapisan gambut dan tanah kering sebelum memicu titik api baru. Pemerintah daerah mengimbau seluruh masyarakat untuk tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar demi mencegah kondisi semakin parah.
Comments (0)