Aug 25, 2026
entertainment

Kala Panggung Batal, Fans Irlandia Galang Dana demi DEADSQUAD Cs

Di sebuah pub kecil di Dublin, malam itu terasa berbeda dari biasanya. Puluhan penggemar musik metal berkumpul dengan kaos hitam bertuliskan nama-nama band kesayangan, gelas setengah penuh di tangan, ...

Kala Panggung Batal, Fans Irlandia Galang Dana demi DEADSQUAD Cs

Di sebuah pub kecil di Dublin, malam itu terasa berbeda dari biasanya. Puluhan penggemar musik metal berkumpul dengan kaos hitam bertuliskan nama-nama band kesayangan, gelas setengah penuh di tangan, dan harapan yang sudah mereka simpan berbulan-bulan. Di dinding masih menempel poster tur yang dicetak penuh warna; di saku sebagian orang, tiket yang dibeli jauh-jauh hari terlipat rapi. Panggung sudah disiapkan, peralatan sudah ditata, tetapi penampil tak kunjung hadir. Mereka menunggu DEADSQUAD serta dua band metal Indonesia lain yang dijadwalkan manggung di Irlandia dan Inggris. Yang mereka dapatkan justru kabar yang memilukan: sang promotor diduga kabur, dan seluruh rangkaian tur terpaksa batal.

Kabar itu datang begitu tiba-tiba, seperti pukulan di tengah malam. Tiket telah terjual, jadwal telah diumumkan jauh hari, dan banyak penggemar bahkan telah merencanakan perjalanan lintas kota hanya untuk menyaksikan idola mereka tampil. Namun di balik layar, ada yang tak beres. Promotor yang mengurus panggung tersebut dilaporkan menghilang tanpa kabar, meninggalkan segudang pertanyaan, tagihan yang menggantung, dan kekecewaan yang mengambang di udara dingin Eropa.

Perjalanan panjang yang batal di ujung jalan

Bagi band-band metal Indonesia, tampil di Eropa bukan sekadar panggung biasa. Ia adalah mimpi yang ditempa bertahun-tahun lewat latihan keras, rekaman mandiri, dan perjuangan panjang melawan jarak serta biaya. DEADSQUAD dan dua band lainnya telah menyiapkan segalanya: paspor, visa, perlengkapan panggung, hingga setlist yang dirancang khusus untuk penonton Eropa. Semua itu pupus dalam sekejap ketika kabar pembatalan menyebar dari satu grup obrolan ke grup lainnya.

Kronologi yang beredar mengisahkan bahwa pembatalan itu tidak berasal dari pihak band, melainkan dari sang promotor yang diduga kabur sebelum tur dimulai. Tanpa kepastian dari penyelenggara, band-band tersebut tak punya pilihan selain menghentikan langkah di tengah jalan. Bagi para musisi, ini adalah pukulan telak — bukan hanya soal uang yang mungkin melayang, tetapi juga soal harga diri, kerja keras bertahun-tahun, dan mimpi yang harus ditunda tanpa tahu kapan akan kembali menyala.

Di sudut lain, para kru dan keluarga di Tanah Air ikut merasakan getarannya. Mereka yang selama ini mendukung dari kejauhan hanya bisa menonton dari layar ponsel, berharap ada kabar baik yang tak kunjung tiba. Di titik inilah, kisah ini menemukan sisi manusianya.

Saat fans memilih bergerak, bukan marah

Namun di tengah kecewa, muncul pemandangan yang justru menghangatkan hati. Alih-alih memaki atau menyerah pada keadaan, komunitas metal Irlandia memilih bergerak. Mereka menggalang dana untuk membantu DEADSQUAD dan rekan-rekannya, dengan satu harapan sederhana: agar band-band itu tetap bisa tampil di lain waktu — atau setidaknya merasa bahwa perjuangan mereka tidak berjalan sendiri.

“Kami tidak ingin mereka pulang dengan tangan kosong,” ujar salah satu inisiator penggalangan dana yang memilih untuk tidak disebutkan namanya. “Mereka sudah berjuang sejauh ribuan kilometer demi musik yang mereka cintai. Hal paling kecil yang bisa kami lakukan adalah menunjukkan bahwa mereka tidak sendirian.

Gerakan itu tumbuh dari obrolan kecil di grup komunitas, lalu menyebar seperti api di antara para penggemar. Sumbangan datang dari berbagai kalangan: pekerja pabrik, mahasiswa, musisi lokal, hingga orang tua yang anaknya tumbuh besar dengan musik metal. Meski nominalnya sederhana, setiap rupiah yang terkumpul membawa pesan yang sama: solidaritas tidak mengenal batas negara, dan musik selalu punya cara untuk mempertemukan orang-orang yang asing.

Harapan yang tetap menyala

Bagi para musisi, kabar penggalangan dana itu menjadi oase di tengah padang kekecewaan. Lewat unggahan di media sosial, DEADSQUAD Cs menyampaikan rasa terima kasih yang tulus. Mereka mengaku tersentuh bukan pada jumlahnya, melainkan pada niat baik yang datang dari orang-orang yang bahkan belum pernah mereka temui secara langsung.

“Kami berangkat dengan mimpi, dan pulang dengan pelajaran,” demikian bunyi pernyataan yang beredar di kalangan penggemar. “Bahwa di mana pun ada orang yang percaya pada musik kami, di situ ada rumah.”

Kisah ini belum selesai. Sebagian penggemar masih berharap tur dapat dijadwalkan ulang; sebagian lainnya mulai merencanakan dukungan jangka panjang, dari membeli merchandise hingga memperkenalkan karya-karya band itu ke komunitas musik setempat. Yang jelas, momen mengharukan ini telah mengubah cara pandang banyak orang: bahwa di balik distorsi gitar yang keras dan teriakan di atas panggung, ada hati yang lunak, kebersamaan yang tulus, dan persahabatan lintas benua yang lahir dari sebuah kekecewaan.

Dan di pub kecil di Dublin itu, meski panggung tetap kosong, ada satu hal yang tak bisa dibatalkan oleh siapa pun: cinta para penggemar pada musik yang telah membawa mereka bersatu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User