Di sudut kamar berukuran 3x4 meter, hanya ditemani tumpukan buku dan cahaya ring light, Kadam Sidik memulai siaran langsung yang kelak mengubah hidupnya. Tak ada panggung megah, tak ada jemaah yang memadati masjid. Hanya layar ponsel dan keyakinan bahwa kebaikan bisa menjangkau siapa pun, di mana pun. Malam itu, dengan suara bergetar tetapi mantap, ia membuka kitab kecilnya dan menyapa: “Assalamualaikum, teman-teman. Malam ini kita ngobrol tentang sabar, ya.”
Kalimat sederhana itu menjadi awal dari sebuah perjalanan yang tak pernah ia bayangkan. Kini, nama Kadam Sidik dikenal sebagai pendakwah muda yang mampu merangkul generasi digital. Tidak dengan ceramah penuh amarah, melainkan dengan tutur kata lembut yang membelai hati. Akun Instagram-nya menjadi ruang teduh bagi ribuan anak muda yang haus siraman rohani di tengah riuh media sosial. Namun, di balik ketenangan yang ia pancarkan, tersimpan kisah perjuangan yang penuh air mata dan mimpi yang nyaris padam.
Dari Majelis Kecil ke Layar Genggam
Kadam bukanlah anak dari keluarga pesantren ternama. Ia lahir di lingkungan Betawi pinggiran, di mana dakwah lebih identik dengan suara lantang dan pentas akbar. Ayahnya seorang pedagang kaki lima, ibunya penjahit rumahan. Sejak kecil, Kadam hanya akrab dengan bilik-bilik pengajian kampung yang diselenggarakan selepas Magrib. “Saya tumbuh di antara penjaja sayur dan buruh pabrik. Orang-orang kecil yang tak banyak bicara, tapi ibadahnya luar biasa,” kenangnya suatu waktu.
Perjuangan pertamanya muncul saat ia memutuskan untuk berdakwah melalui media sosial. Banyak pihak menentang. Keluarga besarnya khawatir jalur ini hanya akan menjerumuskan. Teman-teman sebayanya bahkan mencibir, menganggap “ngaji online” akan mengurangi adab. Kadam sempat ragu. Di titik terendah, ia hampir menghapus semua kontennya. Sebuah momen mengharukan mengubah segalanya: seorang pemuda asal Makassar mengiriminya surat elektronik yang menyatakan bahwa ia batal mengakhiri hidup setelah menonton video Kadam tentang makna menghadapi ujian.
“Saya menangis semalaman. Di situ saya sadar, media ini bukan soal popularitas. Ini jalan menyelamatkan hati yang sunyi,” tutur Kadam dengan mata berkaca-kaca. Sejak itu, ia bertekad untuk terus berkarya, menjadikan setiap unggahan sebagai pelita kecil bagi mereka yang tengah berjalan dalam gelap.
Menyentuh Hati Generasi Digital
Tidak mudah meramu pesan agama menjadi sajian yang relevan bagi generasi Z. Kadam memilih pendekatan yang humanis. Alih-alih berfokus pada ancaman dosa, ia lebih sering mengisahkan perjuangan para nabi dengan bahasa keseharian. Kisah tentang Nabi Ayub ia terjemahkan menjadi cerita tentang ketangguhan mental menghadapi PHK dan putus cinta. Cerita tentang Nabi Yusuf ia jadikan refleksi tentang harga diri di era flexing. “Agama itu fitrah, instrumennya boleh modern, asal intinya tidak hilang,” ujarnya mantap.
Di balik layar, proses produksi kontennya sangat sederhana. Kadam tidak memiliki tim besar. Seorang sepupu membantunya mengambil gambar. Naskah ia tulis sendiri di sela-sela pekerjaannya sebagai guru bantu di sebuah taman pendidikan Al-Qur’an. Ketika uang tidak cukup untuk menyewa perangkat yang layak, ia meminjam kamera milik seorang sahabat. Semangatnya mengingatkan pada benih yang memilih tumbuh di celah batu: keras lingkungannya, namun justru di situ akarnya menguat.
Getar Inspirasi dari Balik Airmata
Bukan hanya pemirsa yang merasa tersentuh, Kadam sendiri acap kali justru ditampar oleh kisah-kisah yang ia bawakan. Suatu kali ia membahas tentang ikhlas dalam kehilangan. Di tengah sesi, seorang ibu bercadar menulis komentar bahwa ia baru saja kehilangan putra semata wayangnya, dan kata-kata Kadam menjadi alasan ia bangkit mengantar sang buah hati ke peristirahatan terakhir tanpa amarah sedikit pun kepada Sang Pencipta. “Komentar itu membuat saya berhenti merekam. Saya sujud, menangis. Dari mana saya dapat jamaah yang begitu kuat hatinya?” kenangnya.
Interaksi semacam ini yang membuat Kadam tak pernah merasa lelah. Ia percaya, dakwah sejatinya bukan tentang menyampaikan, melainkan tentang mendengarkan. Setiap pesan langsung yang masuk, ia usahakan untuk membacanya, meski tak selalu sempat membalas. Di matanya, unggahan terbaik bukan yang paling banyak suka, melainkan yang membuat satu hati kembali merasakan bahwa ia tidak sendiri. Mimpi sederhananya kini adalah terus berjalan di jalan sunyi ini, membantu generasi muda menemukan bangkitan spiritual di tengah gempuran dunia.
Kini, saat nama Kadam Sidik kian dikenal, ia justru semakin sering menyepi. Di bilik tiga kali empat meter itu, ia masih menulis dengan pena, merenung dengan kitab, dan berbicara dengan cinta. Sebab ia tahu, di luar sana, masih ada jantung-jantung yang rapuh menunggu secercah cahaya. Dan Kadam, lewat gawai di tangan, telah memilih menjadi lilin kecil yang siap menyala, meski berarti harus meleleh perlahan.
Comments (0)