Aug 25, 2026
entertainment

Jalan Pulang: Ketika Sheila Dara Belajar Makna Rindu dari Widyawati

Di sebuah rumah kecil di lereng bukit, aroma hujan dan tanah basah menyelinap masuk lewat jendela kayu yang mulai lapuk. Seorang perempuan paruh baya terbaring lemah, matanya menatap nanar ke pintu. I...

Jalan Pulang: Ketika Sheila Dara Belajar Makna Rindu dari Widyawati

Di sebuah rumah kecil di lereng bukit, aroma hujan dan tanah basah menyelinap masuk lewat jendela kayu yang mulai lapuk. Seorang perempuan paruh baya terbaring lemah, matanya menatap nanar ke pintu. Ia menanti suara langkah yang sudah bertahun-tahun tak pulang. Itulah awal dari Jalan Pulang, film pendek yang mempertemukan dua generasi aktris: Widyawati dan Sheila Dara.

Perjumpaan di Ruang Tunggu Hati

Proses syuting hari pertama langsung menggetarkan. Widyawati, dengan wajah tenangnya, menghidupkan sosok seorang ibu yang menyimpan sejuta luka karena ditinggalkan. Sheila Dara yang memerankan anak perempuannya, Alya, harus menciptakan kembali luka masa kecil yang dalam. Dalam jeda pengambilan gambar, terdengar suara lirih Widyawati, "Kamu nggak perlu menangis dengan keras, cukup hadir dengan jujur."

Kalimat sederhana itu membuka mata Sheila. Ia bercerita, "Saya merasa seperti kembali menjadi anak kecil yang canggung. Tapi Bu Widi tidak pernah menggurui. Di matanya, saya adalah Alya, bukan Sheila."

Di Balik Tangis yang Tertahan

Film berdurasi 15 menit ini digarap dengan penuh ketelitian oleh sutradara muda, Bagus Nugroho. Ia mengaku terkagum-kagum oleh dinamika alami yang terjalin di antara kedua pemainnya. Dalam satu adegan kunci, Alya duduk di samping ranjang ibunya, memegang tangan yang sudah keriput, dan tanpa dialog, hanya sorot mata, seluruh isi hati tumpah. "Saya menahan napas di balik monitor," kenang Bagus. "Mereka tidak berakting; mereka berdua sungguh-sungguh saling mengisi."

Widyawati, dengan pengalaman puluhan tahun, tidak banyak memberikan instruksi. Ia hanya duduk, menyentuh naskah, lalu berkata, "Ini bukan sekadar cerita pulang ke rumah. Ini tentang pulang ke hati." Suasana lokasi syuting yang mulanya riuh mendadak hening.

Pulang dan Melepas Rindu

Jalan Pulang bukan hanya kisah reuni, tapi juga maaf-memaafkan. Alya yang merantau ke kota besar akhirnya kembali setelah mendapat kabar ibunya sakit. Di rumah penuh kenangan itu, ia menemukan kembali foto-foto lama, mainan rusak, dan surat yang tak pernah terkirim. Momen yang mengharukan terjadi saat Alya menemukan buku diary ibunya yang mencatat setiap tanggal Alya pergi. "Setiap lembar adalah rindu yang tak terucap," ujar Sheila Dara, mengingat bagaimana ia nyaris tak mampu melanjutkan dialog saat membaca properti asli itu.

Film ini sengaja menghindari dramatisme berlebih. Tangisan terjadi di balik tawa, dan keheningan lebih berbicara. Pihak Bakti Budaya Djarum Foundation menyebut proyek ini lahir dari keprihatinan akan maraknya anak-anak yang kehilangan koneksi batin dengan orangtua. "Kami ingin penonton tidak sekadar menonton, tapi merasakan; lalu memencet nomor telepon orangtua mereka begitu layar gelap," ujar perwakilan yayasan.

Syuting di Rumah Kenangan

Lokasi syuting sengaja dipilih di sebuah rumah joglo tua di kawasan Salatiga yang usianya hampir seabad. Setiap sudutnya menyimpan cerita. Di dinding bambu yang menguning, tim produksi menggantung foto-foto buatan yang dirancang menyerupai keluarga asli. Ketika Widyawati pertama kali melangkah masuk, ia berhenti sejenak. "Saya seperti kembali ke masa kecil saya sendiri," bisiknya. Asap dupa yang sengaja dinyalakan menciptakan atmosfer sakral. Tak jarang, kru yang biasanya riuh terdiam saat adegan demi adegan berlangsung.

Produser eksekutif mengisahkan bahwa banyak anggota tim yang merupakan perantau. "Saat adegan makian dan pertanyaan ‘kenapa baru pulang?’ bergema, ada yang diam-diam menyeka air mata," katanya. "Mereka merasa disindir dengan penuh cinta."

Lebih dari Sekadar Tontonan

Film ini tidak menyajikan penutup yang sempurna. Jalan Pulang membiarkan lubang di hati penonton tetap ada, namun terasa lebih ringan. Bagus Nugroho menyadari bahwa kisah pulang tak pernah benar-benar selesai. Masih ada pagi esok, ada secangkir teh yang harus dibuat, ada obrolan yang mungkin takkan pernah selesai. "Saya ingin penonton mengerti bahwa pulang bukan tentang tiba, tapi tentang memulai," ucapnya.

Sheila Dara menambahkan, "Setelah syuting, saya menelepon ayah saya lebih lama dari biasanya. Saya tidak menceritakan film ini, hanya mendengar suaranya. Dan itu cukup."

Perjalanan yang Tak Pernah Selesai

Bagi Sheila Dara, keterlibatan di Jalan Pulang adalah perjalanan pribadi. Ia teringat ayahnya yang tinggal jauh di luar kota dan jarang ia temui. "Selama syuting, saya sering termenung. Saya dibesarkan untuk menjadi mandiri, tapi lupa bahwa di belakang kemandirian itu ada ruang kosong yang menanti diisi," akunya. Sementara itu, Widyawati menyebut film ini sebagai hadiah untuk dirinya sendiri. "Saya ibu yang sudah lama kehilangan peran sebagai seseorang yang dirindukan. Di sini, saya merasa lengkap kembali," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Jalan Pulang akan tayang di kanal YouTube Indonesia Kaya mulai 24 Juli 2026. Sebuah undangan bagi siapa pun yang pernah merasa jauh dari rumah, untuk sejenak berhenti dan memeluk kenangan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User