Aug 25, 2026
Nasional

Jakarta — Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali

NTT dikenal sebagai salah satu wilayah dengan tingkat kerentanan seismik tertinggi di Indonesia. Lokasinya yang berada di pertemuan kompleks lempeng tekton

Jakarta — Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali
NTT dikenal sebagai salah satu wilayah dengan tingkat kerentanan seismik tertinggi di Indonesia. Lokasinya yang berada di pertemuan kompleks lempeng tektonik aktif, termasuk zona subduksi Banda dan sesar back-arc Flores, membuat daerah ini rentan terhadap gempa bumi dangkal hingga sedang yang berpotensi memicu tsunami lokal. Badan Geologi mencatat bahwa separuh dari total kejadian gempa tektonik yang tercatat sepanjang tahun ini di wilayah timur Indonesia berasal dari jalur seismik yang melintasi NTT dan sekitarnya. Dalam keterangan resminya, Badan Geologi menegaskan bahwa keberadaan jalur evakuasi bukan sekadar tanda di jalan, melainkan infrastruktur sosial yang dirancang berdasarkan kajian risiko spasial dan karakteristik topografi setempat. 127 desa yang tersebar di 12 kecamatan pesisir dan pegunungan NTT telah memiliki jalur evakuasi permanen dengan total panjang mencapai 345 kilometer. Namun, data lapangan menunjukkan bahwa baru 40 persen dari total jalur tersebut yang rutin dipelihara dan dilengkapi dengan rambu-rambu arah evakuasi yang memadai. "Kepatuhan terhadap jalur evakuasi yang telah ditetapkan merupakan faktor krusial dalam mitigasi bencana gempa bumi, terutama di kawasan rawan tsunami seperti NTT. Setiap detik sangat berharga saat guncangan kuat terjadi, dan kebiasaan mengenali rute aman sejak dini dapat menurunkan risiko korban jiwa secara signifikan," ujar ahli geologi dari Badan Geologi Kementerian ESDM dalam keterangan tertulisnya.

Analisis: Tantangan Evakuasi di Wilayah Kepulauan dan Pegunungan

Secara geografis, topografi NTT yang berbukit-bukit dan berlebih-lebih pulau menimbulkan tantangan tersendiri dalam manajemen evakuasi massal. Jalur evakuasi di wilayah pesisir seringkali berupa jalan setapak menanjak dengan kemiringan ekstrem, sementara di daerah perkotaan seperti Kota Kupang, kepadatan bangunan semi-permanen kerap menghalangi akses menuju titik kumpul yang telah ditentukan. Kondisi ini memerlukan pendekatan multi-stakeholder yang melibatkan Badan Geologi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta aparatur desa untuk melakukan pemutakhiran peta risiko secara berkala.

Berdasarkan kajian risiko multi-bencana, terdapat perbedaan signifikan dalam tingkat kesiapsiagaan antarwilayah. Faktor ketersediaan infrastruktur, kepadatan penduduk, dan frekuensi sosialisasi menjadi pembeda utama dalam keberhasilan proses evakuasi. Tabel berikut menyajikan perbandingan singkat kesiapsiagaan di beberapa wilayah prioritas NTT:

Wilayah Jumlah Jalur Evakuasi Cakupan Desa Tingkat Kesiapsiagaan
Kabupaten Manggarai Barat 28 jalur 34 desa Tinggi
Kabupaten Sikka 22 jalur 29 desa Sedang
Kabupaten Ende 19 jalur 25 desa Sedang
Kabupaten Lembata 15 jalur 18 desa Perlu Peningkatan
Kota Kupang 43 jalur 21 kelurahan Tinggi

Tingkat kesiapsiagaan diklasifikasikan berdasarkan indikator ketersediaan rambu, frekuensi simulasi, dan persentase penduduk yang mengenali jalur evakuasi.

Dari data tersebut, terlihat bahwa Kota Kupang dan Kabupaten Manggarai Barat memiliki distribusi jalur evakuasi terbanyak, sejalan dengan skala populasi dan intensitas kunjungan wisatawan. Namun, wilayah-wilayah terpencil seperti Lembata menunjukkan gap infrastruktur yang memerlukan perhatian khusus. Badan Geologi juga menyoroti bahwa 65 persen kecelakaan saat evakuasi akibat gempa di daerah rural disebabkan oleh warga yang tidak mengenali arah atau menggunakan jalan alternatif yang tidak direkomendasikan.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Badan Geologi mendorong pemda setempat menggelar simulasi evakuasi berkala minimal dua kali setahun, melibatkan sekolah, pasar tradisional, dan pemukiman padat. Selain itu, pemetaan jalur evakuasi digital melalui aplikasi berbasis ponsel pintar tengah diujicobakan di beberapa desa percontohan agar informasi dapat diakses secara real-time saat gempa terjadi.

Masyarakat juga dihimbau untuk mempersiapkan tas siaga bencana ( emergency go-bag ) yang berisi dokumen penting, air minum, obat-obatan, serta perlengkapan komunikasi. Badan Geologi menegaskan bahwa ketenangan dan kepatuhan pada prosedur yang telah ditetapkan jauh lebih efektif dalam menyelamatkan jiwa dibandingkan panic buying atau spekulasi di media sosial yang kerap memicu disinformasi. Meski aktivitas seismik merupakan fenomena alam yang tidak dapat dicegah, risiko fatalnya dapat diminimalisir melalui kedisiplinan bersama dalam menghormati jalur evakuasi dan protokol keselamatan yang berlaku.