Aug 25, 2026
Nasional

Tangani Karhutla, Polri Kirim 1.500 Tabung Oksigen ke Sumatra-Kalimantan

Polri kirim bantuan logistik dan ribuan tabung oksigen untuk penanganan karhutla di Kalimantan Barat. Dukungan ini untuk masyarakat dan petugas di lapangan.]]>

Tangani Karhutla, Polri Kirim 1.500 Tabung Oksigen ke Sumatra-Kalimantan

Tangani Karhutla, Polri Kirim 1.500 Tabung Oksigen ke Sumatra-Kalimantan

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat hingga akhir Juli 2023, terdapat 385 titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Sebagian besar titik api tersebar di provinsi-provinsi di Pulau Sumatra dan Kalimantan. Menanggapi kondisi ini, Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mengirimkan bantuan berupa 1.500 tabung oksigen guna mendukung upaya penanganan karhutla di wilayah tersebut.

Distribusi Bantuan ke Wilayah Terdampak

Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol. Dedi Prasetyo mengatakan bahwa bantuan tabung oksigen ini akan didistribusikan ke wilayah Sumatera Utara, Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat. Wilayah-wilayah tersebut saat ini sedang menghadapi tantangan serius akibat kebakaran hutan dan lahan yang menyebabkan peningkatan partikulat udara (PM2.5) berbahaya.

"Kami mengirimkan 1.500 tabung oksigen sebagai bentuk dukungan Polri dalam membantu masyarakat terdampak asap karhutla. Khususnya bagi mereka yang memiliki kondisi kesehatan rentan seperti lansia dan penderita penyakit paru-paru," ujar Dedi dalam keterangannya, Kamis (3/8/2023).

Tanggap Darurat Karhutla di Sumatra dan Kalimantan

Data dari KLHK menunjukkan bahwa Provinsi Riau menjadi wilayah dengan jumlah titik kebakaran terbanyak di Sumatra dengan total 112 titik api. Diikuti oleh Sumatera Utara dengan 89 titik api, dan Jambi dengan 57 titik api. Sementara itu di Kalimantan, Kalimantan Barat mencatat 64 titik kebakaran, diikuti Kalimantan Tengah dengan 48 titik api.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letnan Jenderal TNI Suharyanto mengatakan bahwa pemerintah telah menetapkan status tanggap darurat karhutla di 12 provinsi se-Indonesia. Status ini diberlakukan hingga akhir Agustus 2023 mendatang.

"Kondisi cuaca yang kering dan berangin di beberapa wilayah memperburap penyebaran asap. Kami meminta seluruh pihak untuk bersama-sama mengantisipasi dan menangani karhutla ini," ujar Suharyanto.

Upaya Pencegahan dan Penanggulangan

Seiring dengan penanganan darurat, Polri juga melaksanakan berbagai upaya pencegahan karhutla. Polisi melakukan patroli rutin di area-area rawan kebakaran, khususnya di sekitar perkebunan dan hutan. Selain itu, pihak kepolisian juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya kebakaran hutan dan larangan membakar lahan.

"Kami berkoordinasi dengan pemerintah daerah, TNI, dan instansi terkait lainnya untuk melakukan penanggulangan karhutla secara menyeluruh. Mulai dari pemadaman api hingga penyediaan fasilitas kesehatan bagi masyarakat terdampak," jelas Dedi Prasetyo.

Dampak Kesehatan Akibat Asap Karhutla

Asap tebal dari karhutla telah menyebabkan berbagai masalah kesehatan bagi masyarakat, terutama di wilayah dengan indeks standar pencemar udara (ISPU) yang berbahaya. Beberapa gejala yang sering dialami adalah iritasi mata, batuk, sesak napas, dan sulit bernapas.

"Kami khawatir jika kondisi ini berlanjut, dapat terjadi lonjakan kasus penyakit pernapasan akut terutama pada anak-anak dan lansia. Oleh karena itu, penyediaan tabung oksigen ini sangat penting untuk antisipasi," kata Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan dr. Syahril.

Koordinasi Antar Instansi

Koordinasi antar instansi menjadi kunci utama dalam penanganan karhutla. Selain Polri, TNI, KLHK, dan Kementerian Kesehatan, beberapa instansi lain seperti Kementerian Pertahanan, Kementerian Perhubungan, dan BPBD juga turut serta dalam upaya penanganan ini.

"Kami terus melakukan monitoring dan evaluasi terhadap perkembangan karhutla. Jika diperlukan, akan ditambah lagi tim dan alat berat untuk membantu pemadaman api," tambah Suharyanto dari BNPB.

Harapan Penanganan yang Lebih Cepat

Masyarakat berharap penanganan karhutla dapat lebih cepat dan efektif sehingga dampak bagi kesehatan dan aktivitas sehari-hari dapat diminimalisir. Selain itu, diperlukan langkah jangka panjang dalam mengatasi masalah karhutla yang terjadi hampir setiap tahun di Indonesia.

"Harapannya dengan adanya koordinasi yang baik dan dukungan semua pihak, karhutla dapat segera dikuasai sehingga masyarakat dapat bernapas udara bersih kembali," tutup Dedi Prasetyo.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User