Kabar membanggakan kembali datang dari industri perfilman Tanah Air. Aktris berbakat Aghniny Haque secara resmi mencatatkan debut internasionalnya lewat film horor bertajuk Khadam. Langkah besar ini menjadi tonggak sejarah baru dalam perjalanan kariernya, mengingat proyek ini merupakan hasil kolaborasi lintas negara yang mempertemukan talenta-talenta hebat dari Indonesia dan Malaysia.
Film Khadam lahir dari kerja sama empat rumah produksi ternama, yaitu Red Communications dan Komet Productions asal Malaysia, yang berkolaborasi dengan MAGMA Entertainment serta VMS Studios dari Indonesia. Berada di lingkungan kerja yang baru dengan kru dan jajaran pemeran antarnegara, Aghniny mengaku sempat merasa cemas. Namun, suasana profesional di lokasi syuting langsung mencairkan rasa gugupnya sejak hari pertama.
“Aku benar-benar bersyukur bisa dapat pengalaman ini. Awalnya emang gugup karena ini project internasional pertamaku, tapi ternyata semua cast dan crew sangat menerima dengan hangat,” ungkap Aghniny saat memberikan keterangan resmi.
Tantangan utama yang dihadapi Aghniny dalam film ini terbilang sangat ekstrem. Ia dipercaya memerankan karakter utama bernama Melor, seorang ibu yang tidak dapat berbicara (bisu). Tanpa bantuan dialog kata-kata, Aghniny dituntut untuk menumpahkan seluruh emosi, ketakutan, dan kesedihan karakter hanya melalui bahasa tubuh, gerak-gerik emosional, serta tatapan mata.
Lebih sulitnya lagi, cerita film Khadam berlatar belakang era 1950-an. Kondisi ini memaksa aktris mantan atlet taekwondo tersebut untuk mempelajari bahasa isyarat kuno yang berlaku pada zaman itu. Melor digambarkan sebagai sosok ibu gigih yang harus bertaruh nyawa demi melindungi anak-anaknya dari cengkeraman teror gaib yang mencekam.
“Aku bisa bilang ini salah satu peran paling menantang bagiku. Nggak hanya harus melakukan syuting di lingkungan baru, tapi gimana aku harus menunjukkan emosi tanpa kata-kata,” tambah Aghniny mempertegas kerumitan eksplorasi perannya.
Tantangan Akting Non-Verbal dan Ekspansi Sinema Regional
Keputusan sang sutradara dan produser untuk meniadakan suara verbal pada karakter Melor memberikan nuansa visual yang segar sekaligus mencekam. Dalam film horor, suara ketakutan biasanya diwakili oleh jeritan. Namun, kehadiran karakter Melor membalikkan stigma tersebut; penderitaan dan teror justru terasa lebih pekat ketika disampaikan dalam keheningan total.
Secara visual, poster resmi film Khadam juga sudah memberikan sinyal kuat tentang depresi psikologis yang diusung. Gambar akar pohon yang melilit erat bagian kepala Melor memperlihatkan bagaimana beban misteri dan teror gaib mengurung pikiran sang ibu serta keluarganya.
Kolaborasi antara sineas Indonesia dan Malaysia ini dinilai para pengamat film sebagai langkah strategis untuk memperluas pasar sinema Asia Tenggara. Penayangan film ini diproyeksikan akan menyedot perhatian besar para pecinta genre horor saat resmi meluncur pada 16 September 2026 di seluruh bioskop Indonesia.
| Aspek Perbandingan | Peran Horor Konvensional | Peran Aghniny di 'Khadam' |
|---|---|---|
| Metode Komunikasi | Dialog verbal & jeritan spontan | Bahasa isyarat & ekspresi non-verbal |
| Latar Waktu Cerita | Era modern / kontemporer | Era klasik 1950-an |
| Skala Produksi | Skala lokal / domestik | Kolaborasi regional (2 Negara) |
Kehadiran Aghniny Haque dalam Khadam memperbuktikan bahwa aktor Indonesia memiliki daya saing tinggi untuk menembus pasar internasional. Keberhasilannya mengeksplorasi bahasa isyarat era 1950-an tanpa suara menjadi bukti totalitasnya dalam berkarya.
Comments (0)