Lampu utama Indonesia Arena di Senayan, Jakarta, belum menyala penuh ketika Iskandar Loedin melangkah naik ke panggung, Jumat (21/8/2026). Ruangan masih sepi, hanya sesekali terdengar derit kursi para jurnalis yang mulai berkumpul. Namun bagi pria yang telah puluhan tahun berjuang di dunia seni pertunjukan itu, keheningan justru terasa seperti doa yang akhirnya dikabulkan. Hari itu, ia resmi memperkenalkan Pagelaran Sabang Merauke 2026 kepada publik melalui konferensi pers yang digelar di arena megah tersebut.
Saat mulai berbicara, suaranya sempat serak. Ia berhenti sejenak, menelan ludah, lalu tersenyum tipis. Di depannya, puluhan awak media duduk tertib dengan kamera dan alat rekam yang siap menyala. "Ada momen ketika saya merasa semua perjalanan ini tidak akan pernah sampai ke titik ini," ujarnya, membuat ruangan hening sejenak. Momen mengharukan itu menjadi pembuka kisah panjang yang ia ceritakan di hadapan para hadirin.
Akar Sebuah Mimpi yang Tumbuh Perlahan
Dalam kesempatan itu, Iskandar mengisahkan bahwa gagasan Pagelaran Sabang Merauke berawal dari perjalanan-perjalanan sederhana ke daerah-daerah pelosok. Ia menceritakan pertemuannya dengan seorang penari tua di ujung timur Indonesia yang tetap menari meski lututnya sudah tak lagi kuat menopang tubuh. "Beliau bilang, selama ada satu orang yang mau menonton, saya akan terus menari," kenangnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Kisah-kisah semacam itulah, kata dia, yang menumbuhkan keyakinan bahwa kekayaan budaya Nusantara layak mendapat panggung sebesar cerita-ceritanya. Bukan sekadar pentas biasa, melainkan sebuah perayaan yang mampu menyatukan suara dari Sabang hingga Merauke dalam satu rangkaian acara yang menghangatkan hati.
Satu Panggung untuk Ribuan Kisah Nusantara
Pagelaran Sabang Merauke 2026 digambarkan sebagai perayaan budaya berskala besar yang menampilkan seniman dari berbagai penjuru tanah air. Persiapan telah berjalan lama dan melibatkan ratusan pihak, mulai dari komunitas seni di kampung-kampung, para kurator, hingga anak-anak muda yang rela berjuang diam-diam di balik layar.
Ia menegaskan bahwa acara ini bukan soal kemewahan panggung atau teknologi canggih. Yang ingin ditonjolkan adalah manusia-manusia di baliknya: petani yang juga penari, nelayan yang juga penyair, serta ibu-ibu yang menganyam sambil menyanyikan lagu leluhur. "Kami ingin orang datang bukan hanya untuk menonton, tapi untuk saling mengenal," tuturnya.
Meski rincian teknis masih terus disempurnakan, antusiasme sudah terasa sejak pagi. Beberapa komunitas seni bahkan mengirimkan ucapan dukungan lewat media sosial, sesuatu yang membuat Iskandar tersenyum lebar saat menyebutkannya.
Di Balik Layar: Air Mata dan Pengorbanan yang Tak Terlihat
Tak banyak orang tahu betapa panjang proses menuju hari ini. Iskandar membuka sedikit tabirnya: ada masa ketika pendanaan tersendat, ketika beberapa rekan menyerah di tengah jalan, dan ketika keraguan mulai merayap ke hati setiap orang yang terlibat. Namun justru pada titik terendah itulah, kata dia, mereka belajar arti bangkit.
"Saya pernah menangis di mobil setelah satu pertemuan yang gagal. Tapi esok harinya saya bangun lagi, karena mimpi ini bukan milik saya sendiri."
Kutipan itu membuat sejumlah hadirin terdiam. Ada yang buru-buru mencatat, ada pula yang sekadar menunduk, tersentuh oleh kejujuran sang narasumber.
Pesan Sederhana dari Seorang Pejuang Budaya
Menjelang akhir acara, Iskandar menyampaikan pesan yang sederhana namun menggugah. Ia berharap generasi muda Indonesia tidak menunggu menjadi besar untuk mulai peduli pada budaya sendiri. Mulailah dari hal kecil, katanya, dari mempelajari satu tarian, satu lagu, atau sekadar mendengarkan kisah para leluhur di kampung halaman.
Ketika konferensi pers usai, Iskandar tak langsung meninggalkan panggung. Ia berdiri beberapa saat, memandangi arena yang kelak dipenuhi ribuan penonton, lalu menghela napas panjang. Baginya, perjalanan ini belum berakhir, malah baru saja dimulai. Dan seperti yang selalu ia yakini, inspirasi terbesar selalu lahir dari langkah-langkah yang paling sederhana.
Comments (0)