Oct 10, 2026
entertainment

Isaac Slade, Suara yang Menghangatkan Panggung Ed Sheeran

Di bawah sorotan lampu yang perlahan meredup, sosok itu berdiri agak canggung di sisi panggung. Bukan Ed Sheeran yang jadi pusat perhatian malam itu, melainkan seorang pria berambut pirang dengan tata...

Isaac Slade, Suara yang Menghangatkan Panggung Ed Sheeran

Di bawah sorotan lampu yang perlahan meredup, sosok itu berdiri agak canggung di sisi panggung. Bukan Ed Sheeran yang jadi pusat perhatian malam itu, melainkan seorang pria berambut pirang dengan tatapan tenang yang sudah lama tak muncul di hadapan ribuan pasang mata. Isaac Slade, mantan vokalis The Fray, mengisahkan kembali perjalanan panjangnya kepada Ed Sheeran saat keduanya berbincang di balik layar sebelum konser dimulai. "Aku sempat berpikir tidak akan pernah lagi merasakan getaran panggung seperti ini," ujarnya lirih, seperti dikisahkan seorang kru yang mendengar percakapan itu.

Momen mengharukan itu menjadi penanda babak baru bagi Ed Sheeran. Setelah ditinggal hampir seluruh musisi pendukungnya menyusul keputusan mengeluarkan Macklemore dari daftar kolaborator tur, Sheeran sempat berada di titik sunyi. Panggung-panggung besar yang biasanya dipenuhi harmoni kini terasa lengang. Di tengah kekosongan itu, Slade datang seperti jawaban yang tak diduga.

Suara yang Lama Menghilang

Bagi banyak orang, nama Isaac Slade identik dengan lagu-lagu bernuansa sendu yang pernah mengisi berbagai momen perpisahan dan pertemuan. The Fray, band yang ia besarkan dari garasi kecil di Colorado, pernah menjadi suara bagi mereka yang tak mampu mengucapkan perasaan dengan kata-kata. Ketika band itu memutuskan berhenti dari panggung besar beberapa tahun silam, Slade memilih hidup sederhana, jauh dari hiruk-pikuk industri musik.

"Aku menikmati pagi-pagi tanpa jadwal, mengantar anak ke sekolah, menikmati kopi yang tidak buru-buru," kisahnya dalam sebuah wawancara lama yang kembali dikenang publik. Namun di balik ketenangan itu, ada kerinduan yang tak pernah benar-benar padam. Ia mengaku masih sering duduk di depan piano tua di ruang kerjanya, memainkan nada-nada yang tak pernah ia bagi ke siapa pun.

Undangan dari Ed Sheeran datang di waktu yang tepat. Bukan lewat manajer, bukan lewat surat resmi, melainkan percakapan pribadi yang sederhana. "Kami bicara soal lagu, soal kehilangan, soal kenapa kita masih melakukan ini," ujar Slade dalam sesi latihan yang berlangsung akrab. Ia menyebut pertemuan itu sebagai salah satu momen paling menyentuh dalam hidupnya.

Panggung yang Kembali Bernyawa

Malam konser itu berlangsung berbeda dari biasanya. Ketika Slade melangkah ke tengah panggung, tepuk tangan penonton menggelegar, bukan karena sensasi, tetapi karena kehangatan. Ia menyanyikan salah satu lagu lama The Fray dengan aransemen baru, ditemani petikan gitar Sheeran yang lembut. Banyak penonton menyeka air mata. Beberapa pasangan saling menggenggam tangan. Seorang pria paruh baya tampak menunduk, mengenang sesuatu yang hanya ia sendiri tahu.

Di balik layar, suasana kru konser ikut berubah. Seorang penata panggung yang enggan disebut namanya mengisahkan bagaimana Sheeran menghabiskan waktu lebih lama dari biasanya untuk berlatih bersama Slade. "Ed ingin semuanya terasa jujur, tidak dibuat-buat. Dia bilang, malam ini bukan soal dia, tapi soal teman yang kembali berdiri," tuturnya. Kalimat itu seperti mewakili seluruh semangat konser malam itu.

"Aku datang bukan untuk mengisi kekosongan, tapi untuk mengingatkan bahwa musik selalu punya cara untuk menyembuhkan," kata Slade di hadapan penonton, dengan suara yang sempat bergetar.

Perjalanan yang Baru Dimulai

Kehadiran Slade membuka kemungkinan baru. Sejumlah nama lain disebut-sebut akan menyusul, membawa warna berbeda di setiap panggung. Namun bagi Sheeran, apa yang terjadi malam itu lebih dari sekadar penampilan tamu. Ia menyebutnya sebagai pengingat bahwa panggung bukan hanya soal sorak-sorai, tetapi juga soal manusia-manusia yang berjuang, kehilangan, lalu bangkit bersama.

Slade sendiri belum mau berjanji soal kembalinya ia ke dunia musik secara penuh. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Tapi malam ini, aku merasa hidup lagi," ujarnya sambil tersenyum tipis. Kalimat sederhana itu terasa menggema jauh setelah lampu panggung padam.

Bagi penonton yang hadir, kisah malam itu akan dikenang bukan karena siapa yang didepak atau siapa yang bertahan, melainkan karena ada dua manusia yang bertemu di tengah panggung, berbagi kerapuhan, dan mengubahnya menjadi sesuatu yang menyentuh. Di dunia yang kerap buru-buru menilai, momen seperti itu adalah pengingat: di balik setiap tur besar, ada cerita kecil tentang keberanian untuk kembali.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User