Di sudut ruang pameran yang temaram, poster berwarna gelap dengan wajah pucat seorang perempuan tua terpampang di dinding. Beberapa pengunjung berdiri terpaku, mata mereka menyapu detail yang serba tidak nyaman: kerutan tajam, tatapan kosong, dan bayangan tangan yang seolah meraih keluar dari bingkai. Poster itu bukan sekadar pajangan. Ia adalah gerbang menuju salah satu film paling dinanti dalam Jakarta World Cinema 2026: Inherit, karya terbaru sutradara Thailand, Banjong Pisanthanakun.
Nama Banjong bukan sosok asing bagi pencinta horor Asia. Lewat Shutter pada awal 2000-an, ia mengukir ketakutan yang bertahan lama di ingatan penonton. Kini, setelah bertahun-tahun menjelajah berbagai genre, ia kembali ke akar yang membuat namanya dikenal. Inherit menjadi semacam pulang kampung bagi sang sutradara—sebuah perjalanan yang ia gambarkan sebagai momen mengharukan sekaligus menegangkan.
"Saya ingin membuat film horor yang bukan hanya menakut-nakuti, tapi juga menyentuh sisi manusiawi penonton," ujar Banjong dalam sesi jumpa pers yang berlangsung hangat, jauh dari kesan seram filmnya. "Kengerian sejati datang dari hal-hal yang kita warisi tanpa pernah kita minta."
Kengerian yang Diwariskan dari Generasi ke Generasi
Judul Inherit menyimpan makna yang dalam. Film ini mengisahkan sebuah keluarga yang menerima warisan tak terduga dari nenek yang baru saja meninggal. Namun, yang mereka terima bukan sekadar rumah tua atau perhiasan, melainkan sesuatu yang jauh lebih gelap—sebuah kutukan yang telah mengakar selama puluhan tahun.
Menurut Banjong, ide cerita ini muncul dari renungan pribadinya tentang keluarga. Ia teringat pada tradisi Thailand yang kuat akan ikatan darah dan penghormatan kepada leluhur. "Di balik setiap tradisi, selalu ada cerita yang tidak pernah diceritakan," katanya pelan. "Saya tertarik pada sisi tersembunyi itu."
Proses penggarapan film ini memakan waktu hampir dua tahun. Banjong dan timnya melakukan riset mendalam tentang ritual-ritual kuno di pedesaan Thailand, mewawancarai para tetua kampung, dan mengumpulkan kisah-kisah yang selama ini hanya beredar dari mulut ke mulut. Hasilnya adalah sebuah film yang kaya akan detail budaya, namun tetap terasa universal.
"Kami menemukan banyak kisah nyata yang lebih menakutkan daripada fiksi," kenangnya sambil tersenyum tipis. "Tapi saya tidak ingin mengeksploitasi tragedi. Saya ingin merayakan keberanian orang-orang yang berjuang melawan masa lalu mereka."
Perjalanan Panjang Menuju Layar Jakarta
Perjalanan Inherit hingga bisa tayang di Jakarta World Cinema 2026 bukan tanpa liku. Film ini sempat mengalami penundaan produksi akibat pandemi, dan Banjong mengaku hampir kehilangan semangat. "Ada saat-saat di mana saya merasa mimpi ini terlalu jauh," akunya. "Tapi saya ingat pesan ibu saya: jangan pernah menyerah pada cerita yang ingin kamu sampaikan."
Dukungan dari para pemain menjadi salah satu faktor yang membangkitkan kembali semangatnya. Aktris senior yang memerankan sosok nenek dalam film ini, yang namanya masih dirahasiakan, disebut Banjong sebagai "jiwa dari film ini". Ia bahkan rela menempuh perjalanan berjam-jam ke pelosok negeri untuk mendalami perannya.
"Air mata saya jatuh saat melihat dedikasinya," ujar Banjong. "Dia bukan hanya berakting, dia hidup sebagai karakter itu."
Jakarta World Cinema 2026 sendiri menjadi panggung yang tepat bagi Inherit. Festival ini dikenal sebagai rumah bagi film-film yang berani menyuarakan sisi humanis di balik genre yang sering dianggap sekadar hiburan. Penonton Indonesia, yang selama ini akrab dengan horor Asia, diprediksi akan menyambut film ini dengan antusias.
Sebuah Warisan untuk Penonton Indonesia
Bagi Banjong, tayangnya Inherit di Jakarta adalah momen yang sangat personal. Ia mengingat bagaimana film-film Indonesia seperti Pengabdi Setan dan karya Joko Anwar memberinya inspirasi. "Kami saling belajar," katanya. "Horor Asia punya bahasa universal: ketakutan akan kehilangan, akan masa lalu, akan dosa yang tak terampuni."
Ia berharap penonton Indonesia tidak hanya datang untuk merasa takut, tetapi juga untuk merenung. "Bawalah pulang sesuatu dari film ini," pesannya. "Mungkin pertanyaan tentang keluarga kalian sendiri. Tentang apa yang kalian wariskan kepada anak-anak kalian."
Di balik semua jumpscare dan atmosfer mencekam, Inherit sesungguhnya adalah kisah tentang cinta yang salah arah, tentang rahasia yang terlalu berat untuk dipikul sendirian. Banjong menyebutnya sebagai "surat cinta yang gelap untuk keluarga saya".
Ketika ditanya apa yang paling ia syukuri dari perjalanan ini, ia terdiam sejenak. Matanya berkaca-kaca. "Saya bersyukur masih bisa bercerita," jawabnya lirih. "Karena tidak semua orang diberi kesempatan untuk membagikan mimpi buruknya, dan menemukan bahwa orang lain juga memimpikannya."
Bagi para pencinta film, Inherit bukan sekadar tontonan. Ia adalah undangan untuk menatap warisan kita sendiri—entah itu berkat atau kutukan—dan memutuskan apa yang akan kita teruskan kepada generasi berikutnya. Jakarta World Cinema 2026 akan menjadi saksi bagaimana sebuah kisah sederhana dari Thailand mampu menyentuh hati penonton dari berbagai penjuru.
Comments (0)