Sep 19, 2026
Hukum

IMO Desak Negara Dunia Hentikan Serangan Kapal Niaga

Dunia maritim sedang berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Jalur perdagangan laut yang seharusnya menjadi urat nadi perekonomian global kini berubah me

IMO Desak Negara Dunia Hentikan Serangan Kapal Niaga

Dunia maritim sedang berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Jalur perdagangan laut yang seharusnya menjadi urat nadi perekonomian global kini berubah menjadi wilayah yang dipenuhi ancaman mematikan. Dalam pembukaan pertemuan Subkomite Pengangkutan Muatan dan Kontainer di London, Organisasi Maritim Internasional (IMO) menyampaikan seruan darurat kepada seluruh negara anggota untuk segera menghentikan aksi yang mengancam keselamatan kapal niaga dan para pelaut.

Ketegangan geopolitik yang memuncak di berbagai kawasan menjadi pemicu utama maraknya aksi penyerangan terhadap armada sipil. Para pelaut yang tidak ada hubungannya dengan konflik politik kerap menjadi korban tak bersalah di lautan lepas. Kondisi ini memicu keprihatinan mendalam dari komunitas internasional yang menggantungkan pasokan logistik pada jalur perairan dunia.

Maraknya Serangan di Jalur Strategis Dunia

Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, menegaskan bahwa tindakan menjadikan kapal dagang sebagai target serangan dalam suatu konflik sama sekali tidak dapat dibenarkan. Ia menilai dunia sedang menyaksikan tren berbahaya ketika peperangan dijadikan dalih untuk melanggar hukum maritim internasional.

"Konflik geopolitik kini kerap dijadikan dalih untuk menyerang kapal niaga dan para pelaut yang sama sekali tidak terlibat dalam perselisihan. Keselamatan para pekerja laut dan kapal harus tetap dihormati dan dilindungi dalam situasi apa pun," ujar Arsenio Dominguez penuh keprihatinan.

Data yang dihimpun oleh IMO menunjukkan peningkatan signifikan dari eskalasi bentrokan di kawasan perairan vital. Sejak konflik di kawasan Timur Tengah berkecamuk pada Februari, IMO telah memverifikasi sedikitnya 80 serangan terhadap pelayaran internasional di sekitar Selat Hormuz dan Laut Merah. Penyerangan tersebut telah mengakibatkan sedikitnya 22 pelaut tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka berat.

Tidak hanya di Timur Tengah, ketegangan serupa juga membara di wilayah perairan Eropa Timur. Di Laut Hitam dan Laut Azov, puluhan korban jiwa dari pihak awak kapal sipil juga dilaporkan berjatuhan dalam beberapa bulan terakhir akibat hantaman rudal maupun tembakan artileri.

Dampak Terhadap Rantai Pasok dan Pelaut yang Terjebak

Eskalasi keamanan ini tak sekadar menelan korban jiwa, tetapi juga melumpuhkan aktivitas logistik global. Di kawasan Teluk, diperkirakan ada sekitar 400 kapal niaga dan lebih dari 6.000 pelaut yang terjebak dan tidak bisa berlayar akibat meningkatnya potensi ancaman keamanan di perairan sekitarnya.

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai eskalasi ancaman keamanan di jalur maritim internasional, berikut adalah rekapitulasi data wilayah terdampak yang dirangkum dari laporan resmi IMO:

Kawasan Perairan Bentuk Ancaman / Kejadian Dampak & Korban Jiwa
Selat Hormuz & Laut Merah 80 serangan terverifikasi sejak Februari Sedikitnya 22 pelaut tewas, puluhan luka-luka
Laut Hitam & Laut Azov Serangan rudal dan artileri pada kapal niaga Puluhan awak kapal tewas dalam beberapa bulan terakhir
Wilayah Teluk Penutupan jalur dan ancaman penyergapan 400 kapal dan 6.000 pelaut terjebak

Mendesak Perlindungan Hukum Internasional

Industri pelayaran internasional membawa lebih dari 80 persen barang perdagangan dunia. Gangguan berlanjut pada jalur maritim ini tidak hanya membahayakan nyawa para pelaut, tetapi juga memicu lonjakan biaya pengiriman barang (freight cost), kenaikan premi asuransi laut, serta potensi kelangkaan komoditas di tingkat global.

IMO menegaskan kembali pentingnya menaati Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS) dan berbagai regulasi keselamatan pelayaran dunia. Negara-negara yang bertikai dituntut untuk memberikan jaminan keamanan navigasi serta tidak mengganggu perlintasan kapal-kapal sipil yang melintas di perairan internasional.

Seruan tegas dari IMO ini menjadi pengingat keras bagi dunia bahwa di balik stabilitas ekonomi dan ketersediaan barang di pasaran, ada jutaan pelaut yang mempertaruhkan nyawa mereka di tengah lautan. Perlindungan terhadap mereka bukan lagi sekadar pilihan diplomasi, melainkan sebuah keharusan kemanusiaan yang mendesak untuk ditegakkan bersama.

Ketegangan geopolitik kian membahayakan pelaut sipil. IMO mencatat 80 serangan terjadi di Selat Hormuz dengan korban 22 pelaut tewas. Baca selengkapnya hanya di Beritaseputar.com.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User