Lampu panggung tiba-tiba meredup. Di tengah riuh alunan gitar yang baru saja membakar semangat ribuan penonton, malam di +62 Coffee RI Fest 2026 berubah hening dalam sekejap. Di atas panggung, personel Feast berdiri diam, menunduk. Mereka tidak melanjutkan lagu, tidak bercanda, tidak menyapa. Yang terdengar hanyalah bisik-bisik penonton yang saling bertanya, sebelum suara vokalis memecah keheningan dengan satu ajakan sederhana: berdoa untuk para korban gempa yang mengguncang Nusa Tenggara Timur.
"Malam ini, kami tidak bisa melanjutkan pertunjukan tanpa meluangkan waktu untuk saudara-saudara kita di NTT," ujarnya dari tengah panggung, suara bergetar menahan haru. "Mereka sedang berjuang di sana. Kami percaya, doa kalian adalah hal paling sederhana yang bisa kita berikan malam ini."
Ribuan tangan terangkat ke udara. Sebagian menutup wajah, sebagian memejamkan mata. Di sudut area penonton, seorang perempuan muda menangis sesenggukan sambil menggenggam telepon genggamnya, seolah mencoba meraih kabar dari kampung halaman. Malam yang semula riuh oleh musik, dalam hitungan detik berubah menjadi ruang duka yang khusyuk dan menyentuh.
Saat Lagu Berhenti, Ribuan Tangan Terangkat
Momen mengharukan itu mengisahkan bahwa musik tidak pernah hanya soal nada dan suara. Di malam itu, panggung festival yang seharusnya menjadi tempat bersenang-senang justru menjelma menjadi altar doa bersama. Perjalanan emosi penonton berubah drastis: dari teriakan kegembiraan, menjadi isak tangis yang tertahan, lalu hening yang dalam.
Seorang penonton yang ditemui seusai acara mengaku tidak kuasa menahan air mata. "Saya hanya bisa berdoa semoga mereka yang terdampak diberi kekuatan untuk bangkit," katanya lirih. Baginya, momen itu menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap festival, ada saudara sebangsa yang sedang menghadapi ujian berat.
Di Balik Layar: Keputusan yang Lahir dari Hati
Keputusan menyisipkan doa di tengah pertunjukan ternyata tidak lahir dari skenario yang direncanakan. Dari obrolan di balik layar, para personel Feast mengaku terpukul saat menerima kabar bencana yang melanda NTT sesaat sebelum naik panggung. Berdiri di atas panggung lalu berpura-pura semuanya baik-baik saja, bagi mereka, terasa mustahil.
"Kami sempat diam lama di ruang ganti. Rasanya aneh harus bernyanyi riang padahal ada saudara kami yang sedang kehilangan," kenang salah satu personel. "Jadi kami sepakat, sebelum melanjutkan pertunjukan, kami berdoa dulu bersama penonton. Itu cara kami berbagi duka."
Musik Menjadi Ruang Berbagi Duka
Di tengah derasnya informasi yang datang dari lokasi bencana, momen doa bersama itu menjadi ruang bagi ribuan orang untuk merasakan duka yang sama. Tidak ada sekat antara penonton di barisan depan dan mereka yang berdiri di paling belakang; semuanya larut dalam doa yang sama. Musik, yang biasanya memisahkan penonton berdasarkan selera, malam itu justru mempertemukan mereka dalam satu perasaan.
Seusai doa, Feast kembali memetik senar gitar. Namun nada yang dimainkan terasa berbeda—lebih pelan, lebih dalam, seolah setiap ketukan membawa doa yang baru saja diucapkan. Beberapa penonton tetap memejamkan mata bahkan ketika lagu telah berjalan. Ada semacam keyakinan bahwa malam itu, panggung kecil ini sedang menjadi jembatan doa menuju NTT.
Harapan yang Tersisa di Tengah Duka
Perjalanan malam itu memang berakhir, tetapi pesan yang ditinggalkannya tidak. Dari panggung, Feast menitipkan harapan agar dukungan tidak berhenti pada doa semata. "Jangan berhenti sampai di sini. Doa itu penting, tapi saudara kita juga butuh uluran tangan nyata," pesan mereka sebelum turun panggung, disambut tepuk tangan panjang yang menggema di seluruh area festival.
Bagi banyak penonton, malam itu meninggalkan kesan yang jauh lebih dalam daripada sekadar hiburan. Di tengah suasana pesta, mereka diajak mengingat bahwa kebahagiaan hari ini adalah tanggung jawab untuk berbagi dengan sesama. Dan dari ribuan doa yang naik di malam itu, tumbuh harapan sederhana: semoga NTT segera bangkit.
Seperti kata seorang penonton yang matanya masih sembab saat festival usai, "Hari ini kami bernyanyi, berdoa, dan menangis bersama. Mudah-mudahan itu cukup untuk membuat mereka di sana merasa tidak sendiri." Malam itu, kopi boleh jadi tetap hangat di tangan, tetapi yang paling hangat adalah rasa kemanusiaan yang menyatukan semuanya.
Comments (0)