Suasana lega kini tengah menyelimuti ribuan mahasiswa internasional dan jurnalis asing yang bermarkas di Amerika Serikat. Hanya sehari sebelum aturan ketat dari Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) resmi diberlakukan, seorang hakim federal di Boston mengambil keputusan dramatis untuk memblokir kebijakan kontroversial tersebut. Langkah hukum ini menjadi angin segar di tengah ketidakpastian status tinggal para akademisi dan awak media di Negeri Paman Sam.
Hakim Distrik AS, F. Dennis Saylor, memutuskan untuk memenangkan gugatan yang diajukan oleh koalisi serikat buruh serta kelompok advokasi pendidikan tinggi. Keputusan ini menghambat pemberlakuan aturan dari pemerintahan Donald Trump yang dinilai sangat merugikan ekosistem akademik dan kebebasan pers internasional.
Keputusan Krusial di Menit-Menit Terakhir
Aturan yang sedianya bakal diterapkan DHS tersebut bertujuannya untuk menghapus sistem lama yang dikenal sebagai duration of status. Dalam sistem lama, pemegang visa pelajar (F-1) dan jurnalis asing (I) diizinkan berada di AS selama mereka tetap terdaftar di kampus atau aktif bekerja di media yang relevan. Namun, aturan baru bentukan DHS berusaha membatasi masa izin tinggal mereka secara kaku, sehingga mereka diwajibkan mengajukan perpanjangan izin yang mahal dan rumit secara berkala.
Para penggugat menegaskan bahwa jika kebijakan anyar ini dijalankan, proses birokrasi imigrasi akan mengalami penumpukan berkas (*backlog*) yang parah. Hal ini berisiko tinggi membuat para mahasiswa terancam kehilangan status hukum mereka di pertengahan masa studi hanya karena kelambatan administrasi.
"Keputusan hakim ini memberikan ruang bernapas yang sangat dibutuhkan bagi puluhan ribu mahasiswa dan jurnalis asing. Mereka kini bisa fokus pada riset dan tugas jurnalistik tanpa bayang-bayang ketakutan akan deportasi mendadak akibat kerumitan birokrasi," ungkap salah satu perwakilan koalisi pendidikan tinggi dalam persidangan.
Perbandingan Kebijakan Visa AS
Untuk memahami perbedaan besar antara aturan lama yang dipertahankan hakim dengan aturan baru yang diusulkan pemerintah, berikut adalah ringkasan perbandingannya:
| Kategori Visa | Sistem Lama (Status Quo) | Usulan Aturan Baru DHS | Status Hukum Saat Ini |
|---|---|---|---|
| Pelajar Internasional (F-1) | Berlaku selama masa studi aktif | Dibatasi maksimal 2 hingga 4 tahun | Diblokir / Kembali ke Sistem Lama |
| Jurnalis Asing (I) | Berlaku selama masa penugasan media | Dibatasi maksimal 240 hari | Diblokir / Kembali ke Sistem Lama |
| Proses Perpanjangan | Otomatis selama status aktif | Wajib perpanjangan berkala & bayar biaya tambahan | Dibatalkan |
Masa Depan Keterbukaan Akademik dan Media
Gugatan yang berhasil memenangkan kelompok advokasi ini memperlihatkan betapa krusialnya peran mahasiswa internasional dan awak media asing bagi Amerika Serikat. Kampus-kampus besar di AS berargumen bahwa membatasi masa tinggal pelajar asing secara sepihak hanya akan membuat talenta-talenta terbaik dunia berpaling ke negara lain seperti Kanada, Australia, atau Inggris.
Di sisi lain, perwakilan media internasional menyuarakan kekhawatiran bahwa pembatasan visa jurnalis hingga 240 hari dapat dipakai sebagai alat penekanan terhadap kebebasan pers. Banyak liputan mendalam dan investigasi membutuhkan waktu penugasan bertahun-tahun di lapangan.
Kendati kemenangan hukum ini disambut sukacita, para ahli hukum mengingatkan bahwa perjuangan belum usai. Pemerintah federal diperkirakan akan mengajukan banding atas keputusan Hakim Saylor ke tingkat peradilan yang lebih tinggi. Namun untuk saat ini, para pelajar dan jurnalis asing di AS bisa sedikit bernapas lega dan melanjutkan aktivitas mereka tanpa kecemasan membayangi.
Comments (0)