Di sudut warung kopi sederhana berukuran tiga kali tiga meter di Yogyakarta, seorang pria berpeci hitam duduk bersila di atas tikar. Di hadapannya, segelas kopi hitam mengepul tipis, dan beberapa anak jalanan tertawa lepas mendengar guyonannya. Pria itu tidak sedang tampil di atas panggung megah, tidak pula memegang mikrofon. Ia hanya duduk, mendengarkan, dan membiarkan tawa itu mengalir. Namanya Miftah Maulana Habiburrahman, yang lebih akrab disapa Gus Miftah. Baginya, dakwah tidak pernah soal tempat, melainkan soal hati yang mau terbuka.
Perjalanan pria kelahiran Yogyakarta itu tidak pernah lurus bagai jalan tol. Ia tumbuh dalam keluarga kiai yang disegani dan sejak kecil akrab dengan kitab kuning serta pengajian. Namun masa mudanya justru membawanya berkenalan dengan dunia yang kerap dianggap berseberangan dengan nilai pesantren. Dari sanalah ia belajar satu hal sederhana: manusia tidak pernah sesederhana label yang menempel di tubuhnya.
Masa Lalu yang Tak Pernah Ia Sembunyikan
Gus Miftah tidak pernah malu mengisahkan masa lalunya. Di berbagai kesempatan, ia bercerita jujur tentang masa muda yang penuh hiburan malam, sebelum akhirnya memilih bangkit dan kembali ke jalan yang diajarkan ayahnya. Kisah itu tidak ia jadikan beban, melainkan pelajaran. "Saya tidak mau jadi orang yang sok suci. Justru karena saya pernah jatuh, saya tahu bagaimana rasanya berada di bawah," ujarnya pernah menuturkan. Baginya, kejujuran tentang kekurangan adalah pintu pertama menuju pertobatan yang tulus.
Di balik layar kehidupannya yang kini ramai disorot, Gus Miftah tetap membawa kebiasaan sederhana: menyapa semua orang tanpa memandang status. Ia percaya bahwa setiap manusia berhak mendapat tempat, apa pun masa lalunya. Pandangan itulah yang menuntunnya melangkah ke tempat-tempat yang jarang disinggahi para pendakwah pada umumnya.
Warung Kopi, Panggung Dakwah yang Paling Jujur
Gus Miftah dikenal gemar berdakwah di tengah komunitas yang terpinggirkan: anak jalanan, pekerja hiburan malam, hingga kelompok yang selama ini dijauhi masyarakat. Ia tidak datang dengan dalil yang menggurui, tetapi dengan kopi, tawa, dan telinga yang sabar. "Mereka tidak butuh ceramah panjang. Mereka butuh didengar," katanya dalam sebuah kesempatan. Momen-momen seperti itulah yang membuat banyak orang menyebut dakwahnya menyentuh, karena dimulai dari kesetaraan, bukan dari ketinggian mimbar.
Lewat pendekatan itu, Gus Miftah mengisahkan banyak kisah mengharukan. Ada anak jalanan yang akhirnya mau kembali ke keluarga, ada pula orang yang selama bertahun-tahun memendam dendam lalu memilih memaafkan. Setiap kisah itu, bagi Gus Miftah, adalah bukti bahwa hidayah tidak pernah pilih-pilih tempat. Ia hanya perlu seseorang yang mau hadir dan mendengarkan.
Pesantren dan Misi Toleransi yang Terus Ia Jaga
Di luar aktivitasnya di jalanan, Gus Miftah juga mengasuh sebuah pesantren yang ia bangun dengan tekad melahirkan generasi santri yang terbuka. Ia mengajarkan bahwa beragama tidak berarti membenci, dan bahwa perbedaan adalah bagian dari rencana besar yang harus dirawat dengan saling menghormati. Kesungguhannya menjaga kerukunan membuatnya dipercaya mengemban amanah di bidang pembinaan kerukunan umat beragama. Meski begitu, ia tetap rendah hati dan kerap mengingatkan bahwa semua itu hanyalah amanah kecil dari tugas besarnya sebagai pendakwah.
"Mimpi saya sederhana. Saya ingin orang-orang saling memandang dengan mata yang ramah," ujarnya. Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, tetapi di baliknya ada perjuangan panjang: mengunjungi tempat-tempat yang dianggap kotor, duduk bersama orang-orang yang dianggap hina, dan membuktikan bahwa kasih sayang lebih kuat daripada penilaian.
Air Mata di Balik Senyum Sang Dai
Di balik guyonan dan tawanya yang khas, Gus Miftah juga menyimpan banyak air mata. Ia kerap menangis saat mengenang ayahnya, gurunya, dan orang-orang yang pernah ia kecewakan. Namun justru dari air mata itulah ia menemukan inspirasi untuk terus berjalan. Ia ingin membuktikan bahwa seseorang yang pernah tersesat bisa kembali dan menjadi penerang bagi sesama.
Kembali ke warung kopi kecil itu, senja mulai turun dan anak-anak jalanan berpamitan satu per satu. Gus Miftah tersenyum, lalu menggenggam tangan salah satu dari mereka dan berbisik pelan agar tidak putus asa. Pemandangan sederhana itu adalah inti dari perjalanan panjangnya: seorang dai yang memilih turun, duduk di antara mereka yang dilupakan, dan mengingatkan bahwa setiap orang berhak atas kesempatan kedua. Dari tempat yang paling sederhana, ia membuktikan bahwa dakwah yang paling menyentuh adalah dakwah yang lahir dari hati.
Comments (0)