Aug 25, 2026
entertainment

Gulungan Baju dan Kantong Vakum: Bahasa Cinta Seorang Ibu

Langit di pinggiran Yogyakarta masih menyisakan gelap ketika Siti Maryam, 58, berlutut di lantai ruang tamu rumahnya yang sederhana. Di hadapannya, sebuah koper biru terbuka lebar, menunggu diisi. Tan...

Gulungan Baju dan Kantong Vakum: Bahasa Cinta Seorang Ibu

Langit di pinggiran Yogyakarta masih menyisakan gelap ketika Siti Maryam, 58, berlutut di lantai ruang tamu rumahnya yang sederhana. Di hadapannya, sebuah koper biru terbuka lebar, menunggu diisi. Tangannya yang mulai keriput menggulung selembar kemeja dengan perlahan, rapat dan rapi, seolah yang ia gulung bukan sekadar kain, melainkan sesuatu yang jauh lebih berharga. Pagi itu, putri bungsunya, Nadia, akan kembali terbang ke Balikpapan, kota tempatnya berjuang meraih mimpi sebagai perawat.

"Baju itu digulung, Nak, jangan dilipat biasa. Muatnya bisa dua kali lipat," ujar Maryam lembut, seperti sedang mewariskan ilmu turun-temurun. "Sisa ruangnya nanti buat lauk. Ibu sudah masak rendang sama abon."

Koper yang Tak Pernah Benar-Benar Kosong

Bagi Maryam, mengemas koper bukanlah pekerjaan teknis, melainkan ritual cinta. Setiap kali Nadia pulang kampung, koper putrinya selalu kembali ke perantauan dalam keadaan penuh — bukan hanya oleh pakaian, tetapi oleh bekal masakan rumah, rempah kering, hingga surat kecil yang diselipkan diam-diam di antara tumpukan baju.

Nadia mengisahkan, kebiasaan itu bermula dari kegelisahan seorang ibu yang khawatir anaknya kelaparan di tanah rantau. Namun ruang koper yang terbatas memaksa Maryam belajar membaca trik pengemasan dari mana saja: tetangga, televisi, hingga video singkat di ponselnya. Dari sanalah ia mengenal teknik menggulung pakaian alih-alih melipatnya, cara menyimpan kaus kaki di dalam sepatu agar tak ada sudut yang terbuang, serta menata barang terberat di dekat roda supaya koper mudah diseret.

"Awalnya koper saya selalu jebol dan harus diduduki dulu biar bisa ditutup," kenang Nadia sambil tertawa kecil. "Sekarang semua muat, masih ada ruang buat titipan teman-teman."

Kantong Vakum dan Ilmu yang Menyebar

Di balik layar ritual itu, ada satu benda yang selalu disiapkan Maryam jauh hari: kantong vakum. Rendang dan abon buatannya dikemas rapat hingga kedap udara, lalu dipadatkan agar pipih dan hemat tempat. Pakaian tebal seperti jaket pun masuk ke kantong serupa, disedot udaranya hingga volumenya menyusut lebih dari separuh.

"Kantong vakum itu penyelamat," kata Maryam. "Dulu jaket anak saya saja makan setengah koper. Sekarang tipis, bisa ditumpuk." Ia juga membiasakan barang-barang kecil — obat-obatan, peralatan mandi, kabel pengisi daya — masuk ke kantong-kantong kecil terpisah, supaya mudah dicari dan tak berceceran.

Ilmu sederhana itu kini menyebar. Di kamar kosnya di Balikpapan, Nadia menjadi guru dadakan bagi rekan-rekan sejawatnya. Setiap musim mudik tiba, mereka berkumpul dan berlatih menggulung baju bersama, tertawa di antara tumpukan pakaian. Sebuah kebiasaan kecil dari dapur seorang ibu di Yogyakarta, menjelma menjadi inspirasi bagi banyak perantau.

Pelajaran dari Seorang Ibu, untuk Ibu yang Lain

Ketika ditanya dari mana semua kesabaran itu berasal, mata Maryam berkaca-kaca. Ia teringat mendiang ibunya, yang puluhan tahun silam melakukan hal serupa ketika mengantarnya merantau pertama kali. Bedanya, dulu belum ada kantong vakum; yang ada hanyalah daun pisang dan koran bekas pembungkus bekal.

"Ibu saya dulu bilang, koper yang rapi itu tanda doa yang rapi. Sekarang saya paham maksudnya. Setiap gulungan baju itu sebenarnya doa, supaya anak saya baik-baik saja di sana," tutur Maryam, suaranya bergetar.

Momen mengharukan itu selalu berulang di ambang pintu. Nadia memeluk ibunya lama, lebih lama dari biasanya, sebelum koper biru itu diseret menuju mobil. Air mata jatuh tanpa suara, lalu dihapus cepat-cepat, seolah tak ingin kepergian tampak lebih berat dari yang seharusnya.

"Saya selalu menangis lagi begitu membuka koper di kamar kos," ungkap Nadia kemudian. "Di antara gulungan baju, ada sambal, ada surat kecil dari Ibu. Koper itu seperti pelukan yang dikirim dari jauh."

Kisah Sederhana yang Menyentuh

Perjalanan hidup sering kali diukir dari hal-hal kecil yang nyaris tak terlihat: gulungan baju yang padat, kantong vakum yang pipih, kaus kaki yang tersimpan rapi di dalam sepatu. Namun di tangan seorang ibu, semua trik itu berubah makna — dari sekadar cara menghemat ruang, menjadi bahasa cinta yang tak butuh kata-kata.

Dan bagi setiap perantau yang pernah membuka koper lalu menemukan bekal di sela-sela pakaiannya, kisah Maryam dan Nadia mungkin terasa begitu dekat. Sebab di sanalah, di antara lipatan dan gulungan kain, rumah ikut serta dalam setiap perjalanan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User