Di sebuah ruang sidang yang lampu neonnya berpendar redup, seorang pria paruh baya duduk dengan tas hitam lusuh di pangkuan. Ari Bias, begitu ia biasa disapa, menatap lurus ke depan. Ini bukan kali pertama ia melangkah ke tempat itu. Ini kali kelima. Lima kali ia harus berhadapan dengan sistem hukum yang terkadang terasa seperti labirin tak berujung, hanya untuk memperjuangkan sesuatu yang ia yakini lahir dari tangannya sendiri: lagu Bilang Saja.
Bagi banyak orang, Bilang Saja mungkin sekadar tembang populer yang sempat melekat di telinga. Namun bagi Ari, lagu itu adalah anak rohani. Ia mengisahkan bagaimana melodi itu lahir dari kegelisahan malam, dari secangkir kopi yang dingin di meja kayu, dari keinginan sederhana untuk menyampaikan rasa yang tak sempat terucap. Kini, keinginan sederhana itu berubah menjadi perjalanan panjang penuh air mata, medan yang melelahkan bagi seorang pencipta lagu yang merasa haknya terusik.
Perjalanan Panjang yang Tak Kunjung Usai
Gugatan demi gugatan bergulir. Kali ini, Ari kembali menyeret sejumlah pihak ke meja hijau, termasuk penyanyi Agnez Mo, yang dianggapnya turut menikmati karya tanpa izin yang semestinya. Di balik layar, ia mengaku bukan sedang mencari sensasi. Ia hanya ingin keadilan bagi para pencipta lagu di negeri ini, yang sering kali posisinya jauh lebih rapuh dibanding nama besar penyanyi yang membawakan karyanya.
“Saya tidak pernah membayangkan harus bolak-balik ke pengadilan selama ini,” ujarnya lirih, seperti dikutip dari percakapan yang menyentuh. “Tapi kalau saya berhenti, siapa lagi yang akan berjuang untuk pencipta lagu seperti saya?”
Kalimat itu bukan sekadar retorika. Ia adalah cerminan dari kelelahan sekaligus keteguhan seorang manusia yang memilih bangkit meski berkali-kali dipatahkan. Lima kali gugatan bukan angka yang kecil. Setiap proses hukum berarti waktu, tenaga, biaya, dan beban batin yang tak kasatmata. Ada momen ketika ia harus menahan air mata di ruang sidang, saat argumennya dianggap angin lalu. Ada pula malam-malam panjang ketika ia bertanya pada diri sendiri, apakah perjuangan ini masih layak diteruskan.
“Saya hanya ingin diperlakukan sebagai manusia yang punya hak atas karyanya sendiri. Bukan lebih, bukan kurang.”
Suara Kecil di Industri yang Ramai
Industri musik Indonesia adalah panggung besar dengan gemerlap lampu sorot. Namun di balik kemegahan itu, tersimpan cerita getir para pencipta lagu. Mereka sering disebut sebagai backstage dari sebuah kesuksesan, nama mereka tercantum kecil di sampul album, royalti mengalir entah ke mana. Ari Bias adalah salah satu dari sekian banyak pencipta yang merasakan hal itu. Ia bukan figur yang gemar tampil di televisi. Ia lebih suka menyendiri di studio kecilnya, merangkai kata dan nada. Namun ketika haknya dipertanyakan, ia memilih bersuara, walau suaranya kadang tenggelam oleh riuhnya industri.
Perjuangannya kali kelima ini menjadi semacam penanda. Bukan hanya tentang Bilang Saja, tetapi tentang bagaimana negara ini memperlakukan para pencipta. Apakah mereka hanya dianggap sebagai pelengkap, atau benar-benar sebagai pemilik sah atas karya yang lahir dari perasan keringat dan inspirasi?
Harapan yang Tak Pernah Padam
Di sudut ruang tunggu pengadilan, Ari sempat tersenyum tipis ketika ditanya soal harapannya. Ia tidak menuntut kemenangan besar. Ia hanya ingin ada kepastian. Ia ingin generasi pencipta lagu berikutnya tidak perlu merasakan apa yang ia alami: berjuang sendirian, melawan ketidakadilan dengan tenaga yang terbatas.
“Mimpi saya sederhana. Saya ingin kalau orang menyanyikan lagu saya, mereka tahu siapa yang menulisnya. Dan saya bisa hidup dari itu tanpa harus merasa diabaikan,” tuturnya, menyentuh.
Perjalanan Ari Bias mungkin belum berakhir. Gugatan kelima ini bisa jadi babak baru yang lebih panjang, atau mungkin titik terang yang selama ini ia nantikan. Namun apa pun hasilnya, kisahnya telah menjadi inspirasi. Tentang seorang pencipta lagu yang memilih bangkit berkali-kali. Tentang keberanian melawan arus. Dan tentang satu hal yang tak boleh dilupakan: bahwa di balik setiap lagu yang kita nyanyikan, ada manusia dengan mimpi, air mata, dan hak yang harus dihormati.
Comments (0)