Oct 10, 2026
entertainment

Empat Musim Pertiwi, Perjalanan Pulang Seorang Perempuan

Di sebuah kamar kos sempit di lantai dua, seorang perempuan duduk termenung menatap layar laptopnya. Di luar jendela, hujan baru saja reda. Ia menulis satu baris kalimat, menghapusnya, lalu menulis la...

Empat Musim Pertiwi, Perjalanan Pulang Seorang Perempuan

Di sebuah kamar kos sempit di lantai dua, seorang perempuan duduk termenung menatap layar laptopnya. Di luar jendela, hujan baru saja reda. Ia menulis satu baris kalimat, menghapusnya, lalu menulis lagi. Begitulah proses kreatif yang ia jalani selama berbulan-bulan, sebuah perjalanan batin yang kemudian menjelma menjadi naskah berjudul Empat Musim Pertiwi atau Four Seasons in Java.

Karya ini bukan sekadar cerita fiksi biasa. Ia adalah cermin dari luka yang terlalu lama dipendam, tentang seorang perempuan penyintas kekerasan seksual yang memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya. Sebuah keputusan yang terdengar sederhana, namun menyimpan pergulatan batin luar biasa.

Ketika Rumah Bukan Lagi Tempat Aman

Mengisahkan tentang Perwira, seorang perempuan muda yang harus berhadapan dengan kenyataan pahit bahwa tempat yang seharusnya menjadi pelabuhan ternyata menyimpan badai. Ia pulang bukan karena rindu, melainkan karena tidak ada tempat lain untuk pergi.

"Ada kalanya pulang bukan tentang kembali ke tempat yang nyaman, tapi tentang berani menghadapi apa yang pernah membuatmu hancur," begitu kira-kira penggalan dialog yang tertulis dalam naskah tersebut.

Perjalanan Perwira di kampung halaman bukanlah perjalanan yang mulus. Ia harus berhadapan dengan tatapan sinis tetangga, bisik-bisik yang tak pernah ia minta, dan trauma yang datang tanpa diundang. Setiap sudut kampung menyimpan memori. Setiap wajah mengingatkan pada luka lama.

Musim sebagai Metafora Kehidupan

Judul Empat Musim Pertiwi dipilih bukan tanpa alasan. Empat musim menjadi metafora perjalanan emosional Perwira: musim semi yang penuh harapan, musim panas yang membakar, musim gugur yang merontokkan, dan musim dingin yang membekukan. Namun di balik semua itu, selalu ada musim baru yang menanti.

"Setiap perempuan punya musimnya sendiri-sendiri. Ada yang melewati musim dinginnya lebih lama, tapi bukan berarti musim semi tidak akan datang," ujar tokoh Perwira dalam salah satu adegan yang mengharukan.

Kisah ini menyentuh banyak lapisan masyarakat. Bukan hanya tentang kekerasan seksual, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat memperlakukan penyintas. Sering kali, korban justru yang disalahkan. Korban yang harus menanggung malu. Korban yang harus pergi dari kampungnya sendiri.

Air Mata yang Menjadi Kekuatan

Di balik layar, proses penulisan naskah ini penuh dengan air mata. Sang penulis mengaku sempat beberapa kali berhenti menulis karena terlalu larut dalam emosi. Namun ia sadar, cerita ini harus selesai. Bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk perempuan-perempuan lain yang mungkin mengalami hal serupa.

"Aku menulis ini sambil menangis. Tapi aku tahu, air mataku bukan tanda kelemahan. Ini tanda bahwa aku masih hidup, masih bisa merasakan, dan masih bisa bangkit," ungkapnya suatu ketika.

Kisah Perwira adalah kisah banyak perempuan. Mereka yang berjuang dalam diam. Mereka yang terus bangkit meski berkali-kali dijatuhkan. Mereka yang memilih bertahan meski dunia seolah berpihak pada yang salah.

Di akhir cerita, Perwira tidak digambarkan sebagai pahlawan yang sempurna. Ia tetap rapuh, tetap punya luka. Namun ia belajar bahwa luka bukanlah akhir dari segalanya. Luka bisa menjadi awal dari sebuah perjalanan baru. Sebuah inspirasi bagi siapa saja yang sedang berjuang pulang ke dirinya sendiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User