Aug 28, 2026
entertainment

Yosep Anggi Noen Buka Kisah di Balik Layar Laut Bercerita

Malam itu lampu ruang kerja masih menyala ketika Yosep Anggi Noen membuka lagi naskah novel yang sudah ia baca berkali-kali. Halamannya mulai menguning, pinggirannya lusuh karena terlalu sering dipega...

Yosep Anggi Noen Buka Kisah di Balik Layar Laut Bercerita

Malam itu lampu ruang kerja masih menyala ketika Yosep Anggi Noen membuka lagi naskah novel yang sudah ia baca berkali-kali. Halamannya mulai menguning, pinggirannya lusuh karena terlalu sering dipegang, dan di beberapa bagian terdapat coretan tinta biru — penanda adegan yang menurutnya tidak boleh hilang. Di sudut meja, secangkir kopi yang sudah lama dingin menemani sutradara itu merenung. Ada perasaan campur aduk di sana: haru, takut, sekaligus rasa syukur. Ia tahu, perjalanan membawa Laut Bercerita ke layar lebar bukanlah pekerjaan sederhana.

Novel karya Leila S. Chudori itu telah lama hidup di hati para pembacanya. Buku ini mengisahkan dua kisah yang saling bertaut: perjalanan Biru Ladhani, pemuda dari komunitas Bajo yang tumbuh bersama laut, serta kisah keluarga-keluarga yang menanti orang-orangnya pulang — para aktivis yang menghilang pada 1998. Cerita yang menyentuh itu membuat banyak orang menangis, sekaligus jatuh cinta pada laut yang dalam novel ini seolah punya suara sendiri.

Karena itu, ketika Yosep Anggi Noen — sutradara yang dikenal lewat karya-karyanya yang kerap mengupas sisi kemanusiaan — mengambil tanggung jawab mengadaptasinya, ia memilih jalan yang panjang. Bukan sekadar memindahkan halaman ke layar, melainkan menerjemahkan rasa.

Percakapan Panjang Sebelum Kamera Berputar

Di balik layar, proses itu dimulai dari hal-hal yang tak terlihat penonton: percakapan panjang, bertukar cerita, dan kebiasaan membaca ulang bab demi bab bersama tim penulis naskah. Yosep mengaku ia tidak ingin film ini berdiri di atas pemotongan cerita semata. Ia ingin setiap adegan lahir dari pemahaman yang dalam tentang para tokohnya.

"Novel ini sudah hidup di hati banyak orang. Tugas kami bukan menggantikannya, melainkan menjaganya tetap hidup dalam bentuk yang berbeda," ujarnya, suaranya pelan namun tegas.

Baginya, Leila S. Chudori bukan sekadar penulis yang karyanya diadaptasi, melainkan mitra perjalanan. Diskusi mereka kerap berlarut hingga malam, membahas mengapa sebuah adegan harus ada, apa yang hilang jika dipindah, dan bagaimana duka maupun harapan bisa terasa tanpa banyak kata. Dari percakapan-percakapan itulah naskah film perlahan menemukan bentuknya.

Laut yang Menjadi Tokoh Utama

Salah satu hal paling mengharukan dari proses produksi ini adalah cara tim film memperlakukan laut. Bagi Yosep, laut bukan latar, melainkan tokoh. Ia menyaksikan para kru berjuang menghadapi cuaca yang berubah-ubah, gelombang yang tak selalu ramah, serta jadwal yang harus digeser berkali-kali demi satu gambar yang pas.

"Ada momen ketika semua orang diam, menatap laut, lalu satu per satu kembali bekerja dengan tenaga yang baru. Laut itu mengajari kami rendah hati," katanya sambil tersenyum.

Kesederhanaan semacam itulah yang ia pegang. Peralatan canggih boleh membantu, kata ia, tetapi yang membuat film hidup adalah ketulusan orang-orang di baliknya — dari penata kamera yang rela basah kuyup, penata musik yang mencari bunyi ombak yang tepat, hingga para pemeran yang belajar menangkap rasa kehilangan yang tak pernah mereka alami sendiri.

Menjaga Mimpi, Menyampaikan Pesan

Yosep mengisahkan bahwa proses panjang ini juga menyisakan air mata. Ketika cuplikan pertama ditayangkan di hadapan tim terbatas, sejumlah orang terdiam lama setelah lampu menyala. Ada yang mengusap mata. Ada yang hanya mengangguk pelan. Momen itu, kata ia, menjadi pengingat sederhana: cerita tentang keluarga yang menunggu, tentang orang-orang yang menghilang, dan tentang laut yang menyimpan semua kenangan, masih sangat relevan hingga hari ini.

"Kita boleh berbeda pendapat tentang banyak hal, tetapi kita tidak boleh lupa. Film ini adalah cara kami untuk mengingat, dengan penuh kasih," ungkapnya.

Bagi penonton yang telah mencintai novelnya, ia berpesan agar datang dengan hati terbuka. Film ini tidak bermaksud menggantikan imajinasi pembaca, melainkan mengajak bertemu kembali dengan tokoh-tokoh itu dari sudut yang baru. Dan bagi generasi yang belum membaca bukunya, ia berharap layar lebar menjadi pintu masuk untuk mengenal kisah ini lebih jauh — sebuah inspirasi untuk kembali membaca.

Di akhir percakapan, Yosep kembali memegang novel tua itu. Ia menepuknya pelan, seperti menyapa sahabat lama. Perjalanan yang panjang hampir sampai, tetapi baginya ini bukan garis akhir. "Kalau ada satu penonton yang pulang dari bioskop lalu ingin tahu lebih banyak tentang kisah ini, tugas kami sudah selesai," katanya. Dari ruang kerja sederhana itu, sebuah mimpi bersiap berlayar — membawa cerita tentang laut, kehilangan, dan cinta menuju ribuan pasang mata yang siap bangkit kembali mengenang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User