GCC Kutuk Serangan Iran sebagai Kejahatan Perang
Ketegangan di kawasan Teluk Persia semakin memanas setelah Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan militer selama tujuh malam berturut-turut.
Ketegangan di kawasan Teluk Persia semakin memanas setelah Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan militer selama tujuh malam berturut-turut. Dalam eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) secara resmi mengecam serangan Iran terhadap fasilitas sipil di negara-negara anggota, dengan menyebut tindakan tersebut sebagai kejahatan perang. Sebuah pabrik desalinasi air di Kuwait dilaporkan mengalami kerusakan parah akibat serangan rudal Iran.
Ketegangan di Selat Hormuz Kian Memanas
Pertempuran yang berpusat di sekitar Selat Hormuz—jalur vital bagi sepertiga perdagangan minyak dunia—dimulai setelah AS menuduh Iran merencanakan serangan terhadap kapal dagang. Komando Pusat AS mengkonfirmasi telah melancarkan serangan udara malam ketujuh berturut-turut yang menargetkan infrastruktur militer dan kemampuan maritim Iran di sepanjang pesisir. Sementara itu, Iran membalas dengan meluncurkan rudal balistik ke beberapa negara tetangga, termasuk Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab.
Menurut laporan intelijen yang diterima Beritaseputar.com, serangan AS berhasil menghancurkan setidaknya 12 baterai pertahanan udara Iran dan dua pangkalan angkatan laut. Namun, Militer Iran mengklaim bahwa serangan mereka justru mengenai "target strategis" di negara-negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.
AS Lanjutkan Serangan Malam Ke-7
Dalam konferensi pers singkat di Pentagon, Jenderal Michael Kurilla dari Komando Pusat AS menyatakan bahwa operasi militer akan terus berlanjut hingga Iran menghentikan agresinya. "Kami tidak mencari perang, tetapi kami akan melindungi kepentingan kami dan sekutu di kawasan. Serangan malam ini menargetkan kemampuan Iran untuk mengganggu navigasi di Selat Hormuz," ujarnya.
"Setiap serangan dirancang untuk mengurangi ancaman terhadap kapal komersial dan militer AS. Kami telah memberikan peringatan yang jelas."
— Jenderal Michael Kurilla, Komando Pusat AS
Serangan AS menggunakan pesawat tempur F-35 dan F-16 yang lepas landas dari kapal induk USS Dwight D. Eisenhower di perairan Teluk Oman. Sejumlah drone juga dikerahkan untuk mengawasi pergerakan patroli Iran.
Iran Serang Wilayah Sipil, Pabrik Desalinasi Rusak
Dampak paling parah dari serangan balasan Iran terjadi di Kuwait. Sebuah rudal jarak menengah Iran menghantam kawasan industri di selatan Kuwait City, tepatnya di pabrik desalinasi air milik perusahaan negara. Otoritas Kuwait mengkonfirmasi bahwa tiga pekerja sipil tewas dan 17 lainnya luka-luka. Pabrik yang berkapasitas 120 juta galon per hari itu terpaksa dihentikan operasinya, mengancam pasokan air bersih bagi 1,5 juta penduduk.
- Kerusakan di Kuwait: Pabrik desalinasi rusak berat, suplai air terganggu selama 48 jam.
- Serangan di Bahrain: Sebuah gedung apartemen di Manama terkena serpihan rudal, 4 warga luka.
- UEA: Sistem pertahanan udara berhasil mencegat dua rudal di atas Abu Dhabi tanpa korban.
Teheran mengklaim bahwa target mereka adalah "pusat komando AS" yang bersembunyi di balik fasilitas sipil. Namun, GCC dan Kuwait menolak keras klaim tersebut dan menuntut penyelidikan internasional.
Kecaman GCC: Ini Kejahatan Perang
Dalam pernyataan mendesak yang dirilis dari markas besar GCC di Riyadh, Sekretaris Jenderal Nayef Al-Hajraf menegaskan bahwa serangan terhadap instalasi air minum merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional.
"Menargetkan infrastruktur sipil yang vital seperti pabrik desalinasi adalah tindakan biadab. Ini bukan hanya agresi, ini adalah kejahatan perang yang tidak akan kami biarkan berlalu begitu saja. Dewan akan membawa masalah ini ke Dewan Keamanan PBB."
— Nayef Al-Hajraf, Sekretaris Jenderal GCC
GCC meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk segera membentuk komisi investigasi. Negara-negara anggota juga sepakat untuk menutup sementara perbatasan udara dan laut mereka dengan Iran sebagai bentuk tekanan diplomatik. Langkah ini diperkirakan akan mengganggu perdagangan bilateral senilai miliaran dolar.
Dampak dan Respons Internasional
Eskalasi ini memicu kekhawatiran global akan terjadinya konflik terbuka di salah satu jalur pelayaran tersibuk dunia. Harga minyak mentah melonjak 8% dalam semalam ke level tertinggi sejak 2022. Organisasi Maritim Internasional (IMO) mengimbau semua kapal untuk menghindari perairan Selat Hormuz sementara.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Nasser Kanaani, menepis tuduhan kejahatan perang dan justru menuduh AS melakukan "terorisme negara". Ia mengatakan bahwa serangan Iran adalah "respons sah" terhadap agresi AS yang telah berlangsung seminggu. "Selama pangkalan militer AS masih ada di kawasan, keamanan tidak akan pernah terjamin," katanya dalam siaran televisi.
Sementara itu, Dewan Keamanan PBB dijadwalkan mengadakan sidang darurat dalam 24 jam ke depan. Rusia dan Tiongkok diperkirakan akan memveto resolusi yang secara langsung menyalahkan Iran, sementara AS dan sekutu Eropa mendorong sanksi baru.
[SOCIAL_FB]: "Dunia menahan napas! AS dan Iran saling serang tujuh malam berturut-turut. GCC menyebut serangan terhadap fasilitas sipil sebagai kejahatan perang. Simak analisis lengkapnya hanya di Beritaseputar.com."[SOCIAL_THREADS]: "Ketegangan Selat Hormuz: GCC secara resmi mengecam serangan Iran terhadap infrastruktur sipil sebagai kejahatan perang. Pabrik desalinasi di Kuwait hancur, tiga tewas. Sementara AS terus menggempur basis militer Iran. Mampukah diplomasi meredakan krisis? #TelukPersia #Iran #GCC #BeritaTerkini"
Comments (0)