Di sebuah kamar apartemen mungil di Jakarta Selatan, Dina* (26) duduk di tepi tempat tidur dengan masker mata bernilai hampir satu juta rupiah. Jam menunjukkan pukul 21.00, tapi ia sudah bersiap untuk tidur — sebuah ritual yang ia jalani selama tiga bulan terakhir demi mencapai "kualitas tidur sempurna".
"Aku spend almost half of my salary untuk semua ini,"
Dina tertawa kecil, menunjukkan rak kecil di samping tempat tidurnya. Botol suplemen melatonin, diffuser dengan aroma lavender organik, bantal memory foam berlapis sutra, hingga aplikasi yang melacak setiap fase tidur di tubuhnya — semuanya tersusun rapi.
Ia bukan satu-satunya. Di media sosial, ribuan orang terjun ke fenomena yang mereka sebut "sleepmaxxing" — sebuah tren memaksimalkan kualitas tidur dengan cara apapun, semahal dan serumit apapun itu. Di TikTok, hashtag #sleepmaxxing sudah mengumpulkan puluhan juta tampilan. Di Reddit, subreddit khusus membahas tips tidur terbaik bermunculan bak jamur setelah hujan.
Ketika Tidur Jadi Obsesi
Konsep sleepmaxxing sebenarnya bukan hal baru. Ide memaksimalkan waktu istirahat sudah lama menjadi bagian dari gaya hidup sehat. Namun yang membedakan tren kali ini adalah intensitasnya — dan dampaknya yang membahayakan.
Dokter spesialis tidur, dr. Rina Wulandari, Sp.S, mengaku mulai kedatangan pasien-pasien baru dengan keluhan yang sama: insomnia yang diperparah oleh kecemasan berlebih soal tidur.
"Mereka sangat terobsesi dengan"perfect sleep" sampai akhirnya tidak bisa tidur sama sekali karena terlalu stress," jelas dr. Rina dalam wawancara via telepon.
Paradoxically, upaya mereka untuk tidur lebih baik justru membuat mereka lebih sulit tidur. Sebuah ironi yang menyakitkan.
Perfeksionisme yang Menghantui
Di balik layar tren yang terlihat "sehat" ini, para ahli kesehatan mental melihat pola yang mengkhawatirkan. Obsesi terhadap sleepmaxxing bisa menjadi perwujudan dari perfeksionisme berlebihan — kondisi yang sering dikaitkan dengan gangguan kecemasan.
"Ketika seseorang merasa mereka harus tidur dengan durasi sempurna, di jam yang tepat, dengan ritual yang tepat, itu sudah melewati batas," kata psikolog klinis Andi Pratama, M.Psi.
Andi menceritakan kasus seorang pasien yang hanya bisa tidur jika suasananya benar-benar gelap total, suhu ruangan 18 derajat Celsius, dan white noise tertentu bermain. "Kalau salah satu elemen terlewati, dia tidak bisa tidur sama sekali dan panik. Itu bukan lagi mengoptimalkan tidur — itu sudah menjadi fobia."
Lonjakan Penjualan Produk Tidur
Di pasar Indonesia sendiri, tren ini tercermin dari lonjakan signifikan produk-produk terkait tidur. Penjualan masker tidur premium naik drastis. Suplemen melatonin yang sebelumnya jarang terdengar, kini menjadi "best seller" di berbagai platform belanja online.
Produsen bantal ergonomis dan kasur berkualitas tinggi juga melaporkan peningkatan penjualan. Harga untuk sebuah"smart pillow" yang bisa mengatur suhu secara otomatis bahkan menyentuh angka lima juta rupiah — satu angka yang cukup fantastis untuk sebuah bantal.
Namun di balik angka-angka penjualan yang menggembirakan bagi pelaku usaha, ada kekhawatiran bahwa tren ini mendorong konsumerisme berlebihan — dan dalam beberapa kasus, menjauhkan orang dari solusi yang lebih sederhana dan efektif.
Kembali ke Kesederhanaan
Bagi dr. Rina, solusi tidur yang baik sebenarnya jauh lebih sederhana dari yang orang-orang kira. "Tidur di jam yang konsisten, hindari layar sebelum tidur, dan ciptakan suasana kamar yang nyaman — itu sudah cukup untuk sebagian besar orang," katanya.
Ia menekankan bahwa kualitas tidur bukan soal memiliki produk paling mahal atau ritual paling rumit. "Tidur yang baik dimulai dari menerima bahwa tidur itu adalah proses alami, bukan sesuatu yang harus kita"kontrol" dengan sempurna."
Di kamarnya, Dina kini mencoba pendekatan berbeda. Ia mulai melepas beberapa produk dari raknya dan mencoba tidur tanpa terlalu banyak intervensi.
"Awalnya memang sulit," akunya. "Tapi aku belajar bahwa tidak harus sempurna. Kadang tidur yang"cukup baik" lebih baik daripada tidak tidur sama sekali karena terlalu stress mencari kesempurnaan."
Sebuah pengakuan yang jujur — dan mungkin menjadi pengingat bagi kita semua bahwa dalam perjalanan menuju tidur yang lebih baik, kesederhanaan kadang menjadi jawaban terbaik yang sering kita abaikan.
Comments (0)