Aug 29, 2026
entertainment

Gading Marten Bintangi Sinetron Ramadhan 'Di Sebelah Ada Surga'

Di sudut ruang tamu sederhana berukuran 3x4 meter itu, cahaya lampu temaram menari pelan di wajah Gading Marten. Dari balik jendela, rinai hujan malam Ramadhan terdengar sayup, seolah ikut menjadi sak...

Gading Marten Bintangi Sinetron Ramadhan 'Di Sebelah Ada Surga'

Di sudut ruang tamu sederhana berukuran 3x4 meter itu, cahaya lampu temaram menari pelan di wajah Gading Marten. Dari balik jendela, rinai hujan malam Ramadhan terdengar sayup, seolah ikut menjadi saksi sebuah momen yang begitu mengharukan. Di sanalah sang aktor menghidupkan sosok ayah yang lelah namun tak pernah menyerah, di tengah dekorasi rumah bersahaja yang terasa sangat dekat dengan keseharian banyak orang. Lewat sinetron Ramadhan berjudul Di Sebelah Ada Surga yang tayang di SCTV, Gading mengajak penonton menyelami perjalanan emosional tentang keluarga, pengampunan, dan harapan yang tumbuh di tengah keterbatasan.

Cerita ini bukan sekadar hiburan. Di balik setiap adegan, ada denyut kehidupan yang nyata — tentang orang-orang biasa yang berjuang mencari cahaya di tengah gelap, dan tentang keyakinan bahwa surga tidak selalu jauh di awang-awang, melainkan bisa hadir dalam kehangatan sederhana di sebelah rumah kita.

Perjalanan yang Menyentuh di Bulan Penuh Berkah

Di Sebelah Ada Surga mengisahkan perjalanan seorang lelaki yang harus bangkit dari keterpurukan untuk mempertahankan apa yang paling ia cintai. Di bawah produksi Starvision, sinetron ini hadir menemani pemirsa di bulan yang penuh berkah, menghadirkan tontonan yang tidak hanya mengocok perasaan, tetapi juga meninggalkan bekas di hati.

Setiap episode seolah mengajak penonton merenung: seberapa jauh kita rela berkorban demi orang-orang yang kita sayangi? Pertanyaan sederhana itu dijawab lewat adegan demi adegan yang sarat air mata, tawa kecil, dan pelukan yang tidak perlu banyak kata. Di sinilah kehangatan cerita terasa nyata, karena ia lahir dari keseharian yang akrab dengan kehidupan kita semua.

Bangkit dari Ujian, Menjadi Ayah yang Utuh

Yang membuat peran ini terasa istimewa adalah perjalanan pribadi Gading sendiri. Sebagai seorang ayah tunggal, ia dikenal luas karena perjuangannya membesarkan sang buah hati, Gempita Nora Marten, di tengah kesibukan berkarier. Momen-momen sederhana seperti menyiapkan bekal, menemaninya belajar, hingga menonton film bersama di akhir pekan, adalah bagian dari hidupnya yang juga kerap ia bagikan dengan hangat.

Pengalaman itu pula yang membuat tiap adegan kebersamaan ayah dan anak di sinetron ini terasa begitu hidup. Ada kelembutan yang tidak perlu dipaksakan, ada kesedihan yang tidak perlu dilebih-lebihkan. Gading tidak sedang berakting untuk sebuah tokoh asing; ia sedang menghadirkan potongan-potongan dirinya sendiri di layar kaca.

"Bagi saya, menjadi ayah adalah peran terbaik yang pernah saya mainkan," ujarnya dalam sebuah kesempatan, dengan mata yang berkaca-kaca.

Kalimat itu menjadi semacam doa yang merangkum seluruh perjalanan panjangnya: dari mimpi yang sempat goyah, hingga bangkit kembali dengan keyakinan yang lebih kuat. Kisahnya mengajarkan bahwa air mata bukanlah tanda kelemahan, melainkan awal dari keberanian untuk memulai lagi.

Di Balik Layar: Kebersamaan yang Sederhana

Suasana di balik layar syuting sinetron ini pun tak kalah hangat. Di tengah jadwal padat selama Ramadhan, para pemain dan kru membangun kebersamaan yang sederhana namun menyentuh — mulai dari berbagi takjil sebelum berbuka, hingga obrolan ringan di sela pengambilan gambar. Momen-momen kecil semacam itulah yang kerap menjadi kenangan paling indah yang dibawa pulang setiap orang di lokasi syuting.

Ada cerita yang beredar di antara kru, bagaimana Gading kerap menyempatkan diri menyapa para penonton setia yang menunggu di sekitar lokasi. Ia meluangkan waktu, berfoto, dan mendengarkan cerita mereka — seolah ingin memastikan bahwa dirinya tidak pernah melupakan orang-orang kecil yang selama ini menopang kariernya.

Inspirasi yang Menyentuh di Layar Kecil

Lebih dari sekadar tontonan, Di Sebelah Ada Surga menjadi pengingat bahwa setiap rumah menyimpan kisahnya sendiri. Bahwa di balik pintu yang tertutup, banyak orang sedang berjuang dalam sunyi — dan bahwa sebuah kata maaf, sebuah pelukan, atau kehadiran yang tulus bisa menjadi surga bagi orang lain.

Di akhir cerita, kita diajak pulang pada sebuah kesimpulan yang sederhana: kebahagiaan tidak selalu datang dari hal-hal besar. Ia bisa hadir dari nasi yang masih hangat di meja makan, dari tawa anak yang berlarian di ruang tamu, atau dari doa yang dipanjatkan di sela sahur. Dan di sebelah kita, mungkin saja, ada surga yang selama ini tidak kita sadari.

Bagi Gading, bermain di sinetron ini adalah perjalanan yang kembali mengingatkannya pada hal-hal yang paling ia jaga. "Saya hanya ingin penonton merasa bahwa mereka tidak sendirian," katanya pelan. "Karena pada akhirnya, kita semua sedang berjalan menuju rumah yang sama."

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User