Aug 29, 2026
entertainment

Kisah Dolly Parton: Di Balik Kilau, Tersimpan Rasa Kurang Percaya Diri

Malam itu, di sebuah kamar hotel yang hening, jauh dari riuh tepuk tangan penonton, Dolly Parton melepas satu per satu wig pirang ikoniknya. Di cermin, ia melihat wajah lain: seorang perempuan yang se...

Kisah Dolly Parton: Di Balik Kilau, Tersimpan Rasa Kurang Percaya Diri

Malam itu, di sebuah kamar hotel yang hening, jauh dari riuh tepuk tangan penonton, Dolly Parton melepas satu per satu wig pirang ikoniknya. Di cermin, ia melihat wajah lain: seorang perempuan yang selama puluhan tahun memukau dunia justru merasa kecil. Di balik kilau payet dan senyum lebar yang menghiasi panggung, tersimpan rasa kurang percaya diri yang tak pernah benar-benar pergi. Ia bahkan menggambarkan dirinya seperti nenek sihir.

Pengakuan itu keluar dari bibir salah satu legenda musik country paling berpengaruh di dunia. Tentu saja mengejutkan — bagaimana mungkin seorang diva yang lagu-lagunya dinyanyikan lintas generasi bisa meragukan dirinya sendiri? Namun di situlah sisi manusiawi Dolly Parton terasa begitu dekat dan menyentuh. Kisah ini menjadi pengingat bahwa ketenaran tidak selalu berjalan seiring dengan rasa percaya diri.

Di Balik Wig dan Kilau Panggung

Perempuan kelahiran Tennessee itu mengisahkan perjalanan panjang dari sebuah rumah kayu sederhana di Pegunungan Smoky hingga panggung-panggung megah dunia. Di balik layar gemerlap, ia tetaplah perempuan yang sama: anak kecil yang pernah merasa tidak cukup cantik, tidak cukup berbakat, dan takut ditertawakan. Rasa itu, menurut pengakuannya, tidak pernah benar-benar hilang.

Setiap kali naik panggung, ia mengenakan semacam baju zirah berupa rambut pirang, gaun berpayet, dan senyum cerah. Bukan untuk pamer, melainkan untuk melindungi hati yang masih gemetar. Momen mengharukan itu kerap luput dari perhatian penggemar yang hanya melihat sisi gemerlapnya. Padahal di balik setiap lagu yang dinyanyikannya, ada seorang perempuan yang terus berjuang melawan suara kecil di dalam kepala yang meragukan segalanya.

Nenek Sihir yang Hangat

Ketika menyebut dirinya seperti nenek sihir, Dolly tidak bermaksud menakutkan. Justru sebaliknya — ia menggambarkan sosok tua yang bijak, yang di dalam dongeng sering disalahpahami padahal hatinya hangat. Ia ingin berkata bahwa penampilan luar bisa menipu, dan bahwa di balik wajah yang tampak angkuh, bisa saja bersembunyi seseorang yang paling tulus.

Di usia yang tidak lagi muda, Dolly memilih memaknai julukan itu dengan cinta. Ia bangkit dari setiap keraguan dengan terus berkarya, menulis lagu, dan membagikan kebaikan. Salah satu buktinya adalah program Imagination Library yang mengirimkan jutaan buku gratis untuk anak-anak. Seperti seorang nenek yang membacakan dongeng sebelum tidur, ia menabur mimpi bagi generasi yang belum pernah ia temui.

Perasaan yang Tak Pernah Selesai

Yang membuat kisahnya begitu dekat adalah kejujurannya. Dolly tidak pernah berpura-pura bahwa hidupnya sempurna. Ia mengakui bahwa di usia yang semakin matang pun, perasaan kurang percaya diri masih sesekali menyapanya — saat berdiri di depan cermin, saat mengenakan wig yang sudah ia pakai ribuan kali, saat bertanya apakah ia masih relevan.

Yang penting bukan menghilangkan rasa takut, melainkan terus melangkah meski takut. Air mata mungkin pernah jatuh diam-diam di balik pintu kamar, tetapi ia memilih untuk bangkit setiap pagi dan menjadi versi terbaik dari mimpinya. Inspirasi yang ia tinggalkan bukan hanya lagu, melainkan keberanian untuk tetap tulus di tengah dunia yang penuh penilaian.

Pelajaran bagi Kita Semua

Kisah Dolly Parton mengajarkan sesuatu yang sederhana namun dalam: rasa percaya diri bukan soal seberapa hebat dunia menilai kita, melainkan seberapa jujur kita pada diri sendiri. Bahkan bintang yang paling bersinar pun pernah merasa redup. Yang membedakan hanyalah keputusan untuk terus berjalan, meski kaki gemetar.

Di akhir cerita, sosok yang menyebut dirinya nenek sihir itu tersenyum. Ia sadar bahwa ketidaksempurnaan justru membuatnya nyata — dan membuat jutaan orang merasa tidak sendirian. Di balik wig pirang dan gaun berpayet, ada seorang perempuan dari Tennessee yang hanya ingin berkata: jika aku bisa, kamu juga bisa.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User