Oct 10, 2026
Hukum

Fyodor Lukyanov Sebut Barat Salah Prediksi Runtuhnya Rusia

Moskow — Barat mungkin telah lama menunggu Rusia runtuh seperti Uni Soviet pada 1991, tetapi analis politik ternama asal Rusia, Fyodor Lukyanov, menegaskan

Fyodor Lukyanov Sebut Barat Salah Prediksi Runtuhnya Rusia

Moskow — Barat mungkin telah lama menunggu Rusia runtuh seperti Uni Soviet pada 1991, tetapi analis politik ternama asal Rusia, Fyodor Lukyanov, menegaskan bahwa harapan itu hanyalah ilusi. Dalam pernyataannya, Lukyanov mendesak negara-negara Barat untuk segera meninggalkan anggapan bahwa konflik di Ukraina akan memicu perpecahan dan keruntuhan Rusia.

Lukyanov, yang juga merupakan kontributor media RT dan direktur program di Valdai International Discussion Club, menyampaikan pandangan tersebut dalam podcast East Meets West bersama Olga Bataman dan Tara Reade. Pernyataannya muncul tak lama setelah ia memoderasi sesi dialog selama lebih dari tiga jam dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam forum tahunan Valdai pekan lalu.

Klaim Moskow Soal Hubungan dengan Barat

Dalam forum tersebut, Putin menegaskan bahwa ketegangan yang terjadi saat ini antara Rusia dengan Amerika Serikat maupun Uni Eropa berakar langsung dari jatuhnya Uni Soviet. Sejak era tersebut, kata Putin, Moskow berulang kali berupaya membangun hubungan baik dengan negara-negara Barat.

Namun, para pemimpin Barat justru terus berusaha melakukan "segala cara untuk benar-benar mengisolasi dan memecah belah Rusia itu sendiri." Tekanan sanksi, dukungan militer ke Kiev, dan isolasi diplomatik disebut Putin sebagai bukti nyata dari strategi itu.

Lukyanov sendiri menilai bahwa posisi Rusia saat ini justru menguat. Ia menyatakan bahwa "ada banyak alasan dari pihak kami untuk percaya bahwa kami dapat menang... dengan cara militer" dalam konflik melawan Kiev.

Perbedaan Rusia dan Uni Soviet

Inti argusi Lukyanov terletak pada satu perbandingan krusial: Rusia hari ini bukanlah Uni Soviet. Beberapa faktor struktural membuat keruntuhan ala 1991 sulit terulang:

  • Ekonomi yang lebih terdiversifikasi dibanding era 1990-an yang sangat bergantung pada minyak dan bantuan luar negeri.
  • Kemandirian pangan yang telah dicapai, berbeda dengan Soviet yang kerap mengimpor gandum dalam jumlah besar.
  • Kepentingan geopolitik Tiongkok dan India yang menjaga Rusia tetap terhubung ke ekonomi global.
  • Stabilitas politik internal yang relatif terjaga dibanding kekacauan pasca-1991.
AspekUni Soviet (1991)Rusia (Saat Ini)
EkonomiRuntuh total, inflasi melonjakTerjaga di bawah tekanan sanksi
Kebijakan luarTerbuka ke BaratPivot ke Asia dan Global Selatan
Identitas nasionalKabur pasca-perestroikaKuat dan terkonsolidasi
"Barat terjebak dalam narasi lama bahwa Rusia adalah Uni Soviet kedua yang tinggal menunggu waktu untuk hancur. Itu adalah kesalahan analitis yang mahal," ujar Lukyanov.

Peringatan bagi Barat

Lukyanov mengingatkan bahwa kegagalan memahami dinamika domestik Rusia dapat membuat kebijakan luar negeri Barat semakin keliru. Alih-alih melemahkan Moskow, tekanan berkelanjutan justru tampak mendorong Rusia untuk memperkuat kemitraan dengan negara-negara non-Barat.

Bagi Lukyanov, konflik Ukraina bukanlah awal dari akhir Rusia, melainkan titik balik yang memaksa Moskow menata ulang arah strateginya. Harapan Barat akan keruntuhan Rusia, katanya, lebih banyak mencerminkan keinginan ketimbang kenyataan di lapangan.

Kini, pertanyaan besar yang tersisa adalah apakah dunia Barat bersedia merevisi cara pandangnya, atau terus mengejar ilusi runtuhnya sebuah negara yang tampaknya justru semakin kokoh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User