Oct 10, 2026
Hukum

Tiga Negara Afrika Hadapi Hambatan Sektor Energi Terbarukan

Sektor energi terbarukan di Afrika Selatan, Ghana, dan Kenya tengah berada di persimpangan kritis. Di satu sisi, permintaan energi bersih terus melesat sei

Tiga Negara Afrika Hadapi Hambatan Sektor Energi Terbarukan

Sektor energi terbarukan di Afrika Selatan, Ghana, dan Kenya tengah berada di persimpangan kritis. Di satu sisi, permintaan energi bersih terus melesat seiring komitmen iklim global. Namun di sisi lain, potensi raksasa ketiga negara ini justru terhambat oleh berbagai persoalan struktural yang belum terselesaikan. Temuan terbaru dari sejumlah laporan independen mengungkap bahwa pertumbuhan sektor ini tidak berjalan semulus yang dibayangkan banyak pihak.

Berbagai laporan tersebut menyoroti empat hambatan utama yang saling berkaitan: ketidakstabilan permintaan, lemahnya penegakan aturan lokalisasi, minimnya penciptaan lapangan kerja layak, serta bias gender yang masih mengakar kuat. Kombinasi masalah ini membuat transisi energi di kawasan Afrika justru berjalan di tempat.

Permintaan Tidak Stabil Jadi Biang Kerok

Salah satu masalah paling mendasar adalah fluktuasi permintaan energi. Proyek pembangkit listrik tenaga surya dan angin sering kali kesulitan mendapat jaminan pembelian listrik jangka panjang. Tanpa kepastian itu, investor enggan menanamkan modal besar. Akibatnya, banyak proyek energi terbarukan yang mangkrak atau berjalan setengah hati.

Ketidakstabilan ini diperparah oleh jaringan listrik yang belum modern. Afrika Selatan misalnya, masih bergulat dengan krisis listrik berkepanjangan yang membuat prioritas anggaran tersedot ke pemeliharaan pembangkit batu bara. Ghana dan Kenya menghadapi tantangan serupa meski dengan skala berbeda.

Aturan Lokalisasi Ada, Penegakan Lemah

Ketiga negara sebenarnya sudah memiliki regulasi yang mewajibkan penggunaan komponen dan tenaga kerja lokal dalam proyek energi terbarukan. Namun, penegakan aturan ini dinilai sangat lemah. Banyak perusahaan asing tetap mendatangkan komponen dan pekerja dari luar negeri, sehingga manfaat ekonomi tidak dirasakan masyarakat setempat. Rantai pasok lokal pun tidak berkembang.

"Kebijakan lokalisasi di atas kertas terlihat ambisius, tetapi implementasinya jauh dari harapan. Tanpa pengawasan ketat, aturan ini hanya jadi formalitas," ungkap seorang peneliti energi dari lembaga pengkajian independen.

Lapangan Kerja Layak Masih Mimpi

Ironisnya, meski sektor energi terbarukan terus digaungkan, penciptaan lapangan kerja layak justru stagnan. Banyak pekerjaan yang tercipta bersifat sementara, informal, dan minim perlindungan sosial. Padahal, janji transisi energi adalah membuka jutaan green jobs berkualitas. Kenyataan di lapangan menunjukkan hal sebaliknya.

Bias Gender Hambat Partisipasi Perempuan

Hambatan lain yang tak kalah pelik adalah bias gender. Partisipasi perempuan di sektor energi terbarukan masih sangat rendah, terutama pada posisi teknis dan pengambilan keputusan. Budaya patriarki, akses pelatihan yang tidak setara, serta lingkungan kerja yang tidak ramah menjadi penyebab utamanya.

Padahal, keterlibatan perempuan terbukti meningkatkan kualitas tata kelola proyek dan memperluas dampak sosial. Menutup celah gender bukan sekadar soal keadilan, tetapi juga strategi cerdas mempercepat transisi energi.

Jalan Keluar yang Dibutuhkan

Untuk membenahi situasi ini, diperlukan pendekatan holistik. Pemerintah ketiga negara perlu membangun kerangka permintaan yang stabil melalui kontrak jangka panjang dan insentif fiskal. Penegakan aturan lokalisasi harus diperkuat dengan sanksi jelas. Investasi pada pelatihan keterampilan, khususnya bagi perempuan dan pemuda, juga mendesak dilakukan.

Tanpa terobosan kebijakan yang berani, potensi besar energi terbarukan di Afrika Selatan, Ghana, dan Kenya hanya akan tetap menjadi potensi. Bukan kekuatan nyata yang menggerakkan ekonomi dan menyejahterakan rakyat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User