Matahari pagi di BSD belum terlalu tinggi, namun lapangan Sunburst sudah ramai oleh langkah kecil dan kursi roda. Suara trompet dan gendang dari panggung utama mengalun, bercampur dengan teriakan kegirangan anak-anak yang mengejar gelembung sabun raksasa. Di sudut lain, seorang nenek dengan kerudung bunga-bunga tertawa renyah saat cucunya yang berusia tiga tahun menarik-narik ujung jilbabnya. Inilah TRANS TV Festival Vol 5, sebuah perayaan yang tak hanya menghibur, tetapi juga mempertemukan dua ujung generasi dalam satu pelukan hangat di Minggu, 26 Juli 2024.
Acara yang digelar di Lapangan Sunburst BSD, Tangerang Selatan, itu sengaja dirancang untuk semua umur. Dari area permainan anak yang penuh warna hingga panggung nostalgia yang menyajikan lagu-lagu lawas, setiap sudut seakan berkata: di sini, tak ada yang terlalu muda, tak ada yang terlalu tua.
Nenek Wati dan Mimpi Sederhananya
Di antara kerumunan, saya menemui Nenek Wati (68), seorang pensiunan guru yang datang bersama dua cucunya. Dengan semangat, ia mengikuti lomba karaoke dengan lagu “Layu Sebelum Berkembang”, suaranya sedikit bergetar, namun senyumnya lebar saat mendapat tepuk tangan meriah. “Saya ini sudah tua, tapi hati saya masih seperti anak muda,” ujarnya sambil mengelus kepala cucunya. “Cucu saya yang ngajak. Katanya ada acara seru. Ternyata saya yang paling menikmati.”
Tak hanya Nenek Wati, puluhan lansia lain terlihat duduk di deretan kursi depan panggung, beberapa di antaranya menggunakan tongkat atau didorong oleh anak cucunya. Panitia menyediakan area khusus dengan tempat duduk yang empuk dan teduhan pohon, agar mereka bisa menikmati pertunjukan tanpa kelelahan.
Anak-Anak Menemukan Dunia Warna-Warni
Sementara itu, area anak-anak bagaikan negeri dongeng. Rumah balon, palet lukis wajah, dan boneka badut raksasa menjadi magnet bagi bocah-bocah. Dinda (5) nampak khusyuk saat pelukis wajah menggoreskan bentuk kupu-kupu di pipinya. Ibunya, Rani (32), mengaku sudah datang sejak pukul tujuh pagi demi menghindari antrean. “Tapi ternyata sudah ramai,” katanya tertawa. “Senang lihat anak saya bahagia. Dia biasanya pemalu, di sini malah berteman dengan anak lain.”
Di sudut lain, seorang kakek dengan topi caping asyik mengajari cucunya menangkap ikan di kolam plastik. Sesekali ia tertawa terbahak saat sang cucu lebih sering memercikkan air daripada menangkap ikan. Momen itu seperti mengukir kenangan yang akan tersimpan selamanya.
Panggung Nostalgia: Ketika Senja Menyanyi
Pukul sebelas siang, panggung utama berganti irama. Band lokal memainkan lagu-lagu Koes Plus, dan tiba-tiba para lansia di depan panggung berdiri, bergoyang mengikuti irama. Seorang kakek yang memperkenalkan diri sebagai Pak Harjo (72) bahkan ikut menyanyi dengan suara lantang. “Lagu ini mengingatkan saya pada masa muda,” katanya dengan mata berbinar. “Dulu saya sering menyanyi di kafe-kafe kecil di Jakarta. Sekarang, cucu-cucu saya jadi saksi.”
Beberapa penonton yang lebih muda ikut bernyanyi, meski tidak hafal liriknya. Tangan-tangan bersatu, menyilang generasi, seolah mengikis batas usia dan waktu. Para penyelenggara rupanya sengaja menyelipkan segmen seperti ini untuk merangkul penonton lintas usia. “Kami ingin menunjukkan bahwa hiburan itu universal,” kata salah satu panitia yang enggan disebut namanya. “Tidak ada yang terlalu tua untuk menikmati musik, dan tidak ada yang terlalu muda untuk menghargai sejarah.”
Kehangatan di Setiap Sudut
Tak hanya di panggung utama, kehangatan juga terasa di area bazar kuliner. Seorang nenek penjual kerak telor, Mpok Sarni (65), tersenyum melihat antrean panjang di gerobaknya. “Alhamdulillah, laris. Saya tadinya ragu ikut festival, tapi ternyata banyak yang suka,” katanya. Di meja sebelahnya, seorang ibu muda mengajari anaknya cara membuat kue cubit tradisional. Festival ini seakan menjadi ruang belajar yang menyenangkan bagi anak-anak, dan ruang bernostalgia bagi para lansia.
Di sekitar panggung, relawan dengan sabar membantu peserta lansia yang ingin berpartisipasi dalam games. “Kami sengaja menyederhanakan aturan, biar yang berusia lanjut juga bisa ikut,” ujar salah satu relawan. “Melihat mereka tertawa, itu bayaran paling mahal buat kami.”
Bukan Sekadar Hiburan
Ketika mentari mulai condong ke barat, festival masih berdenyut. Di bawah pohon rindang, para lansia beristirahat sambil mengunyah jajanan pasar, sementara anak-anak masih asyik di area permainan. Ayah dan ibu duduk di rerumputan, menikmati semilir angin, sesekali memotret momen berharga itu.
“Acara seperti ini jarang ada,” ungkap Rina (40) yang datang bersama ayahnya yang berusia 75 tahun. “Biasanya acara cuma buat anak muda atau keluarga muda. Tapi di sini ayah saya bisa ikut senang-senang. Dia bahkan ketemu teman lamanya.” Memang, di antara kerumunan, ada pertemuan tak terduga, pelukan hangat antar kawan lama yang bertemu kembali setelah puluhan tahun.
TRANS TV Festival Vol 5 telah membuktikan bahwa kegembiraan tidak memandang usia. Di Lapangan Sunburst BSD, pagi itu, tawa anak-anak dan senyum para lansia berbaur menjadi satu, merajut kembali benang-benang kebersamaan yang mungkin sempat renggang oleh kesibukan zaman.
Saat senja mulai menyapa, para peserta satu per satu beranjak pulang. Seorang kakek menggandeng cucunya, sambil bercerita tentang masa kecilnya yang dulu penuh permainan tradisional. Si cucu mendengarkan dengan mata berbinar, seakan menyimpan cerita itu dalam hati. Momen sederhana seperti inilah yang menjadi inti festival ini: bukan hanya panggung megah dan gemerlap lampu, tapi kehangatan antargenerasi yang sulit terlukiskan.
Comments (0)