Jakarta — Sembelit bukan sekadar masalah pencernaan ringan yang bisa diabaikan. Para ahli kesehatan kini mengingatkan bahwa sembelit yang cukup parah dan berulang dalam jangka waktu lama bisa menjadi salah satu tanda awal gejala kanker usus besar. Kondisi ini sering dianggap sepele oleh banyak orang, padahal kanker usus besar termasuk salah satu jenis kanker dengan angka kematian tertinggi di dunia, termasuk di Indonesia.
Menurut data global, kanker kolorektal menempati urutan ketiga sebagai jenis kanker paling umum di dunia. Setiap tahunnya, diperkirakan ada lebih dari 1,9 juta kasus baru yang terdiagnosis, dan sekitar 900 ribu kematian akibat penyakit ini. Indonesia sendiri mencatat sekitar 34 ribu kasus baru per tahun dengan angka kematian yang cukup signifikan. Sayangnya, sebagian besar pasien datang ke dokter sudah dalam stadium lanjut karena gejala awal kerap diabaikan.
Kenapa Sembelit Berulang Perlu Diwaspadai?
Sembelit yang berulang dan berlangsung lama bisa menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak beres di dalam saluran pencernaan. Ketika tumor tumbuh di dalam usus besar, ia dapat menyumbat sebagian rongga usus sehingga feses sulit melewati saluran tersebut. Akibatnya, penderita mengalami sembelit terus-menerus, perut terasa kembung, hingga muncul rasa tidak nyaman yang tidak kunjung hilang.
"Sembelit yang terjadi terus-menerus selama lebih dari tiga minggu, apalagi disertai darah pada feses, penurunan berat badan drastis, atau perubahan bentuk feses yang drastis, harus segera diperiksa ke dokter," ujar seorang ahli gastroenterologi dalam sebuah seminar kesehatan di Jakarta.
Berikut sejumlah gejala kanker usus besar yang penting untuk dikenali:
- Sembelit atau diare berkepanjangan yang berlangsung lebih dari tiga minggu.
- Adanya darah pada feses atau warna feses yang menghitam.
- Perut sering kembung dan terasa penuh meski belum banyak makan.
- Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
- Rasa lelah berlebihan akibat anemia yang tidak diketahui penyebabnya.
Faktor Risiko dan Pentingnya Deteksi Dini
Ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang terkena kanker usus besar. Pola makan rendah serat, konsumsi daging merah berlebihan, kurang aktivitas fisik, obesitas, merokok, dan riwayat keluarga menjadi pemicu utama. Usia di atas 50 tahun juga menjadi kelompok paling rentan, meski belakangan ini kasus pada usia muda terus meningkat.
| Faktor Risiko | Tingkat Bahaya | Pencegahan |
|---|---|---|
| Pola makan rendah serat | Tinggi | Perbanyak buah & sayur |
| Kurang aktivitas fisik | Sedang | Olahraga 30 menit/hari |
| Merokok & alkohol | Tinggi | Hentikan kebiasaan |
| Riwayat keluarga | Tinggi | Skrining rutin sejak usia 40 |
Deteksi dini menjadi kunci utama untuk menyelamatkan nyawa. Kolonoskopi dan tes feses okultisme dapat mendeteksi keberadaan polip atau tumor sebelum berkembang menjadi ganas. Jika ditemukan pada stadium awal, tingkat kelangsungan hidup penderita kanker usus besar bisa mencapai 90 persen.
Jangan abaikan sembelit yang berulang. Pemeriksaan sederhana bisa menyelamatkan hidup Anda.
Kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri secara rutin masih rendah. Karena itu, edukasi tentang bahaya kanker usus besar perlu terus digencarkan, terutama bagi kelompok usia produktif yang mulai mengalami perubahan pola buang air besar. Jangan tunggu gejala menjadi berat sebelum berkonsultasi ke dokter.
Comments (0)