Oct 10, 2026
entertainment

Fajar Nugros dan Kisah Jujur di Balik Film Bapak Paling Jujur

Di sebuah ruangan yang dipenuhi cahaya lampu sorot dan gemuruh percakapan para pewarta, Fajar Nugros duduk dengan tenang. Ia bukan sosok yang gemar tampil berlebihan. Namun sore itu, Selasa (6/10/2026...

Fajar Nugros dan Kisah Jujur di Balik Film Bapak Paling Jujur

Di sebuah ruangan yang dipenuhi cahaya lampu sorot dan gemuruh percakapan para pewarta, Fajar Nugros duduk dengan tenang. Ia bukan sosok yang gemar tampil berlebihan. Namun sore itu, Selasa (6/10/2026), di Jakarta, ada sesuatu yang berbeda dari raut wajahnya. Matanya menyiratkan kelegaan sekaligus haru, seperti seseorang yang baru saja menuntaskan perjalanan panjang yang menguras batin.

Film terbarunya, Bapak Paling Jujur, bukan sekadar proyek sinematik biasa. Bagi Fajar, ini adalah cermin dari kegelisahan yang ia simpan bertahun-tahun. "Saya sering bertanya pada diri sendiri, sejujur apa kita sebenarnya kepada orang-orang yang kita cintai?" tuturnya lirih, seolah pertanyaan itu ditujukan pada dirinya sendiri.

Ketika Kejujuran Menjadi Pilihan yang Menyakitkan

Dalam sesi jumpa media itu, Fajar mengisahkan bagaimana ide film ini berawal dari momen sederhana di rumahnya. Suatu malam, ia melihat ayahnya termenung di teras, menatap langit tanpa bicara. "Saya duduk di sampingnya, dan beliau hanya bilang, 'Nak, jadi orang jujur itu kadang sepi,'" kenang Fajar. Kalimat itu menghantui dirinya selama bertahun-tahun, hingga akhirnya ia merasa harus menuangkannya ke dalam layar lebar.

Film ini mengangkat kisah seorang bapak yang harus memilih antara mengatakan kebenaran yang pahit atau berbohong demi melindungi keluarganya. Konflik batin itulah yang membuat Fajar begitu terlibat secara emosional. "Ada adegan yang membuat saya menangis di lokasi syuting. Bukan karena aktingnya, tapi karena saya melihat diri saya sendiri di sana," ujarnya dengan suara bergetar.

"Kejujuran bukan tentang tidak pernah berbohong, tapi tentang keberanian menanggung akibat dari apa yang kita yakini benar." — Fajar Nugros

Perjalanan Panjang di Balik Layar

Menggarap Bapak Paling Jujur tidaklah mudah. Fajar bercerita bahwa proses riset dan penulisan skenario memakan waktu hampir dua tahun. Ia sempat mengunjungi beberapa keluarga di kampung halaman untuk mendengar kisah mereka. "Saya bertemu seorang bapak yang harus menjual sepeda motornya demi membayar utang anaknya, tapi ia tidak pernah mengeluh. Di situ saya sadar, kejujuran sering kali hadir dalam bentuk pengorbanan yang sunyi," paparnya.

Di balik layar, suasana produksi pun penuh kehangatan. Para pemain dan kru disebut Fajar sebagai keluarga kedua. "Kami sering makan bersama, bercerita sampai tengah malam. Itu yang membuat film ini terasa hidup," tambahnya sambil tersenyum.

Namun, ada satu momen yang paling menyentuh hati Fajar. Saat syuting adegan terakhir, seorang aktor senior yang berperan sebagai bapak tiba-tiba memeluknya erat. "Beliau bilang, 'Terima kasih sudah mengingatkan saya arti menjadi ayah.' Saya langsung menangis. Air mata itu bukan karena saya sutradara, tapi karena saya manusia," ucapnya.

Harapan yang Dititipkan pada Layar Lebar

Fajar berharap film ini bisa menjadi cermin bagi banyak orang. Ia tidak ingin penonton hanya terhibur, tetapi juga pulang dengan renungan. "Saya ingin orang-orang menelepon ayah mereka setelah menonton film ini. Atau sekadar memeluk anak mereka dan berkata, 'Aku sayang kamu.' Itu sudah cukup," tuturnya penuh harap.

Ia juga menyadari bahwa cerita tentang kejujuran tidak selalu mudah diterima. Ada kalanya kebenaran melukai, dan itu bagian dari realitas. "Tapi di situlah letak kekuatannya. Kita belajar bangkit dari luka, dan dari situ kita tumbuh," imbuhnya.

Menutup pertemuan itu, Fajar mengajak semua yang hadir untuk merenung sejenak. Ia mengingatkan bahwa di tengah dunia yang serba cepat dan penuh kepalsuan, kejujuran tetap menjadi nilai yang mahal. "Mimpi saya sederhana: semoga film ini bisa menyentuh hati, seperti hati saya tersentuh saat menulisnya," pungkasnya.

Perlahan ia bangkit dari kursinya, meninggalkan ruangan dengan senyum tipis yang menyimpan seribu cerita. Di luar, senja Jakarta mulai turun, seolah ikut mengantar pesan bahwa kejujuran, betapapun pahitnya, selalu punya cara untuk menemukan rumahnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User