Aug 25, 2026
entertainment

Erros Djarot Buka Lembaran Hidupnya Lewat Autobiografi yang Menyentuh

Sore itu, di sebuah galeri seni di kawasan Jakarta Selatan, alunan gitar akustik mengalun pelan membawakan melodi yang tak pernah lekang dimakan zaman. Di kursi kayu sederhana di tengah ruangan, duduk...

Erros Djarot Buka Lembaran Hidupnya Lewat Autobiografi yang Menyentuh

Sore itu, di sebuah galeri seni di kawasan Jakarta Selatan, alunan gitar akustik mengalun pelan membawakan melodi yang tak pernah lekang dimakan zaman. Di kursi kayu sederhana di tengah ruangan, duduk seorang pria berambut putih dengan tatapan teduh. Tangannya sesekali menyeka sudut mata ketika lagu lawas ciptaannya menggema dari pengeras suara. Pria itu adalah Erros Djarot, dan sore itu ia tidak sedang meluncurkan album baru, melainkan membuka lembaran hidupnya sendiri untuk dibaca oleh dunia.

Peluncuran autobiografi sang maestro berlangsung hangat dan intim. Tidak ada kemegahan berlebihan, hanya deretan kursi yang dipenuhi wajah-wajah lama: sahabat seperjuangan, musisi lintas generasi, sineas, hingga penggemar yang rela datang jauh hanya untuk bersalaman dan memeluk idolanya. Suasana haru menyelimuti ruangan ketika satu per satu kenangan diputar ulang melalui layar, menampilkan foto-foto hitam putih masa muda Erros yang penuh gelora.

Ruang yang Dipenuhi Kenangan

Di sudut ruangan, tersusun rapi gitar tua, naskah lagu bertulisan tangan, dan foto-foto lawas yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang sang seniman. Para tamu berjalan pelan menyusuri benda-benda itu, seolah diajak menembus lorong waktu menuju era 1970-an, masa ketika seorang anak muda bermimpi mengubah wajah musik Indonesia dengan goresan pena dan petikan gitar.

"Buku ini bukan tentang kehebatan saya. Buku ini tentang perjalanan seorang anak manusia yang jatuh, bangkit, lalu jatuh lagi, tetapi tidak pernah berhenti mencintai negerinya," ujar Erros dengan suara bergetar, disambut tepuk tangan panjang para hadirin yang ikut berkaca-kaca.

Perjalanan Panjang dari Rangkasbitung

Dalam autobiografinya, Erros mengisahkan masa kecilnya yang sederhana di Rangkasbitung, Banten. Ia lahir dan besar dalam keluarga yang mencintai seni, tumbuh bersama mimpi yang kerap dipandang sebelah mata oleh lingkungan sekitarnya. Namun justru dari keterbatasan itulah ia belajar bahwa karya lahir bukan dari kemewahan, melainkan dari keberanian untuk terus berjuang.

Lembar demi lembar buku itu juga memotret masa-masa sulitnya merantau ke Jakarta, ketika kantong tipis harus berhadapan dengan tekad yang tebal. Ia menulis lagu di sela-sela kesibukan apa pun yang bisa menghidupinya, percaya bahwa suatu hari nanti nada-nada di kepalanya akan menemukan rumahnya. Keyakinan sederhana itu kelak terbukti, meski jalan yang ditempuhnya berliku dan penuh air mata.

Badai yang Tak Pernah Berlalu

Bagian paling mengharukan dari buku ini adalah ketika Erros menuturkan proses lahirnya album legendaris Badai Pasti Berlalu pada 1977. Di balik layar masterpiece yang kelak dinobatkan sebagai salah satu album terbaik sepanjang masa di Indonesia itu, ternyata tersimpan keraguan, penolakan, dan malam-malam panjang penuh kegelisahan. Ia sempat bertanya pada dirinya sendiri, apakah Indonesia siap menerima musik yang ia tawarkan.

"Waktu itu saya hanya ingin jujur pada hati saya sendiri. Kalau orang tidak suka, biarlah. Yang penting saya sudah menitipkan jiwa saya di setiap lagunya," kenangnya. Kejujuran itu pulalah yang membuat lagu-lagunya tetap dinyanyikan lintas generasi, dari orang tua hingga cucu mereka, seolah badai itu memang tak pernah benar-benar berlalu.

Sineas yang Mengibarkan Mimpi di Kancah Dunia

Autobiografi ini juga mengangkat sisi lain Erros yang tak kalah membanggakan: perjalanannya sebagai sutradara. Film Tjoet Nja' Dhien yang ia garap dengan penuh cinta berhasil menembus Festival Film Cannes dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. Ia mengisahkan bagaimana perjuangan membuat film epik tentang pahlawan Aceh itu nyaris kandas berkali-kali karena keterbatasan dana, namun tekad untuk mempersembahkan sesuatu bagi bangsa membuatnya bertahan.

Bagi Erros, seni bukan sekadar hiburan, melainkan cara mencintai tanah air. Prinsip itulah yang kemudian membawanya melangkah ke dunia politik, meski jalan itu kerap terjal dan penuh kekecewaan. Semua ia tuliskan dengan jujur, tanpa berusaha tampil sempurna.

Surat Cinta untuk Generasi Muda

Di penghujung acara, momen mengharukan terjadi ketika sejumlah musisi muda naik ke panggung dan membawakan ulang karya-karya Erros dengan aransemen baru. Sang maestro terlihat meneteskan air mata, menyaksikan lagu-lagunya hidup kembali di tangan generasi yang bahkan belum lahir ketika lagu itu diciptakan.

"Saya menulis buku ini agar anak-anak muda tahu, mimpi itu tidak pernah kedaluwarsa. Selama kita mau berjuang dan tetap jadi manusia yang baik, hidup akan menemukan jalannya sendiri," tuturnya menutup sore yang hangat itu. Bagi para hadirin, autobiografi ini bukan sekadar buku, melainkan surat cinta panjang dari seorang seniman untuk negeri yang tak pernah berhenti ia cintai — sebuah kisah yang akan terus menginspirasi siapa pun yang membacanya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User