Aug 25, 2026
entertainment

Elsa Japasal: Korset Bunga dan Kain Tenun, Budaya yang Hidup di Panggung Gen Z

Panggung kecil di sebuah kafe lantai dua di kawasan Senopati, Jakarta Selatan, mendadak berubah menjadi ruang magis. Di bawah sorot lampu kuning yang hangat, Elsa Japasal melangkah pelan, mengenakan k...

Elsa Japasal: Korset Bunga dan Kain Tenun, Budaya yang Hidup di Panggung Gen Z

Panggung kecil di sebuah kafe lantai dua di kawasan Senopati, Jakarta Selatan, mendadak berubah menjadi ruang magis. Di bawah sorot lampu kuning yang hangat, Elsa Japasal melangkah pelan, mengenakan korset bermotif bunga yang dipadukan dengan kain tenun yang menjuntai anggun. Bukan sekadar penampilan, ini adalah pernyataan—bahwa budaya bisa berdansa dengan gaya anak muda.

Elsa, penyanyi berusia 24 tahun yang namanya mulai dikenal lewat unggahan-unggahan cover di media sosial, mengisahkan bahwa momen itu bukanlah sekadar manggung biasa. Baginya, setiap helai kain yang dikenakan adalah doa dan cerita. "Aku ingin anak-anak Gen Z melihat bahwa budaya kita nggak kaku. Bisa banget dipakai sehari-hari, bahkan di atas panggung," ujarnya dengan mata berbinar, sesaat setelah turun dari panggung.

Perjalanan Menemukan Jati Diri di Tengah Gempuran Tren

Perjalanan Elsa untuk sampai di titik ini tidaklah mudah. Sejak kecil, ia tumbuh di keluarga yang gemar menyimpan kain-kain warisan nenek. Namun, sebagai remaja yang tumbuh di era media sosial, ia sempat merasa malu. "Dulu aku mikir, pakai kebaya itu kuno. Teman-temanku pakai crop top dan jeans. Aku pengin banget diterima," kenangnya sambil tersenyum getir.

Perlahan, ia mulai bereksperimen. Dari sekadar memadukan selendang dengan kaos, hingga akhirnya berani tampil dengan korset bunga yang ia rancang sendiri bersama penjahit langganan ibunya. "Aku sadar, justru di situlah keunikanku. Kalau semua orang lari ke tren yang sama, aku mau lari ke arah yang berbeda—ke akar budayaku," tegasnya.

Momen mengharukan terjadi saat ia pertama kali tampil dengan gaya tersebut di acara kampus. Beberapa temannya mendekat dan bertanya di mana ia membeli korset itu. "Mereka bilang, 'El, ini keren banget. Aku juga mau punya yang kayak gini.' Saat itu aku nangis di kamar mandi. Aku merasa perjuanganku dihargai," tuturnya dengan suara bergetar.

Di Balik Layar: Proses Kreatif yang Penuh Makna

Di balik setiap penampilannya, ada proses panjang yang jarang terlihat. Elsa bercerita bahwa ia selalu menyempatkan diri mengunjungi pasar-pasar tradisional untuk mencari kain-kain bekas yang masih bagus. "Setiap kain punya sejarah. Ada yang bekas dipakai nenek-nenek untuk acara pernikahan, ada yang sisa dari pabrik tenun. Aku suka membayangkan cerita mereka," katanya.

Ia juga bekerja sama dengan perajin lokal untuk membuat korset dari bahan daur ulang. "Aku nggak mau sekadar memakai budaya, tapi juga harus menghidupkannya. Dengan memberdayakan perajin, aku ikut menjaga ekonomi mereka," jelas Elsa. Ia mengaku, proses ini mengajarkannya arti kesabaran. "Pernah satu kain harus dijahit ulang tiga kali karena detailnya salah. Tapi pas lihat hasilnya, air mata langsung keluar. Ini bukan soal pakaian, ini soal harga diri," tambahnya.

"Budaya bukanlah beban. Ia adalah sayap yang bisa membawaku terbang lebih tinggi, asal aku mau memeluknya dengan bangga." — Elsa Japasal

Inspirasi untuk Generasi yang Haus Identitas

Kini, Elsa tidak hanya tampil di kafe-kafe, tetapi juga di acara-acara budaya dan festival musik. Setiap penampilannya selalu diiringi narasi singkat tentang makna kain yang ia kenakan. "Aku ingin penonton pulang dengan pertanyaan, bukan sekadar kepuasan visual. Pertanyaan seperti, 'Oh, ternyata batik bisa dipakai seperti ini juga ya?'," ujarnya.

Ia juga aktif membagikan proses kreatifnya di media sosial, dari memilih kain hingga sesi fitting. Banyak komentar positif datang, terutama dari anak-anak muda yang merasa terinspirasi. "Ada yang bilang, 'El, aku jadi berani pakai kebaya ke kondangan.' Itu membuatku bangkit lagi setiap kali lelah," tuturnya.

Elsa percaya, budaya bukanlah sesuatu yang beku. Ia bisa bernapas, berubah, dan menyatu dengan zaman. "Gen Z itu kritis dan kreatif. Kalau kita bisa mengemas budaya dengan cara yang relevan, mereka akan menjadi penjaga budaya yang paling setia," pungkasnya.

Malam semakin larut, tetapi Elsa masih tersenyum di ruang ganti. Ia merapikan lipatan kain tenun yang kini menjadi bagian dari identitasnya. Di luar, beberapa penggemar menunggu untuk berfoto. Ia melangkah keluar, mengenakan korset bunga yang sama, dan menyapa mereka dengan hangat. Di balik gemerlap panggung, ada kisah sederhana tentang seorang anak muda yang berjuang untuk tidak melupakan akar, sambil tetap melangkah ke masa depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User