Di sudut panggung megah BAFTA 2026 yang riuh oleh lampu sorot, EJAE berdiri memegang mikrofon dengan jemari yang nyaris tak bisa ia kendalikan. Ribuan mata memandangnya, tetapi hanya satu tatapan yang tiba-tiba menahan napasnya: Leonardo DiCaprio, duduk di barisan depan, menatapnya lurus-lurus saat nada pertama lagu Golden mengalun.
Momen itu, kata EJAE kemudian, terasa seperti adegan film yang ia tonton ribuan kali semasa kecil. "Jantungku seperti berhenti," ujarnya mengisahkan detik-detik itu dengan suara yang masih bergetar. "Aku hanya berpikir, jangan salah nada. Jangan menangis dulu."
Perjalanan Panjang Menuju Sorotan Dunia
Panggung BAFTA bukanlah tujuan yang tiba-tiba. Di balik penampilan memukau itu, tersimpan perjalanan panjang yang jarang terlihat mata. EJAE mengisahkan bagaimana ia menghabiskan ribuan jam di ruang latihan berukuran kecil, mengulang gerakan dan nada hingga keringat serta air mata bercampur menjadi satu.
"Orang melihat hasilnya di panggung, tapi tidak melihat malam-malam ketika aku berjuang melawan rasa ragu," katanya. "Aku pernah hampir menyerah, berkali-kali. Tapi mimpiku selalu lebih besar dari ketakutanku."
Sekejap yang Menghentikan Waktu
Ketika lagu dari KPop Demon Hunters (2025) itu mulai dimainkan, EJAE mengaku seluruh tubuhnya bergetar. Ia sudah tampil di banyak panggung besar, tetapi BAFTA adalah level yang berbeda. Dan kehadiran Leonardo DiCaprio di barisan depan membuat semuanya terasa jauh lebih nyata.
"Aku tidak sengaja menoleh, dan mataku bertemu dengan matanya," tuturnya. "Dia tersenyum kecil sambil mengangguk, seperti memberi semangat. Saat itu aku sadar, ini bukan sekadar penampilan. Ini momen yang akan kukenang seumur hidup."
Penonton yang hadir menyaksikan bagaimana EJAE menyelesaikan penampilannya dengan penuh penghayatan, seolah seluruh perjalanan hidupnya mengalir lewat setiap nada. Di balik layar, sebagian kru mengaku ikut terharu melihat perubahan ekspresi di wajahnya ketika ia menyadari siapa yang sedang menatapnya dari kursi paling depan.
Mimpi yang Terus Menyala
Bagi EJAE, tatapan itu bukan sekadar momen mengharukan yang lewat begitu saja. Ia menceritakan bahwa ia tumbuh dengan menonton film-film DiCaprio, dan sosok aktor tersebut adalah bagian dari mimpi-mimpinya sejak kecil.
"Aku pernah bilang pada ibuku, suatu hari aku akan tampil di panggung sebesar ini dan bertemu orang-orang hebat," kenangnya. "Saat itu ibuku hanya tertawa. Tapi hari ini, tawa itu berubah menjadi air mata bangga."
Kisah EJAE mengajarkan sesuatu yang sederhana namun menyentuh: bahwa perjalanan setiap orang dimulai dari mimpi yang kecil, yang dirawat dengan kesabaran dan kerja keras. Tidak ada yang instan. Di balik gemerlap panggung, selalu ada perjuangan yang tidak terlihat.
"Aku ingin kisah ini menjadi inspirasi bagi siapa pun yang sedang berjuang," ujarnya. "Tatapan itu mengingatkanku bahwa tidak ada yang mustahil. Jika aku bisa berdiri di sini, kamu juga bisa sampai ke sana — di mana pun 'sana' itu berada."
Malam itu, ketika lampu panggung mulai meredup, EJAE berjalan turun dengan langkah yang berbeda. Ia mengaku sempat mengirim pesan singkat kepada ibunya: "Ibu, tadi aku bertatap mata dengan Leonardo DiCaprio." Balasan sang ibu hanya satu kalimat yang membuatnya tersenyum di sela air mata: "Aku selalu tahu, nak. Sejak dulu."
Comments (0)