Aug 25, 2026
entertainment

Dituding Berpihak, Denny Sumargo Buka Suara dengan Hati

Malam itu, di studio sederhana yang biasa menjadi saksi berbagai kisah hidup para bintang tamunya, Denny Sumargo duduk lebih lama dari biasanya. Layar ponselnya menyala redup, memantulkan ratusan kome...

Dituding Berpihak, Denny Sumargo Buka Suara dengan Hati

Malam itu, di studio sederhana yang biasa menjadi saksi berbagai kisah hidup para bintang tamunya, Denny Sumargo duduk lebih lama dari biasanya. Layar ponselnya menyala redup, memantulkan ratusan komentar yang membanjiri unggahan podcastnya. Jari-jarinya berhenti di satu kalimat yang membuatnya menarik napas panjang: tudingan bahwa dirinya telah berpihak dalam pusaran persoalan rumah tangga Sarwendah dan Ruben Onsu.

Bagi pria yang akrab disapa Densu ini, tudingan semacam itu bukan sekadar komentar lewat. Ia mengisahkan, setiap tamu yang hadir di kursi podcastnya bukanlah bahan pergunjingan, melainkan manusia dengan luka dan perjuangannya masing-masing. Kali ini, ketika Sarwendah dan kuasa hukum Ruben Onsu hadir secara bergantian di ruang yang sama, badai justru datang dari luar studio.

Badai yang Datang dari Kolom Komentar

Semua bermula dari dua episode yang tayang berurutan. Episode pertama menghadirkan Sarwendah, yang berbicara dari sudut pandangnya sebagai seorang ibu. Tak lama berselang, giliran pengacara Ruben Onsu yang menyampaikan sisi lain dari kisah yang sama. Niat menghadirkan keseimbangan itu justru ditafsirkan berbeda oleh sebagian warganet.

Kolom komentar berubah menjadi medan perang. Ada yang menuduh Densu membela satu pihak, ada pula yang menilai podcastnya ikut memanaskan situasi. Di balik layar, Denny mengaku sempat terdiam membaca derasnya tudingan tersebut, sebelum akhirnya memutuskan untuk angkat bicara.

"Saya ini hanya menyediakan ruang. Orang datang, bercerita, saya dengarkan. Kalau dua-duanya saya undang, kenapa justru saya yang dituduh berpihak?"

Kalimat itu meluncur bukan dengan nada marah, melainkan dengan keheranan seorang pendengar yang merasa niat baiknya disalahpahami. Ada kejujuran di sana, ada pula sedikit kelelahan yang tak ia sembunyikan.

Ruang untuk Dua Sisi Cerita

Perjalanan Denny Sumargo membangun podcastnya tidaklah singkat. Dari sosok atlet basket yang banting setir ke dunia hiburan, ia belajar satu hal sederhana: setiap orang berhak didengar. Prinsip itulah yang ia pegang teguh ketika memutuskan menghadirkan kedua belah pihak yang tengah berseteru.

Menurutnya, kehadiran Sarwendah dan pengacara Ruben Onsu secara bergantian justru merupakan bentuk tanggung jawab. Ia tidak ingin publik hanya mendengar satu versi cerita lalu terburu-buru menghakimi. Baginya, keadilan selalu dimulai dari kesediaan untuk mendengar.

"Kalau saya hanya mengundang satu pihak, orang akan bilang saya berpihak. Kalau dua-duanya saya undang, tetap dibilang berpihak. Ya sudah, yang penting saya tahu niat saya apa," tuturnya dengan nada pasrah namun tetap teguh.

Bukan Hakim, Hanya Pendengar

Menghadapi gelombang tudingan, Denny memilih merespons dengan kepala dingin. Ia menegaskan bahwa dirinya bukan hakim yang berhak memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah dalam persoalan rumah tangga orang lain. Tugasnya, kata dia, hanyalah bertanya dan mendengarkan dengan tulus.

"Urusan mereka, biar mereka yang menyelesaikan. Saya tidak punya kapasitas menilai siapa yang benar. Yang saya tahu, keduanya sama-sama manusia yang sedang berjuang."

Pernyataan itu menyentuh banyak penggemarnya. Di tengah budaya warganet yang gemar membelah diri menjadi tim ini dan tim itu, sikap Densu menjadi pengingat sederhana: tidak semua hal harus dipilih sisinya. Ada kalanya, yang dibutuhkan hanyalah ruang aman untuk bercerita tanpa takut dihakimi.

Pelajaran dari Sebuah Badai Kecil

Kisah ini pada akhirnya bukan hanya tentang Denny Sumargo, Sarwendah, atau Ruben Onsu. Ini tentang bagaimana kita, sebagai penonton dan penikmat konten, kerap lupa bahwa di balik setiap layar ada manusia dengan perasaan yang sama rapuhnya. Sebuah komentar yang ditulis dalam hitungan detik bisa menjadi beban yang dipikul seseorang berhari-hari.

Denny sendiri memilih bangkit dari badai komentar itu dengan cara yang ia kenal baik: terus bekerja, terus mendengarkan, dan terus percaya bahwa niat baik pada akhirnya akan menemukan jalannya. Sebab baginya, menjadi pendengar yang jujur jauh lebih berharga daripada menjadi hakim yang paling keras suaranya.

Dan malam itu, setelah mematikan layar ponselnya, ia kembali ke meja kerjanya — mempersiapkan episode berikutnya dengan keyakinan yang sama: setiap kisah layak didengar, setiap manusia layak dimengerti.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User