Aug 25, 2026
entertainment

Dinda Kirana dan Perjalanan Emosional di Balik Layar Wajah Cinta yang Lain

Di sudut ruang rias berukuran tiga kali empat meter itu, Dinda Kirana menatap bayangannya sendiri di depan cermin yang diterangi lampu temaram. Di luar sana, kru sinetron Wajah Cinta yang Lain sudah b...

Dinda Kirana dan Perjalanan Emosional di Balik Layar Wajah Cinta yang Lain

Di sudut ruang rias berukuran tiga kali empat meter itu, Dinda Kirana menatap bayangannya sendiri di depan cermin yang diterangi lampu temaram. Di luar sana, kru sinetron Wajah Cinta yang Lain sudah bersiap di lokasi syuting, menunggu aktris kelahiran 1998 itu menuntaskan riasan terakhirnya. Beberapa detik ia menarik napas panjang, menyimpan seluruh kegelisahan, lalu berjalan keluar dengan senyum yang sudah ia siapkan sejak pagi. Momen kecil yang tampak sederhana itu adalah bagian dari rutinitas panjang yang ia jalani demi menghadirkan karakter yang kini melekat di hati pemirsa SCTV.

Mengisahkan Cinta yang Berbeda dari Biasanya

Sinetron Wajah Cinta yang Lain mengisahkan pergulatan batin seseorang yang harus memilih antara kebahagiaan diri sendiri dan kepentingan orang-orang yang ia cintai. Lewat produksi Sinemart, Dinda dipercaya memerankan tokoh yang hidup di tengah pusaran cinta, luka lama, dan rahasia yang perlahan terkuak. Bagi Dinda, karakter ini bukan sekadar peran di atas kertas. Ia menyebutnya sebagai perjalanan paling menantang dalam kariernya, sebab tuntutan emosionalnya begitu dalam dan nyaris menyentuh sisi personalnya sendiri.

Dalam wawancara di sela-sela syuting, Dinda mengaku sering membawa pulang perasaan karakternya. Ada malam-malam ketika ia sulit tidur karena memikirkan nasib tokoh yang ia perankan. "Aku belajar bahwa mencintai itu tidak selalu tentang memiliki. Kadang, cinta yang paling tulus justru datang dari keikhlasan untuk melepaskan," ujarnya pelan, matanya berkaca-kaca. Kalimat itu ia lontarkan bukan sekadar dialog, melainkan pelajaran hidup yang ia resapi selama berbulan-bulan menghidupkan tokohnya di layar kaca.

Perjuangan di Balik Layar yang Jarang Terlihat

Di balik layar, perjuangan Dinda tidak pernah semulus adegan yang tampak di televisi. Jam syuting yang panjang, adegan menangis yang diulang berkali-kali demi satu sorot kamera, hingga latihan dialog di sela waktu istirahat menjadi rutinitas yang ia jalani dengan sepenuh hati. Dinda mengisahkan bahwa salah satu adegan paling mengharukan diambil pada pukul tiga pagi, saat tubuhnya sudah lelah namun emosinya justru harus berada di puncak. "Ada kalanya air mata itu keluar bukan karena akting, tapi karena lelah dan perasaan yang benar-benar teraduk," kenangnya sambil tersenyum tipis.

Namun dari kelelahan itulah ia menemukan makna baru tentang profesinya. Dinda merasa beruntung karena lewat sinetron ini ia bisa belajar memahami orang lain lebih dalam. Ia menyebut pengalaman beradu peran dengan para pemain senior sebagai sekolah kehidupan yang tidak ia dapatkan di bangku kuliah. Setiap arahan sutradara, setiap improvisasi lawan main, menjadi catatan kecil yang ia simpan rapi untuk tumbuh menjadi aktris yang lebih baik.

Bangkit dari Keraguan dan Mengejar Mimpi

Perjalanan Dinda menuju panggung ini tidak selalu mulus. Ia mengisahkan masa-masa ketika keraguan pernah hampir mengalahkan mimpinya. Ada tahun-tahun sulit di awal karier, ketika tawaran datang dan pergi, dan ketika ia sempat bertanya-tanya apakah dirinya cukup layak berdiri di antara para aktris berbakat lainnya. "Aku sempat berpikir untuk berhenti. Tapi ibuku selalu bilang, orang yang berjuang tidak akan pernah tersesat selama ia masih tahu arah mimpinya," tuturnya, suaranya bergetar mengingat pesan sang ibu.

Dari titik itulah ia bangkit. Dinda menjadikan setiap kritik sebagai bahan bakar, setiap penolakan sebagai pelajaran, dan setiap peran kecil sebagai batu pijakan. Kini, melihat namanya dipercaya membawa sinetron produksi besar, ia mengaku tidak pernah berhenti bersyukur. "Mimpi itu sederhana sebenarnya. Aku hanya ingin setiap peran yang kupercayakan bisa menjadi inspirasi bagi penonton, terutama mereka yang sedang berjuang di titik terendah hidupnya," ujarnya.

Momen Menyentuh dari Penonton Setia

Bagi Dinda, apresiasi terbesar tidak datang dari piala atau penghargaan, melainkan dari pesan-pesan kecil penonton yang tiba di media sosialnya. Ada seorang ibu yang bercerita bahwa adegan Dinda membantunya berdamai dengan masa lalu. Ada pula remaja yang mengaku mendapat keberanian untuk memaafkan ayahnya setelah menonton sinetron ini. Setiap pesan seperti itu, kata Dinda, selalu berhasil membuatnya meneteskan air mata di sela kesibukan syuting.

"Ketika seseorang bilang tontonan ini menyentuh hatinya, rasanya semua kelelahan di lokasi syuting langsung terbayar lunas," katanya. Ia berharap Wajah Cinta yang Lain bukan sekadar hiburan malam, melainkan cermin kecil yang mengajak penonton merenungkan arti cinta, pengampunan, dan keberanian untuk memulai lembaran baru. Dari sebuah ruang rias kecil hingga layar kaca yang dinikmati jutaan pasang mata, kisah Dinda Kirana adalah pengingat bahwa di balik setiap adegan selalu ada manusia yang berjuang, bermimpi, dan belajar mencintai. Itulah keindahan yang ia ingin terus bagikan, satu episode demi satu episode.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User