Langkah kaki mereka terdengar pelan saat memasuki lorong Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (22/7). Di tengah hiruk-pikuk ruang hukum yang sibuk, dua sosok yang dulu merajut mimpi bersama itu kini hadir dalam peran yang berbeda: Sarwendah dan Ruben Onsu, bukan lagi sebagai pasangan, melainkan sebagai dua orang tua yang sama-sama menginginkan yang terbaik bagi buah hati mereka. Sidang mediasi yang digelar siang itu menjadi babak baru dalam perjalanan panjang rumah tangga mereka yang telah berakhir, namun kisah mereka belum sepenuhnya usai karena menyangkut tiga pasang mata polos yang menanti kepastian.
Di balik pintu ruang mediasi, perbincangan tidak hanya berkisar pada pasal-pasal hukum. Lebih dari itu, ini adalah pertemuan dua hati yang ingin memastikan bahwa perpisahan tidak akan merenggut kebersamaan mereka dengan anak-anak. Suasana di dalam ruangan terasa berat, namun penuh harap.
Perjalanan Menuju Meja Mediasi
Persidangan itu bukan sekadar agenda hukum biasa. Ini adalah puncak dari serangkaian perdebatan yang telah berlangsung secara tertutup. Sejak perceraian mereka disahkan, isu mengenai hak asuh anak menjadi salah satu topik paling sensitif yang enggan banyak dibicarakan di hadapan publik. Namun, ketika perbedaan pandangan semakin sulit dijembatani, jalur hukum menjadi pilihan terakhir yang harus mereka tempuh.
Mediasi merupakan langkah awal sebelum hakim memutuskan untuk membuka persidangan secara terbuka. Dalam proses ini, kedua belah pihak duduk bersama dengan didampingi mediator yang netral. Tujuannya bukan untuk mencari siapa yang kalah atau menang, melainkan untuk merumuskan kesepakatan terbaik bagi anak-anak yang menjadi pusat perhatian. Sarwendah hadir dengan membawa keyakinan bahwa kehadiran seorang ibu sangat vital dalam tumbuh kembang anak. Sementara itu, Ruben datang dengan tekad yang sama kuatnya—bahwa ia pun memiliki hak dan tanggung jawab yang tidak bisa dipisahkan begitu saja dari kehidupan putra-putrinya.
Proses ini memakan waktu cukup lama. Beberapa kali, ekspresi tegang tampak dari raut wajah mereka saat berjalan keluar untuk rehat sejenak. Meski tidak banyak komentar yang terucap, gestur tubuh mereka berbicara banyak: ada keteguhan, namun juga ada kelelahan yang dalam.
Satu Meja, Dua Harapan yang Sama
Yang menarik dari persidangan ini adalah bahwa baik Sarwendah maupun Ruben sejatinya memiliki tujuan yang identik: memastikan anak-anak mereka tumbuh dalam cinta yang utuh. Namun, cara pandang yang berbeda dalam mewujudkan tujuan itulah yang mempertemukan mereka di ruang sidang. Sarwendah, yang selama ini dikenal dekat dengan anak-anak, ingin agar stabilitas emosional mereka tetap terjaga. Sementara itu, Ruben, sebagai seorang ayah, merasa kehadirannya tidak tergantikan dalam membentuk karakter anak-anaknya.
Seorang sumber yang dekat dengan proses mediasi mengungkapkan bahwa pembicaraan berlangsung cukup alot namun tetap dalam koridor saling menghormati. "Mereka berdua sangat mencintai anak-anak. Tidak ada yang ingin saling menjatuhkan. Hanya saja, memang perlu waktu untuk menemukan titik temu yang bisa diterima semua pihak," ujar sumber tersebut.
Di ruang tunggu yang sunyi, Sarwendah duduk dengan pandangan lurus ke depan. Tidak ada air mata yang jatuh, namun sorot matanya menyimpan ribuan kata. Di sudut lain, Ruben berbicara pelan dengan kuasa hukumnya, sesekali mengangguk mendengar penjelasan tentang kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Momen ini menjadi potret bisu tentang bagaimana pertarungan hak asuh anak bukanlah tentang siapa yang berhak memiliki anak, melainkan tentang bagaimana anak-anak bisa tetap memiliki kedua orang tuanya meski mereka tidak lagi bersama.
Mengutamakan Kepentingan Anak di Atas Segalanya
Dalam setiap kasus hak asuh, pengadilan selalu menempatkan kepentingan anak sebagai prioritas utama. Mediasi ini bukan hanya tentang membagi waktu atau menentukan di mana anak-anak akan tinggal. Lebih jauh, ini adalah upaya merajut kembali pola pengasuhan yang sempat terkoyak oleh perceraian. Harapan terbesar dari proses ini adalah agar anak-anak tidak merasa kehilangan salah satu sosok yang mereka cintai.
Hakim dan mediator terus mendorong kedua pihak untuk berkompromi. Bukan dengan mengorbankan hak masing-masing, tetapi dengan menciptakan ruang di mana kedua orang tua bisa tetap berperan aktif. Para psikolog anak sering kali menekankan bahwa yang dibutuhkan oleh anak-anak korban perceraian bukanlah perebutan, melainkan konsistensi dan kehadiran yang menenangkan. Pesan inilah yang agaknya coba ditanamkan dalam setiap sesi pembicaraan.
Menjelang sore, sidang mediasi ditutup untuk sementara. Belum ada kesepakatan final yang diumumkan, namun kabar menyebutkan bahwa ada perkembangan positif ke arah sana. Sarwendah meninggalkan ruang sidang dengan langkah tenang, sementara Ruben menyusul beberapa saat kemudian. Tidak ada pernyataan panjang yang diberikan kepada awak media. Hanya senyum tipis yang tersirat di wajah mereka, seolah ingin meyakinkan bahwa apa pun hasilnya nanti, anak-anak akan tetap menjadi pemenang dalam kisah ini.
Proses ini akan terus berlanjut, namun satu hal yang pasti: cinta mereka kepada anak-anak tidak pernah berhenti. Mungkin, dari ruang sidang sederhana di Jakarta Selatan inilah, sebuah harapan baru mulai tumbuh—bahwa perpisahan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari cara baru untuk tetap menjadi orang tua yang utuh.
Comments (0)