Pagi baru saja membuka matanya ketika aroma jeruk nipis dan kunyit menyeruak dari dapur berukuran tiga kali empat meter di bilangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Di sudut ruangan itu, Mak Sari, perempuan 62 tahun dengan kerudung cokelat andalannya, sudah berdiri di depan wajan sejak pukul lima subuh. Tangannya yang keriput tampak cekatan membersihkan ikan kembung segar yang baru dibelinya dari pedagang langganan.
"Ikan kembung itu kayak manusia," katanya sambil tersenyum tipis. "Kalau kita sabar merawatnya, dia akan membalas dengan rasa yang baik."
Perjalanan Panjang dari Dapur Sederhana
Mak Sari mengisahkan, empat puluh tahun silam ia bukanlah siapa-siapa. Hanya seorang ibu muda yang nekat membuka warung makan kecil bermodal tiga meja kayu dan resep warisan mendiang ibunya. Ikan kembung goreng menjadi menu andalan karena harganya bersahabat bagi kantong buruh dan karyawan yang menjadi pelanggannya.
Namun perjalanan itu tak selalu mulus. Pada tahun-tahun pertama, tak jarang ia mendapati pelanggan mengernyitkan dahi. Bau amis yang menempel pada ikan gorengnya membuat sebagian orang enggan kembali. "Ada bapak-bapak yang bilang, ikan saya enak, tapi bau amisnya nempel di tangan sampai sore," kenangnya dengan tawa kecil yang menyimpan getir.
Momen itu menjadi titik balik. Malam-malam berikutnya ia habiskan untuk berjuang mencari cara: mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Hingga akhirnya ia menemukan kunci yang selama ini tersembunyi di balik layar kesederhanaan dapurnya.
"Bau amis itu bukan musuh. Dia cuma tanda bahwa kita belum cukup telaten membersihkan. Ibu saya dulu berpesan, bersihkan ikan seperti membersihkan hati — pelan-pelan, sampai ke dalam."
Rahasia Menghilangkan Bau Amis ala Mak Sari
Menurut Mak Sari, sumber bau amis sesungguhnya bersembunyi di tiga tempat: insang, isi perut, dan darah yang membeku di sepanjang tulang punggung ikan. Karena itu, ia tak pernah lelah mengingatkan anak dan menantunya untuk membersihkan ketiganya hingga benar-benar tuntas di bawah air mengalir.
Setelah bersih, ikan dilumuri garam dan perasan jeruk nipis, lalu didiamkan sepuluh hingga lima belas menit. "Jangan buru-buru digoreng. Biarkan dulu jeruknya bekerja," ujarnya. Bila jeruk nipis sedang mahal, cuka dapur bisa menjadi pengganti yang setia.
Sentuhan berikutnya adalah kunyit dan jahe yang diparut halus, dicampur bawang putih, kemudian dibalurkan ke seluruh permukaan ikan. Bumbu sederhana itu, katanya, bukan sekadar pengharum, melainkan doa yang dibisikkan ke dalam masakan. Ada pula trik kecil yang ia pelajari dari pengalamannya bertahun-tahun: merendam ikan sebentar dalam susu cair bila ingin aroma amisnya hilang nyaris tanpa jejak.
Ia juga berpesan soal memilih ikan di pasar. Mata yang jernih, insang merah segar, dan daging kenyal saat ditekan adalah tanda ikan masih layak dibawa pulang. "Ikan segar itu setengah perjuangan. Sisanya adalah ketelatenan kita," katanya.
Warisan yang Terus Hidup
Kini, warung kecil itu tak pernah sepi. Antrean mengular setiap jam makan siang, dan ikan kembung goreng Mak Sari selalu habis paling dulu. Yang lebih membahagiakan hatinya, putri bungsunya, Dewi, kini mulai berdiri di sampingnya setiap pagi, belajar membersihkan ikan dengan cara yang sama seperti yang dulu diajarkan neneknya.
Di tengah kepulan asap wajan, ada momen mengharukan yang kerap terulang: Mak Sari memperhatikan tangan putrinya yang masih kaku, lalu menggenggamnya perlahan. Air mata kadang jatuh tanpa izin ketika ia teringat ibunya. "Saya dulu diajari begini. Sekarang saya menurunkannya. Semoga Dewi nanti juga begitu," ucapnya lirih.
Bagi Mak Sari, menghilangkan bau amis ikan kembung bukan sekadar trik dapur. Ia adalah kisah tentang kesabaran, tentang bangkit dari kegagalan kecil, dan tentang mimpi sederhana seorang ibu yang ingin masakannya diterima dengan hangat. Dari dapur mungil di Pasar Minggu itu, inspirasi mengalir pelan-pelan — sehangat kuah sayur yang selalu ia hidangkan dengan senyum.
Comments (0)