Aug 25, 2026
entertainment

Di Balik Tangga Tua Puncak, Secangkir Kopi Kenangan Soekarno

Kabut pagi belum sepenuhnya pergi dari lereng Puncak ketika Samsul Bahri (52) menyalakan tungku kecil di kedainya. Satu per satu, ia menyusun cangkir kaleng di atas meja kayu yang permukaannya telah m...

Di Balik Tangga Tua Puncak, Secangkir Kopi Kenangan Soekarno

Kabut pagi belum sepenuhnya pergi dari lereng Puncak ketika Samsul Bahri (52) menyalakan tungku kecil di kedainya. Satu per satu, ia menyusun cangkir kaleng di atas meja kayu yang permukaannya telah menghitam dimakan usia. Di luar sana, hamparan kebun teh Riung Gunung tampak seperti permadani hijau yang basah oleh embun. Bagi orang yang lewat, tempat ini nyaris tak terlihat — tersembunyi di balik tangga batu panjang yang menurun dari tepi jalan raya. Namun justru di situlah, di sudut yang misterius itu, tersimpan sebuah kisah yang menyentuh hati siapa pun yang mendengarnya.

Untuk mencapai kedai kopi ini, pengunjung harus menuruni puluhan anak tangga yang sebagian telah berlumut. Tidak ada papan nama besar, tidak ada kerlap-kerlip lampu. Hanya suara jangkrik dan aroma kopi yang menguar tipis, menjadi penunjuk jalan paling jujur. Banyak orang menyebutnya hidden gem, tetapi bagi Samsul, tempat ini adalah rumah — sekaligus amanah yang ia pikul dengan penuh cinta.

Tangga Tua yang Menyimpan Jejak Sang Proklamator

Samsul mengisahkan, warisan itu bermula dari sang kakek yang puluhan tahun silam membuka warung kopi sederhana di tepi kebun teh. Menurut cerita yang diwariskan keluarganya, Presiden pertama Indonesia, Soekarno, konon pernah singgah dan menikmati secangkir kopi di tempat ini dalam salah satu lawatannya ke kawasan Puncak. Sang proklamator disebut terpesona oleh ketenangannya — jauh dari hiruk-pikuk, hanya ditemani kabut dan deru angin pegunungan.

"Kakek saya selalu bilang, Bung Karno duduk di kursi kayu itu, memandang kebun teh sambil menyeruput kopi. Beliau berkata, kopi di sini terasa berbeda karena diminum dengan hati yang tenang," tutur Samsul, matanya berkaca-kaca mengenang cerita yang sejak kecil ia dengar berulang kali.

Kisah itu mungkin tak tercatat dalam buku sejarah mana pun. Namun bagi keluarga Samsul, itu adalah pusaka yang tak ternilai harganya. Kursi kayu tua yang diyakini pernah diduduki Soekarno hingga kini masih dirawat dengan telaten, diletakkan di sudut kedai menghadap langsung ke hamparan kebun teh — seolah waktu enggan bergerak dari sana.

Berjuang Menjaga Api Warisan Keluarga

Perjalanan mempertahankan kedai ini tidak selalu mudah. Ketika kopi kekinian menjamur di sepanjang jalur Puncak, kedai tua di balik tangga itu nyaris tenggelam. Samsul sempat goyah. Hasil berjualan tak seberapa, sementara biaya perawatan bangunan tua terus membengkak. Ada masa ketika ia hanya melayani dua atau tiga tamu dalam sehari, ditemani sunyi dan kepulan asap tungku.

Namun setiap kali niat menyerah itu datang, ia selalu teringat pesan ayahnya sebelum wafat: jangan biarkan tungku ini padam. Momen mengharukan itulah yang membuatnya bangkit. Perlahan, ia membenahi kedai tanpa mengubah kesederhanaannya — memperbaiki atap yang bocor, mengecat ulang dinding kayu, tetapi membiarkan kursi tua dan tungku tanah liat tetap pada tempatnya, seperti wasiat yang tak boleh dilanggar.

"Saya pernah ditawari pindah ke atas, dekat jalan, biar ramai. Tapi saya tolak. Nilai tempat ini justru karena tersembunyinya. Orang yang mau berjuang menuruni tangga, dialah yang akan paling menikmati kopinya," katanya sambil tersenyum.

Secangkir Kopi dan Mimpi yang Sederhana

Kini, ketekunan itu mulai berbuah. Para pelancong yang penasaran perlahan berdatangan, menuruni tangga demi tangga, lalu terpana oleh pemandangan yang menyambut mereka di bawah. Banyak yang datang karena ingin melihat jejak Soekarno, tetapi pulang membawa sesuatu yang lebih dalam: ketenangan yang sulit ditemukan di kota.

Di balik layar kesederhanaan kedai ini, Samsul menyimpan mimpi yang tidak muluk-muluk. Ia ingin tempat ini tetap hidup hingga anak cucunya kelak, menjadi jembatan antara generasi masa kini dan cerita masa lalu. Baginya, kopi hanyalah perantara — yang sesungguhnya ia jaga adalah ingatan tentang seorang pemimpin besar yang pernah menemukan kedamaian di tempat kecil ini.

Senja mulai turun ketika saya meniti kembali anak tangga menuju jalan raya. Dari undakan terakhir, saya menoleh sekali lagi. Lampu kecil di kedai Samsul menyala hangat di tengah kabut yang kembali turun. Di sanalah, di balik tangga tua Puncak, secangkir kopi terus diseduh — bersama kisah, air mata, dan inspirasi yang tak pernah dingin dimakan waktu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User