Oct 15, 2026
entertainment

Di Balik Sukses Box Office Other Mommy, Kritikus Menilai Film Ini Kehilangan Nyali

Di sebuah bioskop di kawasan Jakarta Selatan, tawa lepas terdengar dari beberapa penonton yang baru saja menyelesaikan sesi film Other Mommy. Adegan yang seharusnya membuat bulu kuduk berdiri justru d...

Di Balik Sukses Box Office Other Mommy, Kritikus Menilai Film Ini Kehilangan Nyali

Di sebuah bioskop di kawasan Jakarta Selatan, tawa lepas terdengar dari beberapa penonton yang baru saja menyelesaikan sesi film Other Mommy. Adegan yang seharusnya membuat bulu kuduk berdiri justru disambut gelak tawa. Momen itu menjadi semacam potret kecil dari apa yang kemudian menjadi perbincangan hangat di kalangan pencinta film: sebuah karya horor yang digadang-gadang mengerikan, namun gagal membangun ketegangan yang utuh.

Meski begitu, Other Mommy mencatatkan pencapaian yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Film ini berhasil menarik perhatian pasar dan meraup angka penjualan tiket yang mengesankan. Antusiasme penonton di sejumlah kota terlihat dari ramainya pembelian tiket pada pekan-pekan awal penayangan. Namun, cerita di balik layar kesuksesan komersial itu berbanding terbalik dengan respons para pengamat film.

Skor 16 Persen yang Menjadi Sorotan

Sejumlah kritikus yang telah menonton Other Mommy ramai-ramai mengutarakan kekecewaan mereka. Rata-rata penilaian yang terkumpul hanya mencapai angka 16 persen, sebuah cap yang terbilang pahit bagi film bergenre horor. Bagi para pengamat, angka itu bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari perjalanan naratif yang dinilai tidak berhasil membangun rasa takut secara konsisten.

“Saya datang dengan ekspektasi tinggi, tapi pulang dengan perasaan hampa. Film ini seperti kehilangan arah di tengah jalan,” ujar seorang kritikus film yang telah lama mengulas karya horor, mengisahkan pengalamannya saat menonton. Ia menyoroti bagaimana Other Mommy lebih sering mengandalkan kejutan mendadak ketimbang membangun atmosfer mencekam yang berkelanjutan.

“Rasa takut itu bukan soal seberapa keras suara yang muncul, tapi seberapa dalam cerita itu menyentuh sisi gelap dalam diri penonton,” tuturnya dengan nada kecewa.

Kritik serupa datang dari sejumlah pengulas lain. Mereka menilai bahwa potensi besar yang dimiliki Other Mommy tidak tergarap maksimal. Alih-alih mengeksplorasi konflik batin tokoh utama, film ini justru terjebak pada pola-pola yang sudah sering dijumpai di genre serupa.

Ketika Pasar dan Selera Kritikus Tak Sejalan

Fenomena ini bukan hal baru dalam dunia perfilman. Sebuah film bisa saja menuai pujian dari penonton awam, namun dicibir para kritikus, atau sebaliknya. Namun bagi sebagian orang, celah antara sukses box office dan penilaian kritis pada Other Mommy menyisakan pertanyaan tentang apa yang sebenarnya dicari penonton hari ini.

Di sebuah kafe di Yogyakarta, seorang penonton setia bernama Rani mengaku tetap menyukai film itu meski mendengar banyak kritik. “Buat saya, yang penting bisa menghibur dan bikin deg-degan sesaat. Mungkin saya bukan penonton yang terlalu kritis,” katanya sambil tersenyum. Pengakuan sederhana itu menunjukkan bahwa selera penonton memang beragam, dan tidak selalu sejalan dengan standar para pengamat.

Meski demikian, para kritikus berharap Other Mommy bisa menjadi pelajaran berharga bagi industri film horor tanah air. Mereka menekankan pentingnya naskah yang kuat dan pengadeganan yang membangun ketegangan secara bertahap, bukan sekadar mengandalkan teror mendadak yang cepat dilupakan.

Perjalanan Sebuah Karya yang Masih Mencari Bentuk

Di balik semua perdebatan itu, ada tim produksi yang telah berjuang keras mewujudkan Other Mommy. Mereka menghabiskan waktu berbulan-bulan dalam proses syuting, sering kali harus bekerja hingga dini hari demi mengejar adegan yang diinginkan. Air mata dan keringat tercurah dalam setiap prosesnya, meski hasil akhirnya belum sepenuhnya memuaskan banyak pihak.

Seorang anggota kru yang enggan disebut namanya mengisahkan bahwa semangat tim tetap membara meski tahu film ini mendapat banyak cibiran. “Kami sudah memberikan yang terbaik. Kalau ada yang kurang, itu jadi bahan belajar untuk proyek berikutnya,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Baginya, kritik adalah bagian dari perjalanan panjang sebuah karya.

Pada akhirnya, Other Mommy menjadi potret bagaimana sebuah film bisa memicu beragam reaksi. Di satu sisi ia berhasil mendatangkan penonton, tetapi di sisi lain ia mengingatkan bahwa membangun rasa takut yang sejati memerlukan lebih dari sekadar formula. Kisah ini menyisakan satu harapan: agar dunia perfilman Indonesia terus tumbuh, bangkit dari setiap kritik, dan tak pernah berhenti mencari bentuk terbaiknya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User