Oct 10, 2026
entertainment

Di Balik Meja Makan Nunung, Sepinya Dagangan dan Kisah Pilu yang Tak Terlihat

Di sudut kota Solo, Jawa Tengah, ada sebuah warung makan sederhana yang biasanya ramai oleh tawa dan cerita para pelanggan. Namun belakangan ini, kursi-kursi kayu di sana lebih sering kosong. Nunung, ...

Di Balik Meja Makan Nunung, Sepinya Dagangan dan Kisah Pilu yang Tak Terlihat

Di sudut kota Solo, Jawa Tengah, ada sebuah warung makan sederhana yang biasanya ramai oleh tawa dan cerita para pelanggan. Namun belakangan ini, kursi-kursi kayu di sana lebih sering kosong. Nunung, perempuan paruh baya yang dikenal luas lewat layar kaca, hanya bisa menatap meja-meja itu dengan mata yang menyimpan lelah. Ia mengisahkan bahwa bisnis kulinernya kini tidak lagi seramai dulu. Sepi itu datang tanpa kabar, tanpa alasan yang jelas, seperti tamu tak diundang yang menguras harapan.

“Sekarang mah sepi, Mbak. Kadang saya cuma bisa duduk sendirian di sini,” ujar Nunung dengan suara pelan, seraya menyeka sudut matanya. Momen mengharukan itu ia ceritakan bukan untuk mencari simpati, melainkan sebagai pengakuan jujur bahwa perjalanan usaha tak selalu seindah yang terlihat di televisi.

Sepi yang Datang Tanpa Peringatan

Nunung bercerita, warungnya dulu selalu dipenuhi pelanggan setia. Aroma bumbu rempah yang menyengat dari dapur kecilnya menjadi penanda bahwa ia masih berjuang. Namun, beberapa bulan terakhir, jumlah pengunjung merosot drastis. Ia menduga hal itu bukan semata soal selera, melainkan ada situasi yang lebih rumit—termasuk kabar miring yang sempat menerpanya.

“Dulu tiap hari bisa habis sepuluh kilo beras. Sekarang, setengahnya saja susah,” katanya. Nunung tak menyebut angka pasti, tapi getar di suaranya cukup menjelaskan beban yang ia tanggung. Ia harus tetap menggaji dua pegawai, membayar sewa tempat, dan menghidupi keluarga. Di balik layar, ia mengaku sempat berpikir untuk menyerah. “Tapi saya ingat, ini satu-satunya warisan yang bisa saya banggakan,” tambahnya.

Kisah Pilu di Balik Tuduhan

Bukan hanya soal dagangan yang loyo, Nunung juga sempat menjadi korban kabar bohong yang menyakitkan. Ia mengaku pernah dituduh melakukan hal yang tak pernah ia lakukan. Air mata pun tak terbendung saat ia mengenang masa-masa itu. “Ada orang yang tega menuduh saya macam-macam. Saya dikatakan seperti orang yang sudah tidak waras,” ujarnya lirih.

Bahkan, ia mengaku pernah dilempar dengan tanah kuburan oleh orang tak dikenal. Perjalanan hidupnya seolah diuji dari segala arah. Namun, Nunung memilih untuk bangkit dan tidak membalas dengan kebencian. “Saya maafkan. Mungkin mereka tidak tahu apa yang saya rasakan,” katanya.

Berjuang dari Dapur Kecil

Di balik dinding warung yang mulai usang, Nunung masih menyimpan mimpi. Ia ingin kembali melihat pelanggannya tertawa lepas sambil menyantap masakan rumahan yang ia racik dengan cinta. “Saya ingin warung ini hidup lagi. Bukan untuk saya, tapi untuk anak-anak saya,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Kisah Nunung adalah potret nyata bahwa inspirasi tak selalu lahir dari kesuksesan besar. Kadang, ia hadir dari kesederhanaan seorang perempuan yang menolak menyerah meski dunia seolah menutup pintu. Di Solo, di sudut warung itu, Nunung masih menyalakan kompor setiap pagi—sebuah harapan kecil yang ia jaga agar tetap menyala.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User