Di Balik Layar Suanggi: Dom Dharmo dan Perjuangan Melawan Stigma

Ruangan konferensi pers itu terasa sesak, bukan hanya oleh para pewarta yang memadati setiap sudut, melainkan oleh bobot emosi yang menggantung di udara. Rabu siang, 15 Juli 2026, Dom Dharmo berdiri d...

Jul 18, 2026 - 21:53
0 0
Di Balik Layar Suanggi: Dom Dharmo dan Perjuangan Melawan Stigma

Ruangan konferensi pers itu terasa sesak, bukan hanya oleh para pewarta yang memadati setiap sudut, melainkan oleh bobot emosi yang menggantung di udara. Rabu siang, 15 Juli 2026, Dom Dharmo berdiri di hadapan lautan kamera dan mikrofon. Wajahnya tenang, namun sorot matanya menyimpan getar yang sulit disembunyikan. Ia bukan sekadar aktor yang tengah mempromosikan film terbarunya. Di panggung kecil itu, ia adalah seorang pembawa pesan—tentang luka, tentang bayang-bayang, dan tentang keberanian untuk menghadapi sesuatu yang selama ini dipendam dalam diam.

Awal dari Sebuah Perjalanan

Proyek Suanggi bermula bukan dari ambisi komersial semata. Naskahnya lahir dari perbincangan panjang antara sutradara dan sejumlah penulis yang menghabiskan waktu berbulan-bulan di pelosok Indonesia timur. Mereka mendengarkan cerita-cerita yang berbisik di antara warga—kisah-kisah tentang suanggi, entitas yang dalam kepercayaan lokal sering kali diasosiasikan dengan ilmu hitam dan malapetaka. Namun, semakin dalam mereka menggali, semakin jelas bahwa yang sesungguhnya menghantui bukanlah makhluk gaib itu sendiri. Yang sesungguhnya menakutkan adalah stigma yang dilekatkan kepada manusia-manusia yang dituduh sebagai pelakunya.

Dom Dharmo sendiri mengaku bahwa tawaran untuk membintangi film ini datang di saat yang tepat. “Saya sedang dalam fase mempertanyakan banyak hal,” ujarnya lirih di hadapan wartawan. “Ketika membaca naskahnya untuk pertama kali, saya terdiam cukup lama. Bukan karena takut, tapi karena saya merasa cerita ini perlu diceritakan. Ada banyak orang di luar sana yang hidup dalam ketakutan, terisolasi, hanya karena mitos yang tak mereka pahami.”

Baginya, Suanggi bukan sekadar film horor. Ini adalah sebuah perjalanan emosional yang menuntutnya menyelami sisi-sisi paling gelap dari pengalaman manusia: dicurigai, dijauhi, dan dihakimi tanpa bukti. Untuk mempersiapkan peran, Dom menghabiskan waktu berminggu-minggu tinggal bersama komunitas yang pernah mengalami langsung dampak dari tuduhan-tuduhan semacam itu. Ia mendengar langsung kesaksian mereka—tangis, amarah, dan juga harapan yang nyaris padam.

Momen yang Mengubah Perspektif

Dalam sesi tanya jawab, seorang jurnalis bertanya tentang adegan tersulit selama proses syuting. Dom terdiam sejenak. Ia menatap ke kejauhan, seolah memutar kembali rekaman di benaknya. “Ada satu adegan di mana karakter saya harus menyaksikan seseorang yang sangat ia cintai diusir dari kampung halaman mereka sendiri,” katanya pelan. “Di lokasi syuting, kami menghadirkan warga sekitar sebagai figuran. Dan ketika adegan itu berlangsung, saya melihat air mata di mata mereka. Mereka bukan akting. Itu adalah luka yang nyata, yang mungkin sudah mereka pendam bertahun-tahun.”

Sutradara film ini mengatakan bahwa pendekatan produksi memang sengaja melibatkan partisipasi aktif masyarakat lokal. Bukan hanya untuk keperluan teknis, tetapi lebih dari itu: untuk memberikan ruang bagi suara-suara yang jarang terdengar. “Kami ingin film ini menjadi cermin,” jelas Dom. “Bukan cermin yang memperlihatkan monster, melainkan cermin yang memantulkan betapa mudahnya kita sebagai manusia menciptakan monster dari sesama kita sendiri.”

Di tengah konferensi pers, beberapa kali Dom menyeka sudut matanya. Ia tak berusaha menyembunyikan kerentanannya. Justru di situlah kekuatannya terpancar: seorang aktor yang membiarkan dirinya tersentuh oleh kisah yang ia bawakan, sehingga setiap dialog dan gestur di layar lahir dari tempat yang jujur.

Harapan di Balik Kegelapan

Meskipun Suanggi menyelami tema-tema berat, Dom Dharmo menekankan bahwa film ini sesungguhnya membawa pesan harapan. “Kami tidak ingin penonton pulang dengan perasaan ngeri atau putus asa,” tegasnya. “Yang kami tawarkan adalah sebuah undangan untuk merenung: sudahkah kita melihat manusia di balik label-label yang kita tempelkan? Sudahkah kita mendengarkan sebelum menghakimi?”

Ia bercerita tentang seorang ibu di salah satu desa terpencil yang, setelah bertahun-tahun hidup dalam stigma sebagai keturunan suanggi, akhirnya berani berbicara kepada tim produksi. “Ibu itu bilang, selama ini tidak ada yang mau mendekat, tidak ada yang mau mendengar. Tapi ketika kami datang dan hanya duduk diam mendengarkan, ia menangis. Ia bilang, ini pertama kalinya ada orang luar yang memperlakukannya seperti manusia.”

Cerita itu menjadi bahan bakar bagi Dom untuk memberikan penampilan terbaiknya. Ia tidak ingin mengecewakan mereka yang telah membuka hati dan membagikan kisah paling pribadi. Setiap kali kelelahan melanda selama syuting di lokasi yang sulit dijangkau, Dom mengingat wajah-wajah itu. Wajah-wajah yang mengajarkan kepadanya arti ketahanan dan martabat.

Suanggi dijadwalkan akan tayang secara nasional pada akhir tahun 2026. Namun jauh sebelum tanggal rilis, film ini sudah menjadi lebih dari sekadar produk hiburan. Ia adalah surat cinta bagi mereka yang terpinggirkan, sebuah panggilan untuk berhenti menuding dan mulai merangkul. Dom Dharmo, dengan ketenangan dan kedalaman yang ia bawa ke atas panggung konferensi pers itu, telah membuktikan bahwa sinema dapat menjadi alat perubahan sosial yang ampuh—bukan dengan menggurui, melainkan dengan menyentuh hati.

Hari mulai sore ketika konferensi pers berakhir. Para wartawan meninggalkan ruangan dengan catatan dan rekaman, namun beberapa di antara mereka tampak berdiam sejenak di lobi, masih meresapi apa yang baru saja mereka saksikan. Di tengah hiruk-pikuk industri hiburan yang kerap disibukkan oleh gemerlap dan sensasi, sore itu Jakarta menyaksikan sesuatu yang berbeda: sebuah kisah tentang kemanusiaan yang memilih untuk bersuara, pelan namun pasti, melalui medium yang paling menyentuh dari semuanya—cerita.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User