Di sebuah sudut studio yang lampunya menyala terang, aroma kopi dan kabel-kabel bergelung di lantai menjadi saksi bisu perjalanan panjang sebuah band yang telah melewati berbagai musim. Pada Kamis, 25 Juli 2019, Ariel, David, dan Lukman berdiri di hadapan kamera, bukan sekadar sebagai musisi, melainkan sebagai tiga sahabat yang tengah mengisahkan bab baru dalam perjalanan mereka.
Suasana di Musica Studio, Jakarta Selatan, sore itu terasa berbeda. Tidak ada sosok Muhammad Kautsar Hikmat—yang akrab disapa Uki—di antara mereka. Gitaris yang biasa mengisi melodi-melodi tajam itu absen dari pengambilan gambar video klip single terbaru berjudul Wanitaku. Ruang yang biasanya riuh dengan tawa dan gurauan antar personel kini menyisakan sebuah keheningan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Ketika Panggung Berbicara Lebih Keras dari Kata
Ariel tampak duduk di kursi lipat, sesekali menunduk dan menyusun lirik dalam benaknya. Di balik sorot lampu yang menerpa wajahnya, ia tetap profesional menjalani setiap arahan sutradara. Namun bagi mereka yang jeli, ada sesuatu yang berbeda. Tatapan matanya tidak hanya menyimpan cerita tentang lagu, tetapi juga tentang persahabatan yang sedang diuji oleh waktu.
"Kami di sini untuk berkarya, untuk terus memberi yang terbaik bagi orang-orang yang mencintai musik kami," ujar Ariel dengan suara lembut, seolah mewakili isi hati ketiganya.
David sesekali tertawa lepas saat jeda pengambilan gambar. Ia bahkan sempat melempar candaan kepada kru yang membuat suasana kembali hangat. "Santai aja, ini kan cuma soal angle," katanya sambil tersenyum. Namun di balik kelakar itu, ada keinginan kuat untuk menunjukkan bahwa NOAH tetap berdiri, terlepas dari siapa pun yang ada atau tidak ada di dalam frame.
Lukman, yang dikenal paling pendiam, memilih duduk di pojok ruangan. Jari-jarinya sesekali mengetuk meja mengikuti irama yang hanya ia dengar. Ia mengisahkan bahwa proses syuting kali ini jauh lebih sunyi dibandingkan dengan video-video klip mereka sebelumnya. Bagi Lukman, setiap lagu adalah doa yang dikirim kepada pendengar, dan itu yang membuatnya tetap bertahan.
Ruang Kosong yang Berbicara tentang Perubahan
Nama Uki memang tak muncul dalam susunan pengambilan gambar hari itu. Kabar soal absennya sang gitaris sudah bukan rahasia lagi. Namun, ketiadaan itu bukan berarti kematian sebuah perjalanan. Justru dari ruang kosong itulah, ketiga personel yang tersisa belajar untuk bangkit dan menata ulang mimpi mereka.
Seorang kru yang enggan disebut namanya mengungkapkan bahwa suasana syuting kali ini sempat diwarnai momen mengharukan. "Ada jeda panjang sebelum take terakhir. Ariel sempat menatap bangku gitar yang kosong, lalu menghela napas. Setelah itu ia kembali tersenyum dan bilang, 'Ayo kita lanjut'," kenangnya.
Proses kreatif di balik lagu Wanitaku sendiri konon berjalan cukup panjang. Lirik yang ditulis Ariel menceritakan tentang sosok perempuan yang memberi kekuatan di tengah keterpurukan. Beberapa sumber menyebut bahwa lagu ini menjadi salah satu cara mereka untuk berterima kasih kepada para penggemar yang setia menemani perjalanan NOAH selama bertahun-tahun.
Perjalanan yang Tak Pernah Usai
Di sudut ruangan berukuran tak terlalu luas itu, terlihat tumpukan lembaran storyboard dengan tulisan tangan. Ada bekas cangkir kopi, ada pula gitar akustik yang bersandar di dinding. Semuanya berbicara tentang kerja keras yang sederhana, tanpa gemerlap berlebihan. Ariel berulang kali meminta agar pencahayaan dibuat lebih natural. Ia ingin video ini terasa jujur, seperti cerita yang mengalir apa adanya.
"Kami tidak ingin berpura-pura. Kami hanya ingin menyampaikan rasa," ujarnya singkat saat ditanya soal konsep video.
Pengambilan gambar berlangsung hingga larut. Ketika lampu akhirnya dimatikan satu per satu, Ariel, David, dan Lukman berjalan berdampingan menuju pintu studio. Tidak ada sorak-sorai, tidak ada selebrasi. Hanya langkah kaki yang beradu dengan lantai dan suara tawa tipis yang menyiratkan harapan.
Video klip Wanitaku mungkin hanya potongan kecil dari perjalanan panjang sebuah band. Namun di baliknya, tersimpan kisah tentang persahabatan yang berjuang, tentang air mata yang tak terlihat kamera, dan tentang mimpi yang enggan padam meski satu nama telah pergi. NOAH bukan sekadar trio yang bernyanyi; mereka adalah tiga manusia yang memilih untuk terus melangkah, dengan atau tanpa bayang-bayang masa lalu.
Sore itu, Jakarta mungkin tak menyadari bahwa di sebuah studio kecil, tiga sahabat tengah menuliskan bab yang paling menyentuh dari kisah mereka. Dan bagi siapa pun yang pernah kehilangan, lagu ini akan terasa seperti pelukan yang lama dinanti.
Comments (0)